Toba (2)

Ke Toba tapi gak ke samosir, Ibarat abis mandi tapi gak bersisir.

 

Inilah lanjutan dari ulasan kisah sebelumnya tentang Danau Toba.

Kita lanjut petualangan ke Samosir. Kalau lebih familiarnya, semua pada bilang pulau samosir. Tapi saya pribadi berpendapat itu bukan pulau. Hhee.. Samosir itu Tanah Genting. Jika ia pulau, maka ia semestinya benar-benar terpisah dari perairan. Tapi ya ini sih kajian secara geografi (anak teknik sok2 an bahas geografi). Tapi serius lho, karena postingan ini, benar-benar akan berisi ulasan bahwa Samosir adalah tanah genting, bukan pulau. Maka perjalanan selanjutnya ini benar-benar akan menjadi pembuktian bahwa Samosir bukan pulau.

 

Karena keyakinan bahwa harus mendapat penginapan, maka dimulailah pengembaraan. Elleeeeh. Kami lima orang duluan menyeberang dengan kapal penumpang biasa. Murah meriah kok, nyebrangnya 6ribu aja. Cuma dia nganter sampe Tomok, itu loh, pelabuhan ferry di Samosir. Sedangkan penginapan yang akan dicari itu ya di Tuk-Tuk. Tapi dengan keyakinan, perjalanan tetap dilanjut. Berjalan sedikit saja dari parkiran pelabuhan Ajibata, ke tiga raja, kemudian naik kapal penumpang. Trus capcus ke Samosir. Lumayan cepat sih dibanding pake ferry. Dua kali lebih cepat naik kapal kecil ini dibanding naik kapal ferry. kira-kira 20 menitan gitu.

Inilah kapal penyebrangannya, Ruang nakhodanya diatas. Pake stir juga lho. Ehh

2014418085634_1

Nah, setelah turun dari penyeberangan ini barulah kita sampai di Samosir,Ya iyalah Disappointed smile. Dan ke tuk-tuk kalan jalan kaki lumayan tuh. Lumayan jauh, lumayan mahal, lumayan capek. Open-mouthed smile. Tapi gilanya, kami tetap coba ya seklian diniatin mana tau dapat penginapan yang masih kosong. Ooo ya, masyarakat asli disana tak beraktivitas seperti biasanya, karena hari Paskah. Jadinya sunyi gitu dengan penduduk lokal, tapi rame sama wisatawan. ke Tuk-tuk Kalau naik angkot, sampe simpang ada sih. Karena, sebenarnya tuh angkot ke Pangururan,jadi kita turun di simpang tuk-tuk. Cuma ya jalan ke dalammnya itu yang lebih melelahkan sebenarnya, tapi asyik. Kalau mau diantar sampe dalam, mahal amir. Gak cocok dikantong, tambah lagi banyak yang mau ngeruk saku juga sih disana.  Nih, poto pas baru masuk gerbang tuk-tuk,

Continue reading

Toba (1)

Entah ide dari mana, tiba-tiba diajakin jalan-jalan ke Toba sama adik2 Payakumbuh. Padahal baru dua bulan lalu abis dari sana. Cuma kalau dulu ngeteng-ngeteng nyambung-nyambung bis, angkutan umum dll gitu, Maklum, ngajakin orang Jogja jalan-jalan ngenalin medan. Nah pas jalan ama anak-anak Payakumbuh sedikit lebih ekklusip. Rental mobil sendiri. Gak tanggung-tanggung, dua mobil gitu. Kabarnya awalnya cuma mobil aja, hari terakhir peminat membludak. Hhaa, akhirnya ditambahlah satu mobil lagi. Maklum, ini nemani adek-adek imapaliko yang abis UTS. Ngilangin suntuk, atau menetralisir keyakinan bahwa dirinya harus remedi, atau ngulang mata kuliah lagi tahun depan, makanya mau nemani mereka ke Toba.

Setting waktunya pas long wikennya gitu. (18 April 2014). Jadi berangkatlah dari medan jam 11 Malam dihari kamis. Dengan estimasi bahwa kami subuh sudah di Parapat, siap-siap ambil penyeberangan pagi. Ternyata di Sergei, Ada pengaspalan jalan. Macetnya minta ampun, dan kami harus cari alternatif jalan lain yaitu via GALANG. Balik lagi dah ke arah medan, muter-muter jadinya. Jadi kalau lewat via galang, lewat hutan-hutan gitu. Perkebunan sawit, sama karet juga banyak disana. Gak terlalu asing sih daerah sana, karena sering dinas luar kesana dan atau  lewatnya ya lewat sana. Ada beberap unit kebun dan pabrik pengolahan karet disana. Galang, sarang Giting, Dolok Masihul hingga Ntar keluarnya di Tebing Tinggi. Dari Tebing Tinggi barulah dilanjut ke Siantar dan lanjut ke Parapat. Sholat Subuhnya ya di masjid Mukhlisin Siantar itu. Nih masjidnya subuh-subuh, airnya lumayan dingin bgt. Target pertama untuk subuh di Masjid Parapat akhirnya tak tercapai Disappointed smile Pastinya berimbas ke planning2 lainnya..

