Sepi Perantau

•Juni 14, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

APabila kuberada dikejauhan,
Ada kalanya kurasa kesepian
Asyik terkenang kampung halaman dan jua teman-teman
DiKala itu kan kuras agak kelemahan untuk berjuang
Melihat mereka berbahagia disamping yang tercinta
kegembiraan, kukesepian.

Mujur ada teman seperjuangan
Menyatakan kita harus teruskan
Perjuangan ini demi mencari Keredhoaan Ilahi

Masa muda dilalui hanya sekali
Pergunakannya agar kau tidak sesali diesok hari
Ketenangan ada disini
Tak jumpa kerana kau tak mencari
Kebahgiaan tersirat dihati
Tak rasa kerana kau tak Menghayati

Nasyid Yang Menginspirasi. Bisa dijadikan Mars-mars Perantau Indonesia.

Pasan Mande *

•Mei 6, 2009 • 5 Komentar

 

yo santiangnyo aka rangik mak

manayasok darah dalam dagiang

luko nan indak kanampakan

alah padiah sajo mangko tahu

PENTINGNYA STRATEGI..

 

nan bak pasan mande

usah takuik nak diombak gadang

riak nan tanang oi nak kanduang

mambaok karam

HATI HATI DENGAN YANG KECIL, BATU KALI TAK PERNAH MEMBUAT JATUH,KERIKILLAH YANG JADI PASAL

 

yo luko dek sambilu

ondeh cegak diubek nak

nan jo piladang

kato malereang

oi nak kanduang

bisonyo tajam

KEKUATAN KATA2

 

*) Terinspirasi untuk sedikit berbagi teks lagu ini. Karya Nusykan Syarif. Lagu lama yang penuh pelajaran. Penuh Inspirasi. Lagian, juga nggak tau mau upload apa.

:D

Belajar Dari Burung dan Cacing *

•Mei 5, 2009 • 2 Komentar

Bila  kita  sedang  mengalami  kesulitan  hidup  karena  himpitan kebutuhan
materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita  lihat  burung  tiap  pagi  keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak  terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.  Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang
dan  bisa  membawa  makanan  buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup  buat  keluarganya,  sementara ia harus puasa. Bahkan seringkali ia pulang  tanpa  membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus berpuasa.

Meskipun  burung  lebih  sering  mengalami  kekurangan makanan karena tidak punya  kantor  yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia,  namun  yang  jelas  kita  tidak  pernah  melihat  ada burung yang berusaha  untuk  bunuh  diri.  Kita  tidak  pernah  melihat ada burung yang tiba-tiba  menukik  membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat  ada  burung  yang   tiba-tiba  menenggelamkan diri ke sungai.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.  Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.  Kita  lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

Tampaknya  burung  menyadari  benar  bahwa  demikianlah  hidup, suatu waktu berada  diatas  dan  dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan  di  lain  waktu  kekurangan.  Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang  marilah  kita  lihat  hewan  yang  lebih lemah dari burung, yaitu
cacing.  Kalau  kita  perhatikan,  binatang ini seolah-olah tidak mempunyai
sarana  yang  layak  untuk  survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai
kaki,  tangan,  tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.
Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia  mempunyai  perut  yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat  ,  dengan  segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi  untuk  mencari  rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang  kita  lihat  manusia.  Kalau  kita  bandingkan dengan burung atau
cacing,  maka  sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih
canggih.   Tetapi   kenapa  manusia  yang  dibekali  banyak  kelebihan  ini
seringkali  kalah  dari  burung  atau  cacing ? Mengapa manusia banyak yang
putus  asa  lalu  bunuh  diri  menghadapi kesulitan yang dihadapi ? Padahal
rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

*) Sebuah Catatan Tak Bertuan

Berdamai Dengan Kekurangan

•Maret 18, 2009 • 3 Komentar

Kehidupan yang telah kita jalani, yang sedang kita jalani dan yang akan kita jalani, adalah sebuah aliran konstan antara pasang dan surut. Tidak ada yang berbeda, kecuali hanya masalah porsi yang kita terima. Baik merefleksikannya pada durasi,  ataupun pada keteraturan pola antara pasang dan surutnya itu. Seperti kita bangun adalah untuk tidur kembali, dan tidur untuk bangun kembali. Atau seperti datangnya siang adalah untuk menghadirkan malam, dan datangnya malam untuk menghadirkan siang kembali.

