Pulang ke Kampung Akhirat? Lha, Perginya kapan?

Kita berjalan, pergi dan kemudian menutupnya dengan kepulangan. Inilah siklus perjalanan. Kita kan kembali pada titik dimana kita mulai beranjak. Sejatinya begitu. Setiap yang pergi ke Jogja, bakal pulang dari Jogja. Setiap yang pulang dari Medan, pasti sebelumnya telah pergi ke Medan.

Lumrah saja jika kembali mengingat bait-bait petuah orang tua kita, “pai tampak pungguang, pulang tampak muko” (Pergi tampak punggung, pulang tampak muka”). Karena titik kembali itu adalah titik dimana kita memulai. Lantas kita sering mendengar pulang ke kampung akhirat? Perginya kapan? Kok tiba-tiba langsung pulang saja tanpa pernah pergi ke kempung akhirat? Kok ada pulang tanpa pernah pergi? Perginya kapan? Jawaban simpel, bingung dan membingungkan dari saya bahwa perginya di dunia. Pulangnya lah ke kampung akhirat.

Continue reading

Pulang Kampung

Edisi #twitsampah twitter @chat2610 Open-mouthed smile

 

jembatan

[1] Sesulit apapun tuk pulang kampung, yakinlah kau pasti kan pulang kampung. Minimal ke kampung akhirat. Berbekallah. Okesip #twitsampah #NtMS

[2] Setiap pulang kampung, semua kan tagih oleh2mu. Pun kampung akhirat. Kau sudah siapin oleh2 apa? Senyum doang? Mana bisa #twitsampah #NtMS

[3] Hari ini pulkam masih bisa ngomong “BUKANKAH KEPULANGANKU SUDAH MENJADI OLEH2”. Di kampung akhirat sepertinya lain cerita #twitsampah #NtMS

[4] Yuk. Yang mau pulkam, berbekallah. Sebaik-baik bekal adalah taqwa. Watwazawwadu, fainna khairazzadittaqwa. QS: Albaqarah 197 #NtMS

[5] Taqwa adalah oleh-oleh yang semua menyukainya. Kekampung mana pun kau kan pulang. Okesip, sway #twitsampah #NtMS

 

Catatan untuk diri sendiri.

source image : http://2.bp.blogspot.com/-RWJFk_erYDE/UMh7QoH-AwI/AAAAAAAAFUE/qjMu2M6Un8Y/s1600/3509_499541433401488_56516450_n+(1).jpg

Orang Bodoh

-Aj halunnaa si man taroka yaqiina maa ‘indahuli zhonni maa ‘indannaas-

“Sebodoh-bodoh manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinan yang sungguh-sungguh ada padanya, karena menurut sangkaan yang ada pada orang lain”

Al Hikam, 155, Ibn Attho’ilah.

Unik

20120705_073721

Saya dapat kenang-kenangan dari seorang teman satu departemen di Teknik Mesin USU dan satu kepengurusan di organisasi ekstra kampus ketika kuliah dulu. Bagus banget, kalender global dari Shanghai yang bukan hanya untuk satu tahun dua tahun, bukan juga bisa untuk hanya belasan tahun. Tapi puluhan tahun.

Bayangkan, disana kita bisa melihat kalender sampe ke tahun 2055. Canggih bukan?

Saya hanya bertanya saja, adakah “jatah”  saya masih sempat suatu saat melihat kalender itu sampai pada 2055?

 

-bilikOB-

Kritik

 

Kritik kadang jadi hobi, pada lain waktu ia jadi kebiasaan, pada tingkat akut sampai-sampai ia jadi kebutuhan.

Kritik ia punya ruang, punya space untuk kita perhatikan. Kadang memang perlu kita ambil pusing atas kritik, dan kadangnya lagi ada yang tak perlu kita ambil pusing Smile

Continue reading

Antara Sarung dan Karung

Ali terkejut, seseorang telah mengkritiknya tentang kenyamanan dalam pemerintahannya. Dengan membandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, khalifah yang mulia Abu Bakar dan Umar. Kami dengar dan rasakan begini2 ketika zaman Abu Bakr dan Umar, sementara kami begini begitu dizamanmu.

images

Ali hanya tersenyum dan kemudian menjawab ringan saja, bahwa dizaman (Abu Bakr dan Umar) orang-orangnya sepertiku, sedang dizamanku orang2nya sepertimu Open-mouthed smile

Inilah jalannya, tak bisa disamakan. Itulah zamannya tak bisa disetarakan. Tiap waktu punya tantangan2 tersendiri, punya rupa-rupa beban tersendiri.

Semirip dan nyaris serupa sekalipun, tetap tak bisa disamakan. Semisal mengkomparasikan sarung dengan karung. Tak bijak saja. Meskipun sama punya ruang, sama punya celah tetap saja ia beda. Fungsinya beda, dipakainya beda, yang masuk kedalamnya pun beda.

Bahkan pada nama yang hampir sama sekalipun semisal sarung dan karung tadi. beda S dan K saja, sehuruf saja. Tetap saja ia tak sama. Meskipun hanya beda2 dikit, S huruf kedua dari kiri, dan K huruf kedua dari kanan. Meskipun ia sama-sama dua dari pinggir, tetap saja ia tak sama Sekali lagi,tetap saja, ia tak sama. Beda!