2014-04-18-05-32-19_deco

Continue reading

PR

Blogger sejagad raya, pada sibuk mengerjakan PR. Dan saya juga kebagian kesibukan itu. Saya membahasakannya dengan MLM PR BLOGGER. Jadi sistemnya ya seperti itu, setelah kita dapat PR, maka PR dengan soal yang sama kita kasih juga ke orang lain. Tujuannya, kalaulah kemudian –dulu- PR itu menjengkelkan, maka kejengkelan itu jangan kita nikmati sendiri, tapi buat orang lain juga merasa kejengkelan itu sama seperti yang ada rasakan. Tpi bagi saya, jujur, PR itu kebahagiaan, makanya nanti saya juga akan bagi kebahagiaan ini.

blog pr

Saya dapat PR ini dari abangda “rangtalu”. Soalnya sama, seperti saya bicarakan tadi. Bedanya saja mungkin pada jawaban2 nya. Dan PR ini, nggak ada salah benernya lho. Jadi ya begitulah…

Continue reading

Kenangan : 26102008

261008

Kenangan : Photo ini tepat diambil pada 3 tahun yang lalu. yaa, 2008. Pada bulan oktober. Selalu memberikan kenangan tersendiri pada bulan-bulan oktober ini. Terlebih dimulai dari 3 tahun belakangan. Saya merasa bahwa selamanya mungkin akan bisa sekedar jadi komentator saja lagi, apakah itu pada sepakbola, apalagi badminton yang ternyata lebih butuh lutut yang kuat.

Tiga tahun lalu, serasa bahwa kenikmatan dunia setidaknya tak lagi full saya temui. Sedih? Pastinya. banyak pasal yang membuat sedih, kata Imam Syafii, berjalan itu adalah kenikmatan. Maka berjalan utuh adalah sebuah kenikmatan diatas kenikmatan. 

Tiga tahun lalu, kesedihan ini menjadikan ia berlipat-lipat karena telah membuat sedih pada orang-orang yang mencintai saya. Keluarga… Apalagi wanita berhati syurga, yang selalu mencemaskan saya. Bahwa ketika mimpi yang agak aneh saja maka kecemasan selalu ia muntahkan dengan menanyakan kabar saya. Tiga tahun lalu…

Tiga tahun sudah berlalu, kemudian kaki saya sudah seperti dulu, walaupun tidak seideal semula. Tapi jauh, semua ini diatas perkiraan saya. Semuanya… Perkiraan saya, mungkin rasa ibalah yang kemudian terlintas kepada orang2 yang melihat saya. Atau akrab dengan si Pincang, tak lah masalah –walaupun, kalau iya tentunya sedih-. Say juga sudah mencoba menguatkan hati, untuk kemudian juga siap dipanggil dengan sebutan itu. Paling tidak menguatkan dalam hati, bahwa orang itu tidak salah. Bahwa saya memang pincang.

Tiga tahun sudah, menguatkan diri pada ketetapan Allah, bahwa Ia ambil milikNya, bukan milik saya. Berat, seberat menahan kesedihan kesedihan itu. Bukankah semua milikNya yang dipinjamkan kepada saya tak semuanya diambil kala itu? Bukankah lebih banyak milikNya yang masih diberikan pada saya hak pakai dibandingkan yang diambilNya? Ini hanya penguatan hati, tetap saja ia berat. Sangat berat…

Tiga tahun sudah saya melewati hari-hari, dimana setiap hari harus berlatih berjalan. Setengah jam setelah subuh paling tidak. Mengitari dan belajar berjalan seperti layaknyabalita. Belajar berdiri, belajar berjalan dengan pegangan dinding, belajar berjalan dengan sesekali melepaskan pegangan pada dinding. Dilanjutkan dengan belajar berdiri satu kaki, bergantian.  Dan sore, memasang obat-obat khas rempah Karo. Dan mengganti perban pagi dan petang, seperti jadwal dzikir ma’tsurat.

Tiga tahun sudah, saat saya merepotkan saudara-saudara. Dengan jadwal rutin dia harus ke pasar tradisional untuk kemudian mencari semua perlengkapaana untuk saya. Jeruk purut, dan rempah lainnya.

