Install TWRP di Xiaomi Redmi Note 2

Mungkin banyak agan-agan yang kesulitan untuk install TWRP di Xiaomi Redmi Note 2. Atau Tiba-tiba ketika di updgrade ROM MIUI nya ke MIUI 7, tiba tiba recoverynya balik lagi ke Mi Recovery. Terus pas mau install gak berhasil berhasil, atau terakhir, berhasil tapi ketika restart tiba-tiba balik lagi ke Mi Recovery. Kan Sedih. Baik berikut cara simpel install via fastboot, ketika saya mencoba sendiri ternyata lumayan mudah. Berikut langkah-langkahnya :

Continue reading

Optimalkan Sinyal HH Android

Tips singkat saja, mungkin anda sering nih butuh speed donlod atau kecepatan akses data yang cepat. Sedangkan sinyal Handheld anda berada pada ranah GALAU. Sebentar H+, H, 3G, G, kadang sampai pada kasta terhina di E (edge). Yaa, sulit untuk tetap menjaganya tetap stabil karena yang ngurus itu kan provider kita, bukan mbah mbok kita Open-mouthed smile

Cuma, dari pengalaman sih seringnya pada daerah yang dapat H, jarang tuh nyungsep sampe ke kasta terhina, E -Edge-. Palingan 3 kasta menengah sinyal H, 3G dan G sering berganti2 pada daerah2 rawan berobah2 kualitas sinyal. Tenang, ada tips pada daerah yang tidak stabil untuk tetap membuat ia stabil minimal pada jaringan 3G.

 

Continue reading

Dhuha

Setiap salah seorang di antara kamu memasuki pagi harinya, pada setiap ruas tulangnya ada peluang sedekah; setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap hamdalah (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, semua itu cukup tergantikan dengan dua rakaat dhuha.

(HR Muslim, hadits no. 720).

Do’a Ramadhan Jibril AS?

Setiap kali Ramadhan agan datang, bertubi-tubilah sms2 masuk kehape kita masing-masing. Tentu tentang Ramadhan pastinya. Tentang keutamaan, tentang maaf-maafanan, motifasi, dan semua-muanya tetek bengek Ramadhan. Semuanya ditumpahkan dengan berbagai cara dan beragam tingkat keseriusan, melalui guyonan dan candaan, pantun-pantun keprofesian sesuai dengan profesi pengirim yang –maaf- kadang terlalu dipaksa-paksakan, atau bahkan dengan sedikit kesan serius semisal mengutip ayat alqur’an atau hadits. Tak ada sebenarnya salah, adanya hanya celah untuk salah.

Kalau tentang bahasan sms2an guyonan, apakah dia motifasi dan lainnya, sudah tidak asing bagi kita. bahkan dari 3 tahun sebelumnya bisa jadi, tak ada modifikasi pada ucapan ramadhannya, Tak juga masalah :). Hanya saja saya sekedar mengigatkan kalau tahun hijriahnya jangan lupa diedit :p .

Continue reading

Dukun Ansor

Ini adalah cerita tentang maqam –tempat/tingkatan-. Tentang akses seseorang kepada tuhannya. Semua memanggilnya Kiyai. Tapi aku menyimpelkan namanya dengan dukun. Ini adalah tentang keistimewaannya bagi semua orang yang memanggilnya Kiyai. Tapi bagiku, ini adalah kegoblokannya menjadi dukun.

Sebut saja namanya Dukun Ansor. Walaupun semua memanggilnya dengan Kiyai, bagiku agak janggal kalau dipanggil kiyai. Sangat janggal malahan. Semua, dikampungnya begitu mengagungkannya. Tentang hak-hak istimewa yang katanya tuhan berikan padanya,-katanya-. Bahwa sholatnya cukup dalam ingatan saja. Bahwa puasanya menahan marah saja, dan jumatan nya selalu di Mekkah, tapi jasadnya di Indonesia. aya aya wae..

Tentang jumatannya, menjadi hal menarik setidaknya bagiku. Bagaimana mungkin bisa berpisah jasad dan ruh, dan pergi sholat. Kalau jasad dan ruh berpisah, bukan lagi menjadi kewajiban baginya untuk sholat. Tapi wajib disholatkan tentu lebih benar. hehe 🙂

Continue reading

Pegangan Hidup, HAMKA (Sebuah telaah Dzikir Ma’tsurat)

HAMKA Allahumma Inni a’udzubikaminal hamni wal hazan. Waa’udzubika minal ajzi wal kasal. Wa a ‘udzubika minal jubni wal bughl. Waa’udzubika min gholabatiddaini wa qahrirrijal..

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung padaMu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung padaMu dari dilingkupi hutang dan dominasi manusia.

Semoa kita akrab dengan doa tersebut. Doa yang senantiasa dilafalkan dalam dzikir Al-Matsurat tersebut, menjadi doa rutinitas yang dilafalkan Rasulullah. Lantas, sekarang kita akan mencoba mendengarkan bahasan dari Buya Hamka, mengenai bahasan tersebut.  Lengkap, dan dengan kekhasan sasta yang tinggi dari buya Hamka. Dengan bahasan yang sistematis, ada beberapa hal yang kita berlindung pada Allah tas hal tersebut:

1. Dari pada kesusahan, apabila orang telah susah, pikirannya akan tertumbuk. manusia tidak berjalan pada tempat yang datar saja. Mendatar, melereng, mendaki, menurun. Lantas apa yang disusahkan? Tak ada kusut yang tak selesai. Tak ada keruh yang tak jernih.

