Salam dari Istri Saya*

Ini sudah tahun baru, Alhamdulillah. Sudah juga membawa “orang rumah” ke Medan. Alhamdulillah, Moga ia betah.

Hanya ingin berbagi tentang sedikit cerita sebelum akad nikah kemaren. Sebenarnya agak-agak gimana kalau bercerita disini sebenarnya. Tapi ini urgen, dan saya rasa perlu kita tahu. Atau perlu sama-sama untuk kita ketahui. hhee. Ada beberapa dialog nyata dari beberapa kawan2, adek2, rekan2, dan saudara2 di Medan ketika saya memberitahukan tentang kabar pernikahan saya. Banyak ragam tanggapan dan pastinya ya tentang ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan, ketidakmasukakalan-  atau apalah nama yang lebih tepat untuk itu. Berikut, misalnya:

“Duhh, da. Kalau gitu sebelum Uda nikah, coba liatin laptop saya dulu ya. Nanti habis nikah gak enak mintak tolong lagi. Nantik kakak marah” Sad smile

“Daa, kalau bisa selesein segera ya tab saya yang bermasalah. Nantik gak enak kalau udah nikah minta tolong lagi” Sad smile

“Jadi akad akhir bulan ini Da? Mau curhat,  mau bertanya dan mintak pertimbangan da. Kalau nanti setelah akad kan gak bisa lagi” Sad smile

“Setelah nikah, gak bisa lagi berarti kami minta tolong tentang laptop kami dll ya Da. Takut kami dimarahi kakak… “ Sad smile

dll, dsbg, dsj….

 

Awalnya, ada keraguan Antara mengurungkan niat mengatakan atau tidak padanya, tapi tetap saja ia mengganjal bila tidak dikatakan, dan menjanggal bila dinyatakan (baru nikah, masih malu-malu Princess). Beberapa hari “bersama” nya, saya ceritakanlah sebahagian kecil keraguan, ketakmasuk-akalan dan sejenisnya dari teman-teman, adek-adek, kawan-kawan dekat, temannya adek-adek, adeknya teman-teman, semuanya. Tentang keraguan semisal diatas.. Ia hanya tersenyum dan katakan:

“Bukankah kau lebih dulu milik mereka dari pada aku berhak atasmu? Bukankah lebih dulu mereka mengenalmu dari pada aku mengenalmu? Lantas apa hakku untuk bisa memutus simbiosis  amal antara kau dan mereka? Apa karena kita telah menikah? Bukankah keberkahan pernikahan salah satu parameternya, semakin bermanfaat setelah menikah? Minta tolong sampaikan pada semua pemilik keraguan itu, bantu kita menggapai keberkahan pernikahan“ **

Saya tak hendak menutup  tulisan ini lebih panjang lagi. Semoga separagraf ungkapan istri saya diatas bisa sama-sama kita maknai. Bantu kami menggapai keberkahan pernikahan. Salam dari istri saya.

Bumi Allah, Medan – 6 Januari 2014. Apa iya dunia saya seputaran gadget dan laptop? Open-mouthed smile

 

Catatan Kaki:

  • *) Postingan yang lama sudah mengendap di draft, ragu untuk mempostingnya. Sebulan sudah bimbang untuk diposting atau tidak, hhee.. Agak-agak gimana gitu, posting-posting cerita seperti “begini”. Tapi saya rasa, ini harus saya sampaikan.
  • **) Dalam bahasa Minang, aslinya…

8 comments

    • wkwkw. Masi, mainlah k rumah buk nouri. Sambil bawa nanas. Sama Aufa juga, kasih tablet ntar. Tablet turun panas. Hhee, iya buk nouri, disini udah banyak dititipin, tapi EO nya gak terkejar. di Fb tak d tag juga kah?🙂 Maaf ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s