Tiga tahun sudah ia berlalu, banyak mungkin janji2 kebaikan yang di azzamkan ketika sakit, mungkin lupa. Mungkin sengaja dilupakan. tekad2 menjauhi dosa, ketika sakit, mungkin setelah sehat lupa, atau sengaja melupakan.  tekad tak lagi membuat kesedihan, tak lagi jadi sumber kecemasan, tak lagi ini itu dan banyak lagi janji2 lainnya.

Tiga tahun sudah, dan hari ini saya merasa tak ada yang kurang pada saya, kecuali rasa syukur padaNya.

Untuk sahabat-sahabat terbaik, semuanya. terima kasih atas ukhuwah, persahabatan dan kekeluargaan. Semuanya, maaf jika tak pandai balas budi. sering menyakiti hati dan perasaaan. Sekali lagi, Ingatkan dikala lupa, kokohkan dikala goyah.

Salam []

Kisah 3 Danau

Postingan yang sudah lama dijanjikan, dan sepertinya ada yang menanti2 postingan ini. 🙂

Barulah kali ini sempat melunasi janji2 ini. Tentang sebulan yang penuh dengan perjalanan. Bulan2 yang penuh dengan jadwal jalan-jalan yang padat. Ada 3 Danau di 3 kota berbeda, di propinsi berbeda yang kemudian dikunjungi dalam 1 (satu) minggu. Lelah, tentu tidak. Justru jalan-jalan ini, sebagai pengurai kelelahan dan akumulasi keletihan jiwa (beghh, bahasanya) ytang telah mengendap dalam diri ini. Heeh.. Karena akhir-akhir tahun 2010 adalah tahun-tahun penuh tekanan. :p. Berikut. liputannya..

[1] Danau Singkarak

Danau Singkarak, menjadi pembatas dua kabupaten di Sumatera Barat. Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Jalan-jalan ini, agak sedikit memberikan sensasi yang luar biasa. Tentunya bagi kami yang merasakan, yang baca hanya mungkin bisa bayangkan. Sebenarnya, gak sempat singgah disini untuk main2 air apalagi mandi-mandi. Hanya lewat, mengitari dan istirahat sejenak dipinggir Danau. Tapi perjalanan ini benar-benar berkesan.

Perjalanan ini, pada tanggal 17 januari 2011, adalah bertujuan untuk mengahdiri aqiqahan ponakan pertamaku. M Tsaqif Elazka. Ponakan itu adalah kado penyemangat ku untuk Sidang Skripsi 12 Januari. Ia lahir 11 januari 2011. Kalau diangkakan kira-kira begini, 11 1 11. Angka cantik. Tentu sesuatu yang mahal, layaknya nomor hape. heeh, nggak nyambung. Tpi benar ia sangat istimewa. Sampai2 GIGI nyiapin lagu jauh2 hari untuknya dengan judul 11 Januari. *hee, makin ngawur.

Continue reading

Nasi Panjang

Tahukah kau nasi panjang? Kenapa jidatmu berkerut? Karena baru pertama mendengarnya kah?  Heeh, sebutan dr beberapa saudara saja, yang kemudian mungkin sedang berusaha mempopulerkannya.

Nasi panjang, baginya adalah mie instant. Inilah yang kemudian logistik paling dekat dengan manusia dalam segala kondisi, mulai dari bencana sampai pada pesta mewah sekalipun. Betapa hebatnya nasi panjang ini, Kemudian ia menjadi ALIT, dekat dengan siapa saja. Dekat pada kondisi apa saja, dekat dengan kalangan mana saja.

Kalau kemdian nasi panjang ini tak pernah ditemukan, bisa kita bayangkan? Mungkin tim SAR juga bingung memikirkan, makanan apa yang bisa dilempar-lemparkan dari helikopter di daerah bencana. coba, kalau kemudon itu diganti dengn melemparkan bungkusan lontong. Bayangkan? 🙂 Saya juga tidak tau dari negara mana sejarah nasi panjang ini bermula, apalagi sama penemunya. Tapi yang jelas, dianya sudah memberikan kemudahan2 yang luar biasa. Walalupun kemudian yang harus kita ambil pelajaran adalah, bahwa tidak terlalu bagus untuk kemudian menjadikan nasi panjang sebagai menu rutin kita.. 🙂

Selamat menikmati nasi panjang, unutk saudara2 yang lagi “gak” bisa kemana2 karena banjir. Aritha, mansur, sumarsono, picauly, pintu satu. Dan untuk satpam2 USU, khusunya komplek dosen pintu 3. mdh2n baca. hehe.  Selamat Meniukmati!

=================================================================

*) sebuah catatan keprihatinan saja, atas banjir yang sudah terjadwal sepanjang tahun ini. Benarlah kata saudaraku, banjir ini, dari kita untuk kita….