Ada  orang-orang yang memang Allah anugerahkan porsi surutnya, dalam timbangan kita melampaui batas dengan posisi pasang. Ada  juga yang merasa terbebani pada setiap lembaran-lembaran sejarahnya. Seolah-olah katanya entah kapan tuhan mau berdamai dengannya. Tentunya kurang bijak ketika kita hanya bisa menyalahkan tuhan. Karena Menyalahkan tuhan jelas tidak menjadi bagian dari solusi, bahkan bolehjadi akan menjadi bagian terbesar penyebab masalah.

Tidak ada salahnya saya rasa kita coba melist kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, semuanya. Dari yang kecil sampai pada yang besar. Saya yakin, diantara list yang telah ada, tidak banyak –bahkan tidak ada- kekurangan tersebut yang hanya milik pribadi kita. Bukankah yang lain juga mempunyai yang demikian? Kenapa kebanyakan kita lebih memilih meratapi dan menghukum diri dengan kekurangan yang ada. Sekarang mungkin perlu merevolusi diri atas kekurangan. Tidak ada jalan lain, kecuali Berdamai dengan kekurangan. Ya. Berdamailah dengan kekurangan.

Berdamai dengan kekurangan dalam arti kata bukan memposisikan kekurangan sebagai harga mati. Tapi memproyeksikannya pada posisi yang utuh, sebagai bahagian untuk memperbaiki diri. Ketimbang menghakimi diri sendiri, kiranya lebih berguna memikirkan “kekurangan-kekurangan” kita sebagai sebuah karakteristik batin yang utama yang ingin diberi perhatian.  Bukankah kita sudah sama-sama paham bahwa tidak ada yang bisa menghambat diri kita secara permanen kecuali diri kita itu sendiri bukan? Maka, sekali lagi mari berdamai dengan kekurangan.

Jujur, waktu yang kita alokasikan untuk meratapi kekurangan tidak sedikit. Mungkin lebih bijak kalau seandainya kita realokasikan pada bagian mensyukuri kelebihan yang ada. Sekarang cobalah list lagi untuk kelebihan kita yang orang lain tidak miliki. Saya rasa lebih mudah mencarinya dari pada kekurangan kita yang orang lain tidak miliki. Betulkah?

Terakhir , begitulah hidup ini. Senantiasa ada pergantian, langit tak selamanya mendung. Mendungpun tak selamanya hujan. Hujanpun tak selamanya badai. Badaipun tak selamanya membosankan. Ada badai yang enak untuk didengar. Badai pasti perlalu karyanya Chrisye. :)

Kalinco*

•Maret 15, 2009 • 6 Komentar

Pernah dengar istilah kalinco? Istilah lama yang mungkin akan dipopulerkan lagi. Untuk apa? Tentu sebagai misi babaliak kasurau yang kita usung. ( :D afwan agak ngasal dikit). tapi cerita kalinco yang akan kita bahas memang ada sedikit hubungan dengan agenda besar tersebut.

Kalinco secara Terminologi

Kalinco, berasal dari bahasa padang. Sia-sia sepertinya kalau mencoba  untuk mencarinya dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Kalinco merupakan proses pencampuran antara dua unsur yang berbeda baik secara fisik ataupun pencampuran rasa dengan tujuan terciptanya rasa yang baru, lebih tepatya membuatnya seperti adonan. ( :D ) . Kalinco, sudah sangat jarang dipakai tentunya, makanya kita coba untuk memperkenalkan lagi istilah tersebut.

Nah, kalinco akan kita bahas sebagai pencampuran nilai-nilai kebaikan pada setiap bagian dari hidup kita, baik dalam dimensi tempat, waktu, ataupun dimensi-dimensi lainnya. ( 3 Dimensi Misalnya ). Kebaikan yang kita kenal, tidak harus memandang waktu, baik siang ataupun malam. Baik pagi ataupun petang.