Dakwah, karakteristiknya punya jalan yang panjang. Bahkan bisa jadi ia lebih panjang dari jatah umur kita. Dijalan yang panjang itu, ruang waktu menjadikannya punya dinamika tersendiri. Wajar saja Ali RA, dengan sedikit guyonan memberikan jawaban bahwa tidak bisa disamakan lagi dengan Abu Bakar RA dan Umar RA.

Saya rasa guyonannya itu adalah jawaban tegas, bahwa setiap zaman punya tantangan tersendiri. Berhentilah bernostalgia, dulu begini, dulu begitu. Sekarang begini sekarang begitu. Kita bukan dilahirkan untuk hidup dimasa lalu, tapi disiapkan untuk masa ini dan masa yang akan datang.

Kullu zamanin ‘ala musykilatuha

–setiap zaman punya permasalahan tersendiri-

-Salam, Kamar OB- ini catatan untuk diri saya pribadi

Makanya tak pernah diijinkan balapan karung pake sarung

images

Kenapa Bukan Cermin Spion?

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin, orang2 anshor yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” QS Attaubah 117

Ini hanya twitsampah yang terserak saja, dicoba disusun ulang:

[1] Kenapa spion lebih kecil dari ruang pandang? Karna masa lalu hny cerminan, y kan kita lalui itu masa depan #twitsampah

[2] Meskipun untuk melihat kebelakang, spion tetap diletakkan didepan. Supaya kita tetap tak lupa arah yang dituju, Kedepan! #twitsampah

Continue reading

Tentang Zakat Profesi

[1] disebuah LAZ: Mbak, nanya nisab zakat penghasilan, gaji berapa ya jd wjib zakat? | *CS Zakat menjawab*Klw Dikalikan ke beras yang kita makan…..*dipotong*

[2] | Maaf mbak, kalikannya ke hati aja. Sehari-hari lebih sering makan hati dari pada makan beras. *pfftt* | CS nya bengong | ^)(*#’;&…

[3] heeh,jadi wajib zakat penghasilan itu setara 653 kg beras. Estimasinya, jika sekilo 5rb, yg minimal 3.265.000/bulan wajib zakat profesi

[4] twit [1] [2] hanya selingan pengantar, di point [3] ilmunya. point [4] penjelasan :). Selamat siang semuah-muah!

Kenapa Malaikat Tak Tampak?

Saya menemukan hikmah luar biasa pada perenungan singkat pagi ini tentang kenapa malaikat tak bisa kita lihat? Pertanyaan aneh tak aneh saya rasa, tapi saya punya jawaban sendiri setidaknya untuk konsumsi jiwa saya secara pribadi. Kalau yang lain kemudian sepakat dan merasa bisa mengambil manfaat pada hikmah yang saya dapatikali ini, dengan senang hati saya berbagi akan hikmah ini.

Ini hanya pertanyaan selentingan tentang kenapa malaikat tak bisa kita lihat? Paling, ketika ditanya kita sering balik bertanya tentang apa manfaatnya jika kita bisa melihat malaikat. Atau dengan pertanyaan senada, jika memang bisa melihat malaikat kita mau ngapain? Ahh, sudah banyak varian jawaban yang sudah saya lontarkan untuk pertanyaan senada dari dulunya…

Lantas? Hikmahnya?

Sekarang saya mendapati salah satu hikmah, kenapa malaikat tak bisa kita lihat. Ini tentang optimisme pertaubatan, kawan!

Malaikat adalah makhluk yang tak ada sedikitpun potensi pembangkangannya pada Tuhannya. Lantas, ia takkan melakukan pelanggaran yang kemudian bakal diganjar dosa. Beda sangat dengan kita. Rutinitas mereka adalah ketaatan sementara rutinitas kita adalah menghadirkan perang antara akal dan nafsu. Pada kali yang lain akal menang, diwaktu lainnya akal terjungkal. Beda sangat dengan malaikat.

Lantas apa hikmah itu? Yaa, tentang optimisme pertaubatan. Andai saja kita melihat malaikat hari ini dengan rutinitas ketaatannya, barangkali kita punya rujukan yang bakalan tak mampu tersaingi pada titik-titik ketaatannya. Ya, itulah malaikat. Sementara kita lautan tempat bermuaranya kesalahan dan dosa. Andai saja kita lihat malaikat, mungkin kita pesimis tentang diterima tidaknya pertaubatan kita. Mengingat bahwa ia menghadirkan perbandingan ketaatan  dengan manusia, ibarat langit dan bumi.
Mungkin saja dalam rasa pesimis itu, setan bermain. Via nafsu kita, anggapan tadi sesikit banyak diberikan legalitas oleh akal. Hingga akhirna, kita merasa mustahil taubat kita diterima oleh Allah. Permainan yang cantik dari setan…

Mungkin ini hanya salah satu hikmah, setidaknya bagi saya pribadi kenapa kita tak bisa melihat malaikat. Agar kita punya optimisme dalam setiap pertaubatan dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan. Andai saja kita bis melihat malaikat dalam aktifitas kesehariannya, ditambah lagi saham-saham setan melalui bisikannya, bukan tak mungkin kita pesimis pada setiap taubat dan penyesalan kita.

Nb: Via hp, sesuatu bgt ngetiknya. -tridharma 104-