2. Dari pada duka cita, banyak hal yang menyebabkan dukacita. Kehilangan orang yang dicintai, barang yang dicari tak bertemu, dan lain lain. Kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap.

3. Dari pada lemah, lemah pikiran, tidak ada inisiatif, menyerah saja. Belum dihadapi suatu masalah, hati sudah mulai lemah.

4. Dari pada malas, angan angan banyak, tapi cita-cita mati. Angan-angan mau terbang, tapi sayap tidak punya. Ada pepatah orang tua-tua kita zaman penjajahan dulu kata Buya Hamka, ” mati belanda karena pangkat, mati cina karena kaya, mati keling karena makanan, mati melayu (Indonesia) karena angan-angan”

5. Dari pada sifat pengecut, yang menjadikan separoh dari kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah sangat bagus diungkapkan Buya Hamka disini. Semoga semakin menambah penasaran kita untuk kemudian mengunduh file audionya.

6. Dari pada sifat kikir, dikumpulkan harta banyak-banyak dengan maksud untuk menguasai harta. Akhirnya ia yang akan dikuasai oleh harta. Siang malam disibukkan harta, akhirnya faedahnya tidak didapat.

7. Dari pada hutang, maka Rasulullah pernah berkata, “iyyakum waddaina, Fainnahu hammum billaili, wamadzallatun finnahari”. Jagalah, sebisa mungkin tidak berhutang. Hutang itu, susah pada malam hari, Kalau siang hari badan terasa hina

8. Dari pada Dominasi manusia, tidak lagi punya kemerdekaan pribadi. personality yang dapat tegak, bak kata buya Hamka. Diri menjadi terjajah.

Dengan bahasan yang apik dan sebab musabab lahirnya do’a ini, Buya Hamka memberikan korelasi yang tepat diantara delapan hal diatas. Dengan rasionalisasi sempurna saya rasa. Sungguh, bahasa yang indah diungkapkan Buya Hamka, lengkap dengan kisah penuh hikmah. Tidaklah terlalu berlebihan, jika pada akhirnya gelar sastrawan, ulama, budayawan disandingkan pada Buya Hamka..

Silakan unduh file audionya, transfer dari pita kaset. Insya Allah, asli suara Buya Hamka (walaupun saya tidak pernah mendengar langsung suara Buya Hamka. hh 🙂 ). Semoga, jauh lebih gamblang dan detail dari pada ringkasan yang saya buat. Unduh disini saja.

Belajar Dari Burung dan Cacing *

Bila  kita  sedang  mengalami  kesulitan  hidup  karena  himpitan kebutuhan
materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita  lihat  burung  tiap  pagi  keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak  terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.  Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang
dan  bisa  membawa  makanan  buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup  buat  keluarganya,  sementara ia harus puasa. Bahkan seringkali ia pulang  tanpa  membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus berpuasa.

Meskipun  burung  lebih  sering  mengalami  kekurangan makanan karena tidak punya  kantor  yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia,  namun  yang  jelas  kita  tidak  pernah  melihat  ada burung yang berusaha  untuk  bunuh  diri.  Kita  tidak  pernah  melihat ada burung yang tiba-tiba  menukik  membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat  ada  burung  yang   tiba-tiba  menenggelamkan diri ke sungai.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.  Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.  Kita  lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

Tampaknya  burung  menyadari  benar  bahwa  demikianlah  hidup, suatu waktu berada  diatas  dan  dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan  di  lain  waktu  kekurangan.  Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang  marilah  kita  lihat  hewan  yang  lebih lemah dari burung, yaitu
cacing.  Kalau  kita  perhatikan,  binatang ini seolah-olah tidak mempunyai
sarana  yang  layak  untuk  survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai
kaki,  tangan,  tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.
Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia  mempunyai  perut  yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat  ,  dengan  segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi  untuk  mencari  rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang  kita  lihat  manusia.  Kalau  kita  bandingkan dengan burung atau
cacing,  maka  sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih
canggih.   Tetapi   kenapa  manusia  yang  dibekali  banyak  kelebihan  ini
seringkali  kalah  dari  burung  atau  cacing ? Mengapa manusia banyak yang
putus  asa  lalu  bunuh  diri  menghadapi kesulitan yang dihadapi ? Padahal
rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

*) Sebuah Catatan Tak Bertuan

Ada apa di Zulhijjah??

Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.

 

DiZulhijjah, ada epik sejati Ibrahim dan Ismail

DiZulhijjah, ada ketulusan Cinta Siti Hajar

DiZulhijjah, ada ketulusan dan pengorbanan Ismail

DiZulhijjah, ada mutiara ketaatan Ibrahim

DiZulhijjah Qta, telah adakah epik sejati sesejatinya Ibrahim, ketulusan cinta setulusnya  cinta Siti Hajar, Mutiara ketaatan Ibrahim, atau ketulusan pengorbanan Ismail?? Semoga ada yang bisa kita petik dari Indahnya Syiroh Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail..

NB: Zulhijjah telah Terhitung