Karakter*

Saya tahu resiko berkicau, semerdu apapun pasti ada yang terganggu. Apalagi cempreng. Wkwkw. Hanya saja mencoba untuk berobah lebih baik, tanpa harus mencari musuh untuk karakter bawaan. Tak mungkin bisa anda paksakan semua menyukai anda, sebagaimana takmungkinnya anda untuk memaksa semuanya membenci seseorang. Tetaplah berjalan, meskipun anda menahan lelah. Tak msalah, yang penting anda tau, apa yang anda tuju….

 

Cerita karakter, banyak ahli yang uraikan. Mulai dari yang bisa dipahami, sampai yang harus kita relakan jidat berkerut untuk hanya sekedar mengerti. Mulai dari filsuf, pakar dan ulama bisa jadi telah bahas. Ekstrover, introvert, transporter, keloter wkwkwk dan er er lainnya dah banyak yang kemukakan. Sanguin, pinguin, palangkin, dan in in lainnya bisa jadi.. Saya ketika membca buku-buku, artikel tentang karakter diri seringnya tak kemudian mengelompokkan diri saya kesalah satu dari yang dikemukakan ahli. hehe. Mungkin ini tindakan salah ya? :p

blogjamaah

Biarlah ahli-ahli itu yang bahas dengan bahasa-bahasa rumit, saya tetap membawakan pada bahasa yang (minimal) saya mengerti. Semua boleh saja bilang bahwa kita tak bisa memaksakan karakter kita pada orang lain, itu hak semua. Semua juga berhak bilak bahwa karakter kita buruk. Karakter kita tak bisa bla bla bla dan sebagainya. Biarlah… So? Akankah kita mengubah karakter jika kemudian semua mengkritik tentang karakter kita? okeh…

Mengubah karakter diri.

Saya teringat, bahwa dulu saya orang yang paling ribut dikelas. (sekarang juga masih ,sepertinya) . Semua tahu persis tentang itu. Ada guru yang bilang bahwa, ketika sendiri saja duduk tanpa teman sebangku, dia yang [paling ribut. Apalagi jika ia diberi kawan. Wkwk. Dan faktanya memang begini. Siapa yang suka “manyolo” (menyela, bahasa padang) pembicaraan guru, ketua kelas, dll. Itu saya. Siapa yang dalam kesendiriannya saja sudah membuat keributan? Itu saya. Biang onar, sepertinya juga saya. Seolah menjadi penghulu dari segala keonaran itu juga saya. Ckckc😐

Pada beberapa waktu, ada yang mencoba menasehati saya untuk berubah. Dengan alasan yang bisa benar-bisa salah-bisa juga dibuat2- bahwa ini sudah karakter saya, jadi sulit dirubah hingga gelar biang onar tetap langgeng saya sandang. Ada yang sepakat, dan ada jyuga yang tidak. Saya merasa keyakinan ini menjadi terpatri hari ini. Saya tak bisa untuk menjadi sedikit pendiam, bahkan dilingkungan yang baru saya jumpai. Aneh bukan?

HIngga suatu saat –seingatsaya- saya beberapa hari tidak masuk kelas. Karena bebrapa hal, sakit, perlombaan dll. Hingga suatu saat teman mengatakan bahwa sepi ketika sehari saja saya tak berada disi mereka. Seolah-olah ada yang hilang. Wkwkw. Ekstrimnya lagi, ada yang bilang bahwa sehari saja saya tidak berada disisi mereka (teman sekelas) serasa mereka sedang berada di pekuburan. Yaa, pada prosesi pemakaman, ketika seolah haram bersuara. Begh! Saya semakin berada diatas angin dengan keyakinan tadi….

Saya sudah mencoba berubah, pada beberapa kesempatan seolah2 mengiqab (menghukum) diri untuk mencoba tak banyak bicara seperti biasa. Dan ternyata, disinilah point pentingnya. Saya merasa sangat lelah dan capek. Bahwa kita dallam keppalsuan kepribadian dan karakter akan cepat merasa lelah. Seperti saya yang lebih mudah lelah dalam diam dari pada berkicau tiada henti. Dan inilah yang saya rasa, sulit, ataupun mungkin bisa jadi tak bisa memaksa diri kita untuk tetap bertahan dalam kepalsuan karakter. Wadooh, bahasanya…. Ckckc.

Umar, Khalid dan karakternya

Umar, siapa yang tak kenal. Sangar, keras, bahkan ketika dia sudah berislam. Pun jua khalid. 11 12 dengan Umar, dengan kisah hidup yang juga 11 12. Tak ada beda karakter ketika ia menjumpai Islam dengan sebelum ia masuk islam. Itulah mgkn penguatan, bahwa sulit, atau bahkan tak bisa- unutk memaksa mengubah karakter itu. Hanya saja, ia membelokkan motivasi karakternya ke arah yang berbeda dengan sebelumnya. Ia punya pijakan kuat dengan karakter yang ia bawa. itulah Umar, itulah khalid…

Dan saya masih tetap seperti yang dulu, hanya saja mungkin mencoba meminimlisir mudharat dengan “bawaan “ ini. heeh. Mencoba mengarahkan kearah yang setidaknya sedikit lebih baik. Saya hanya katakan, dalam diam saya merasa lebih lelah, makanya saya berkicau. Meskipun sering kicauan tak merdu. Walaupun dengan bawaan ini saya merasa lebih bisa menyiasati kesunyian. Anda pilih mana? Sunyi dalam keramaian atau ramai dalam kesunyian? Eleh…

Diakhir tulisan bukan dari pakar ini, saya hanya yakini satu hal penting dari karakter2 ini. Bukan tentang istilah2 dengan jabaran2 sulit dari para paker. Ini hanya dari saya.saja,  bahwa mungkin ada orang yang tak bisa memahami karakter kita, bukanlah masalah besar. Tapi msalah besar adalah ketika anda sendiri saja tidak bisa memahami karakter anda. Merubah karakter diri secara frontal, sama sulitnya dengan membalikkan putaran kincir air. Sudah pernah anda mencoba? Saya belum :)).

Ini bisa jadi themanya tah pas ntah nggak. Saya lupa pada thema yang tadi pagi saya tawarkan…🙂

Salam NgeBlog Berjama’ah. Kamar Inspirasi2, RankMudo Corp™.

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s