Dukun Ansor

Ini adalah cerita tentang maqam –tempat/tingkatan-. Tentang akses seseorang kepada tuhannya. Semua memanggilnya Kiyai. Tapi aku menyimpelkan namanya dengan dukun. Ini adalah tentang keistimewaannya bagi semua orang yang memanggilnya Kiyai. Tapi bagiku, ini adalah kegoblokannya menjadi dukun.

Sebut saja namanya Dukun Ansor. Walaupun semua memanggilnya dengan Kiyai, bagiku agak janggal kalau dipanggil kiyai. Sangat janggal malahan. Semua, dikampungnya begitu mengagungkannya. Tentang hak-hak istimewa yang katanya tuhan berikan padanya,-katanya-. Bahwa sholatnya cukup dalam ingatan saja. Bahwa puasanya menahan marah saja, dan jumatan nya selalu di Mekkah, tapi jasadnya di Indonesia. aya aya wae..

Tentang jumatannya, menjadi hal menarik setidaknya bagiku. Bagaimana mungkin bisa berpisah jasad dan ruh, dan pergi sholat. Kalau jasad dan ruh berpisah, bukan lagi menjadi kewajiban baginya untuk sholat. Tapi wajib disholatkan tentu lebih benar. hehe🙂

Berikut kisahnya, tentang dialognya dengan orang2 yang menganggapnya kiyai. KA (singakatan Kiyai Ansor, bukan Kereta Api, bukan nama samaran ). Dialog ini terjadi setelah sholat juma’at minggu lalu dengan seseorang, sebut saja Parau (nasibnya, mirip namanya🙂 ).

Parau : Kiyai, jumatan dimana? gak nampak di masjid barusan?

KA : Oo, ini, saya barusan sholat dari Makkah. Baru aja nyampe sini lagi. Luar biasa, imamnya bacaaannya membuat sholat kita sangat khusyuk. (dengan tampang paok, sok meyakinkan)

Parau : Kiyai berangkat kapan? Kok cepat ya?

KA : Sama kita berangkatnya. Kalian berangkat tadi jumatan, saya pun bertolak ke mekkah. (semakin memperbodoh)

Parau : Wah, brangkat sama, pulangnya sama. Kiyai memang luar biasa. Seolah2, ke tanjungpura saja. ( mengagungkan kiyai sepenuh kebodohannya🙂 )

-sekian-

Ada beberapa pelajaran untukku, dan mungkin juga untukmu :

  • Untuk menjadi dukun, (terserah orang menyebutnya kiyai atau apa) ternyata tak boleh orang-orang bodoh. Karena, akan semakin jelas paok nya kalau orang bodoh jadi dukun. Dan satu yang harus dipahami adalah, bahwa dukun  juga harus mantap pondasinya dibidang ilmu lainnya. Jadi  dukun, ternyata juga harus paham ilmu geografi. Dan kali saja, biologi, sosiologi dan disiplin ilmu lainnya. Makanya, daripada ribet, ngapain jadi dukun. wkwkw🙂 Dukun  Ansor misalnya, hehe🙂 , ternyata dia nggak tahu kalau di Makkah ada selisih empat jam dengan waktu Indonesia. Ketika kita jumatan, maka empat jam lagi baru lah waktu zuhr masuk d Makkah. Nah, jadi Dukun Ansor ke Makkah yang mana ya? jangan2 dibawa jalan2 ke Makkam sama antunya, bukan Makkah.🙂
  • Kebohongan pertama, meminta tumbal kebohongan kedua. Kebohongan kedua, meminta tambal kebohongan ketiga. dst.. Makanya, memulai berbohong adalah telah menyepakati bahwa selanjutnya, hidup ini adalah episode kebohongan. Makanya, tak ada yang lebih baik dari pada sebuah kejujuran.. www.sokbijak.com hehe🙂 . Begitu juga dengan perbuatan tercela lainnya, juga meminta tumbal ayaknya kebohongan..

Semoga, semua menyadari, terutama untuk pengagung2 Dukun Ansor. Kisah ini, oleh2 dari Kota Ujung Sumatera Utara..

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s