Supaya nilai-nilai kebaikan terkalinco utuh dalam setiap tempat, setiap masa, dan disetiap dimensi-dimensi lainnya. :D

NB: Bahasa Indonesianya, terintegrasi

Bahasa Medannya, gomak

Bahasa barulak a yo? :)

Sedikit terkesan dipaksakan ya? Memang!!

Thanks u inspirasinya,

Seberapa Minangkah Anda??! *

•Februari 4, 2009 • 3 Komentar

Pernah dapat pertanyaan seperti ini? Atau sejenis dengan ini? Anda jawab apa? Minang 100% kah? Atau seberapa persen “keminangan” anda dapat dipertanggungjawabkan.

Saya mendapat undangan dari seorang saudara, kakak lebih tepatnya pada sebuah situs pertemanan. Pertanyaannya, tentang seberapa minangkah anda. Menggelitik memang, apalagi sisi keminangan saya yang dipertanyakan. Dengan antusias saya mengisi kuisioner dari awal sampai akhir. Tak banyak pertanyaannya. Nggak lebih dari sepuluh. Mm, dan akhirnya saya merasa sangat sukses menjawabnya. Karena pertanyaannya sangat mudah. Apalagi bagi saya yang lahir dan dibesarkan diranah minang. Walaupun belum tahu pasti apakah nantinya akan kembali keranah Minang.. :) .
Tak ada kesulitan berarti dalam menjawab pertanyaannya, hanya saja sedikit agak ironis memang pada setiap poin-poin pertanyaan yang ada. Semua berhubungan dengan makanan, bahasa, dan hal-hal yang diminang tidak menjadi poin penting. Dipertanyaan pembuka, kalio jo randang jadi jawaban. Dipenutupnya pun masih bercerita rendang. Ditengahnya diselingi dengan bahasa minangnya sapi. Bahkan “jariang” dalam bahasa Indonesia juga ikut nimbrung dalam pertanyaan tersebut.Hmm..
Tak ada yang salah dengan kuisioner tersebut. Tidak juga dengan yang membuat tentunya. Lalu dimana letak masalahnya? Nah, itulah pertanyaan yang tadi ditunggu-tunggu. Kenapa poin-poin pertanyaannya tidak ada yang bersifat normatif dalam penilaian keminangan seseorang? Tak ada tentang nilai-nilai budaya, adat, tatakrama dan norma agama tentunya. Masalahnya adalah ketika minang diidentikkan (baca:hanya bisa ditonjolkan) dengan masakan dan bahasa yang “lucu” menurut sebagian orang.
Dan semua pertanyaan itu tentunya bukan tanpa sebab. Karena memang orang-orang minang sebagai representasi dari budaya minang, tidak tahu (atau lebih tepatnya:TIDAK MAU TAHU) akan substansi dari budaya minang itu sendiri. Apakah yang tinggal diranah minang, apalagi yang dirantau. Walaupun tentunya tidak semuanya. Ada pergeseran budaya, perobahan nilai, dan hilangnya standardisasi tentunya. Makanya minangpun akhirnya lebih dikenal sebagai “sarang” makanan enak, ditambah lagi dengan rumah makan padang tentunya.
Dibidang seni misalnya. Kalau kita mau sedikit kembali mengingat lagu-lagu minang lama, betapa nilai budi yang luhurpun dibahasakan secara halus. Bahkan membahasakan cinta dengan bahasa yang santun dan terkesan menempatkannya pada porsinya. Tidak seperti sekarang, dengan vulgar dan gamblang. Dari dulu sudah ada putus cinta, sekarang pun juga ada. Dengarlah orang dulu membahasakannya,

“Ulah rayu sidaun siriah
Bacarai pinang jotampuaknyo
Apo kadayo sicarano”

Atau dengan bahasa yang lain

“iyo payah baayam putiah
Kok indak cikok
Alang manyemba”
(Usah diratok i, Tiar Ramon, 1994)

Hmm.. Bandingkan dengan yang sekarang. Kata-kata yang vulgar, ditambah lagi denagn pakaian dalam video klip yang (maaf) lebih vulgar lagi dibandingkan kata-kata yang dipakai. Semakin nyatalah benarnya anggapan itu. Mungkin, mulai sekarang beranilah berteriak, MINANG tak sekedar masakan, makanan, dll. Dan berteriaklah dengan sikap. Karena berteriak dengan sikap, lebih dari sekedar sampai ditelinga.

