Lucu saja pagi ini, buzzer-buzzer dan endorser-endorser fulitik yang abaikan firman Allah akhirnya takut juga nggak disholatin jenazahnya sebagaimana agama ini ajarkan.
Dari kemaren, seharian penuh misuh-misuh didunia maya tanah air, membully – mengkritisi kebijakan dari sebuah masjid di DKI dalam bentuk selebaran -tanpa stempel dan sejenisnya sebagai penguat legalitas- yang menyinggung preferensi pulitiknya. Atau mungkin bisa juga menyinggung periuk berasnya.

Ketika dirilis menteri agama tentang selebaran – yang seharian sudah mereka bully- tersebut adalah hoax, mereka bersyukur. Ternyata mereka takut juga jika jenazahnya tak diselenggarakan sebagaimana layaknya jenazah muslim ntar kalau sudah meninggal.

Malahan, puncak kelucuan tersebut ketika buzzer-buzzer endorser-endorser pilkada tersebut mengecam dan mengingatkan dengan dalil “bahwa kalian semua menanggung dosa kami, karena menyelenggarakan jenazah kami adalah fardhu kifayah untuk kalian…”

Takut perkara matinya gak diurus sesuai Qur’an dan Sunnah, tapi semasa hidup abai dan cenderung rendahkan keduanya.
Agaknya mereka lupa bahwa Al Qur’an itu tak hanya untuk panduan prosesi penyelengaraan orang “mati” saja. Ia panduan hidup, bahkan untuk hidup yang sebenar-benarnya hidup, hidup setelah mati.

Itulah buzzer-buzzer, endorser-endorser fulitik. Anomali, standar ganda, cagak duo kalau orang Padang bilang… 😅

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s