Long Exposure Photography dengan Smartphone Infinix Zero 3

Kemaren-kemaren nyoba smartphone dari infinix, tepatnya Infinix Zero3 (IZ3). Ini kali pertama saya mencoba membeli merk inifnix, setelah sebelumnya dan sampai saat ini masih begitu terkesan dengan Xiaomi. Ada beberapa alasan ketertarikan secara pribadi bagi saya. Layar fullHD, Kamera yang wah, RAM 3GB, Prosesor yang gahar, dan tentunya Harga yang bersahat dengan kanton. Dari sekian ketertarikan, faktor terbesar yang menyeret-nyeret membuat saya harus mencoba smartphone ini adalah karena kamera yang WAH. Yaaa, Wah kalau menurut saya pribadi.

Continue reading

Toba (2)

Ke Toba tapi gak ke samosir, Ibarat abis mandi tapi gak bersisir.

 

Inilah lanjutan dari ulasan kisah sebelumnya tentang Danau Toba.

Kita lanjut petualangan ke Samosir. Kalau lebih familiarnya, semua pada bilang pulau samosir. Tapi saya pribadi berpendapat itu bukan pulau. Hhee.. Samosir itu Tanah Genting. Jika ia pulau, maka ia semestinya benar-benar terpisah dari perairan. Tapi ya ini sih kajian secara geografi (anak teknik sok2 an bahas geografi). Tapi serius lho, karena postingan ini, benar-benar akan berisi ulasan bahwa Samosir adalah tanah genting, bukan pulau. Maka perjalanan selanjutnya ini benar-benar akan menjadi pembuktian bahwa Samosir bukan pulau.

 

Karena keyakinan bahwa harus mendapat penginapan, maka dimulailah pengembaraan. Elleeeeh. Kami lima orang duluan menyeberang dengan kapal penumpang biasa. Murah meriah kok, nyebrangnya 6ribu aja. Cuma dia nganter sampe Tomok, itu loh, pelabuhan ferry di Samosir. Sedangkan penginapan yang akan dicari itu ya di Tuk-Tuk. Tapi dengan keyakinan, perjalanan tetap dilanjut. Berjalan sedikit saja dari parkiran pelabuhan Ajibata, ke tiga raja, kemudian naik kapal penumpang. Trus capcus ke Samosir. Lumayan cepat sih dibanding pake ferry. Dua kali lebih cepat naik kapal kecil ini dibanding naik kapal ferry. kira-kira 20 menitan gitu.

Inilah kapal penyebrangannya, Ruang nakhodanya diatas. Pake stir juga lho. Ehh

2014418085634_1

Nah, setelah turun dari penyeberangan ini barulah kita sampai di Samosir,Ya iyalah Disappointed smile. Dan ke tuk-tuk kalan jalan kaki lumayan tuh. Lumayan jauh, lumayan mahal, lumayan capek. Open-mouthed smile. Tapi gilanya, kami tetap coba ya seklian diniatin mana tau dapat penginapan yang masih kosong. Ooo ya, masyarakat asli disana tak beraktivitas seperti biasanya, karena hari Paskah. Jadinya sunyi gitu dengan penduduk lokal, tapi rame sama wisatawan. ke Tuk-tuk Kalau naik angkot, sampe simpang ada sih. Karena, sebenarnya tuh angkot ke Pangururan,jadi kita turun di simpang tuk-tuk. Cuma ya jalan ke dalammnya itu yang lebih melelahkan sebenarnya, tapi asyik. Kalau mau diantar sampe dalam, mahal amir. Gak cocok dikantong, tambah lagi banyak yang mau ngeruk saku juga sih disana.  Nih, poto pas baru masuk gerbang tuk-tuk,

Continue reading