Pegangan Hidup, HAMKA (Sebuah telaah Dzikir Ma’tsurat)

HAMKA Allahumma Inni a’udzubikaminal hamni wal hazan. Waa’udzubika minal ajzi wal kasal. Wa a ‘udzubika minal jubni wal bughl. Waa’udzubika min gholabatiddaini wa qahrirrijal..

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung padaMu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung padaMu dari dilingkupi hutang dan dominasi manusia.

Semoa kita akrab dengan doa tersebut. Doa yang senantiasa dilafalkan dalam dzikir Al-Matsurat tersebut, menjadi doa rutinitas yang dilafalkan Rasulullah. Lantas, sekarang kita akan mencoba mendengarkan bahasan dari Buya Hamka, mengenai bahasan tersebut.  Lengkap, dan dengan kekhasan sasta yang tinggi dari buya Hamka. Dengan bahasan yang sistematis, ada beberapa hal yang kita berlindung pada Allah tas hal tersebut:

1. Dari pada kesusahan, apabila orang telah susah, pikirannya akan tertumbuk. manusia tidak berjalan pada tempat yang datar saja. Mendatar, melereng, mendaki, menurun. Lantas apa yang disusahkan? Tak ada kusut yang tak selesai. Tak ada keruh yang tak jernih.

2. Dari pada duka cita, banyak hal yang menyebabkan dukacita. Kehilangan orang yang dicintai, barang yang dicari tak bertemu, dan lain lain. Kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap.

3. Dari pada lemah, lemah pikiran, tidak ada inisiatif, menyerah saja. Belum dihadapi suatu masalah, hati sudah mulai lemah.

4. Dari pada malas, angan angan banyak, tapi cita-cita mati. Angan-angan mau terbang, tapi sayap tidak punya. Ada pepatah orang tua-tua kita zaman penjajahan dulu kata Buya Hamka, ” mati belanda karena pangkat, mati cina karena kaya, mati keling karena makanan, mati melayu (Indonesia) karena angan-angan”

5. Dari pada sifat pengecut, yang menjadikan separoh dari kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah sangat bagus diungkapkan Buya Hamka disini. Semoga semakin menambah penasaran kita untuk kemudian mengunduh file audionya.

6. Dari pada sifat kikir, dikumpulkan harta banyak-banyak dengan maksud untuk menguasai harta. Akhirnya ia yang akan dikuasai oleh harta. Siang malam disibukkan harta, akhirnya faedahnya tidak didapat.

7. Dari pada hutang, maka Rasulullah pernah berkata, “iyyakum waddaina, Fainnahu hammum billaili, wamadzallatun finnahari”. Jagalah, sebisa mungkin tidak berhutang. Hutang itu, susah pada malam hari, Kalau siang hari badan terasa hina

8. Dari pada Dominasi manusia, tidak lagi punya kemerdekaan pribadi. personality yang dapat tegak, bak kata buya Hamka. Diri menjadi terjajah.

Dengan bahasan yang apik dan sebab musabab lahirnya do’a ini, Buya Hamka memberikan korelasi yang tepat diantara delapan hal diatas. Dengan rasionalisasi sempurna saya rasa. Sungguh, bahasa yang indah diungkapkan Buya Hamka, lengkap dengan kisah penuh hikmah. Tidaklah terlalu berlebihan, jika pada akhirnya gelar sastrawan, ulama, budayawan disandingkan pada Buya Hamka..

Silakan unduh file audionya, transfer dari pita kaset. Insya Allah, asli suara Buya Hamka (walaupun saya tidak pernah mendengar langsung suara Buya Hamka. hh🙂 ). Semoga, jauh lebih gamblang dan detail dari pada ringkasan yang saya buat. Unduh disini saja.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s