“Nan kuriak iolah kundi
Nan merah iolah sago
Nan baiak iolah budi
Nan indah iolah baso”

Mari Bedakan, antara Isi dan Substansi

•Januari 15, 2009 • 8 Komentar

Sesekali, cobalah jelajahi kembali inbox sms kita. Lihatlah, apakah ada yang sejenis dengan ini??

“Tolong bacakan Qunut Nazilah disetiap Sholat kita untuk saudara-saudara kita diPalestina yang lagi di bantai oleh Israel”
Forward it!!

Atau yang seperti ini,

“Mohon doakan agar kapal Amerika yang lagi membawa senjata untuk Israel Tenggelam” Sebarkan!

Atau yang sejenislah dengan yang demikian. Banyakkah? Kira-kira Belasan?? Atau puluhan??Kalau saya belum ngitung sih.. ;)

Nah, apa yang perlu diperhatikan? Apa yang sekarang jadi Permasalahan? Cuma satu, Kita sering mengabaikan substansi dan melupakannya. Dan lebih terfokus pada isi..

Nih klasifikasinya:

isi: Nyebarnya itu lho

Substansi : Doanya, Qunutnya, Atau yang sejenisnya..

Pasti kita langsung laksanakan isi, tapi melupakan substansi.. (kebanyakan, walaupun tidak semua)..

To be continue..
;)

Mama Laurent Terjebak Banjir??!!

•Januari 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tertawalah, kadang tertawa lebih mengena dari sebuah perkatan.Kadang. Itulah sebuah Judul. Berita khayalankah?? Tentu tidak.. Melanconglah kesini. “saya tidak dapat merubah nasib anda, tapi saya akan bantu anda untuk merubah nasib anda” (Ribet ya..)

Bagaimana untuk merubah nasib orang lain. Merubah nasib sendiripun ndak bisa..

Terakhir, Kembalilah tertawa, sepenuh mulutpun jadi.

:)

Luluh-lantak, [Sebuah Replika Hati]*

•Januari 15, 2009 • 7 Komentar

Pengen menulis. Sayang, gak tau mau menulis dari mana. Banyak yang mau dimuntahkan, sayang gak tau mau dimuntahkan dari mana. Banyak yang sudah terkumpul di kepala. Sayang, kepala tak selalu seide dengan tangan. Banyak yang mau ditekankan tangan, sayang tak tau mau menekan yang mana.

Biarlah! Biarlah cerita ini tak jadi lagi keluar. Disini. Ditempat ini.Biarlah lelah yang tadi kubungkus lagi, walaupun tak terbayar.

Cukuplah mungkin dengan kembali menguatkan hati. Bahwa Allah tidak pernah menilai hasil. Allah hanya lihat usaha.

Walaupun lelahnya fisik tak selelahnya jiwa. Tinggal hati-hati, karena kata orang, hidup lebih banyak dipengaruhi oleh yang nampak dari pada yang nampak.
Direnungi dulu, mungkin ada benarnya..

*) Moga gak penasaran ^-^

Ada kabar hari ini…

•Desember 14, 2008 • 3 Komentar

Tak ada yang bisa kukabarkan, selain duka dan bahagia

Ada duka dalam negeri:

1. Ujian Kurang persiapan, heheh :) spt biasa

2. Lia Eden Bilang, Islam harus dihapuskan. Katanya tuhan telah mewahyukan padanya. Uh, Neraka yang mana untuk dia ya??

Ada suka Luar Negeri:

1. Presiden AS G. W. Bush, akhirnya dilempari Sepatu. Sangat tidak pantas sebenarnya. Maksudnya, koq cuma dilempari sepatu. Kan masih banyak yang lain. :)

2. Sebuah doa, Mudah-an jemaah haji aman pulang ke kampung halaman.

Hanya ini yang dapat kukabarkan, kalau mau lebih, tonton aja kabar-kabari. Karena kabar, semestinya tak sekedar ini, Ada kabarku, kabarmu, dan kabar kita tentunya. :)

*) Mau ujian, lagi nunggu soal..