Sari Roti, sebenarnya berhutang besar pada Nazaruddin. Ya,-Nazaruddin- politisi partai demokrat yang dalam pelariannya keluar negeri, ketika rekaman pembicaraannya dengan Iwan Piliang (kalau tidak salah) disiarkan di hampir seluruh siaran tivi-tivi nasional kala itu. Yaa, ditengah livenya, tiba-tiba terdengar Jingle Sari Roti berulangkali. Dari Jingle Sari Roti inilah, muncul spekulasi bahwa Nazaruddin tidak kemana-mana. Ia masih di Indonesia, bukan diluar negeri sebagaimana kabar yang beredar sebelumnya. Dan diulanglah setiap hari wawancara-wawancara dengan  narasumber beragam kompetensi, berbagai sudut pandang, dan Jingle Sari Roti terus mengudara dan dibicarakan. Sari Roti ‘ngiklan” gratis dalam waktu yang tidak sebentar di stasiun  TV tanah air. 

Beberapa waktu  setelah itu, Nazaruddin tertangkap dan dideportasi dari Colombia. Tanah air heboh hingga   sampai pada satu waktu, dalam sebuah wawancara ternyata salah satu wartawan menanyakan tentang Jingle Sari Roti yang dulu sempat heboh ketika ia berada dalam pelariannya. Ternyata itu adalah nada dering dari handphone Nazaruddin, yaa, ringtone… Disanalah analisis para pakar tentang spekulasi bahwa Nazaruddin masih berada ditanah air terbantahkan, mentah. Dan kembali, Sari Roti tetap jadi pembicaraan. Iklan Gratis (lagi)…

Tapi pointnya kali ini tidak di Nazaruddin,tidak di kasus korupsinya, dan tidak di demokratnya. Tapi di “Sari Rotinya”. Yaaa, Nazaruddin setidaknya punya saham untuk mengiklankan Sari Roti. Sari Roti yang dulu kita tidak pernah kenal, sekarang makin besar bisa jadi ada “saham”nya Nazaruddin disana.

Waktu bergulir beberapa tahun dari cerita Nazaruddin, Sari Roti semakin besar. Kejadian berulang, dalam panggung 212 sari roti beriklan gratis (lagi). Kembali menjadi buah bibir, kalau kata anak jaman sekarang, menjadi viral. Di share di social media, beriklan gratis, dan jadi pusat pembicaraan. Menjadi pusat pembicaraan tanpa keluar dana, Iklan gratis bukan? Namun, kemudian iklan gratisnya menjadi bumerang seiring keluarnya klarifikasi manajemen. Yaaa, tindakan manajemen dengan klarifikasi tersebut menurut pakar branding adalah tindakan yang kurang pas dan ceroboh. Tapi, bisa jadi manajemen punya pertimbangan tersendiri atas hal tersebut. 

HIngga kemudian muncul gerakan-gerakan kecil, sampai pada gerakan boikot sari roti segala. Entah siapa yang menggagas, tetapi semua pakar branding sependapat bahwa klarifikasi sari roti menjadi blunder fatal pihak manajemen. Beberapa hari belakangan, menjadi viral tentang kondisi Saham Sari Roti yang makin tidak membaik dari hari ke hari paska klarifikasi manajemen tersebut. Mari kita tunggu klarifikasi manajemen tentang kondisi tersebut, apakah memang terdampak klarifikasi paska 212?

Ahh… Inilah dunia maya, tak Nampak tapi berdampak. Tak nyata, tapi berasa. 

Nb: Yang Nulis lagi bantuin Sari Roti Iklan gratis juga… 😅

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s