Balapan Hidup Kita

uuuuuuIni cerita balapan hidup kita. Ia benar-benar mirip dengan F1, Formula 1. Setelah balapan selesai, ada reward. Persis sama dengan hidup kita. Selesainya bukan di lintasan, tapi pada panggung penganugerahan medali dan hadiah. Iya, persis hidup kita. Selesainya tak usai di dunia saja. Karena penganugerahan hadiah yang akan disaksikan semuanya di akhirat.

Mungkin tak banyak yang hadir dilintasan, tapi sedunia bakalan tahu siapa juara di Sepang, siapa yang menang di Interlagos, siapa yang tersingkir di separuh balapan sirkuit mewah Marina Bay, Siapa yang nyerempet dinding di sempitnya lintasan Monte Carlo, Monaco. Gaya-gaya permainan Hungaroring, Nurburging, Silverstone, Yas Marina, dan semuanya. Iya, semua kan tahu, persis hidup kita yang bakal diputar ulang. Ke sesiapapun nantinya. Dipersaksikan.

Dimulailah balapan, kita kemudian mencari grid terdepan. Berharap memegang pole position, memulai balapan dari paling depan. Tapi jangan pernah lupa bahwa medali, tropi dan semua jenis penghargaan sebagai reward bukan untuk sesiapa yang memulai dengan baik. Tetapi untuk sesiapa yang bisa mengakhirinya juga dengan baik.

Jika mengejar pole position itu awal balapan, maka ia ibarat niat -bisa jadi-. Semua perlombaan ini akan dimulai dengan angan mencapai pole position. Tidak bisa tidak. Tapi panggung untuk tempat selebrasi, tidak cukup hanya untuk yang mendapat pole position saja. Ia harus dituntaskan dengan finish yang benar.

Direntang masa memulai balapan dari pole position dan penyelesaian balapan, ada gangguan-gangguan perjalanan. Maka kita punya yang namanya pitstop, berhenti sejenak, menepi sesaat, mengisi bahan bakar yang menipis, mengganti ban yang sudah kehilangan grip. Ada tim yang akan mengurusi itu semua. Si pembalap duduk diam, meski hanya tujuh, delapan atau maksimal belasan detik, itu sudah lebih dari cukup untuk mengevaluasi tujuan ia membalap. Finish dengan benar.

Kemudian, kemenangan kita akan diganjar dengan hadiah. Bahkan dengan minuman memabukkan, sebangsa khamar -bisa jadi- sebagai hadiah kemenangan. Persis hidup akhirat kita nantinya, bagi yang menang kan dapat khamar, tapi yang tak memabukkan (Yusqauna mirrahiqimmakhtuum QS 83:25). Ahh, benar bahwa hidup ini memang  seperti sebuah balapan F1.

Jika berniat mengamankan pole position itu amalan hati dan jiwa, maka menjalani balapan itulah amalan fisik raga kita. Kebaikan harus dimulai dengan kerja jiwa, semisal niat yang benar dan harus dituntaskan dengan kerja raga, amal yang professional.

Jangan pernah terkecoh dengan tujuan balapan kita. Selebrasi itu bukan dilintasan, tapi dipanggung kemenangan. Dilintasan adalah ranah kita untuk focus beramal, selebrasi kemenangan bukan disana. Dunia bukan parameter menakar kesuksesan kita dalam balapan, karena ujung hidup yang kita tuju kita bukan dunia. Berakhirnya dunia adalah dimulainya hidup kita secara maknawi. Maka mengakhiri dunia dengan amal baik dan benar itulah pembalap sejati.

Kita telah merapal dan menghafal dengan baik, bahwa innama a’malu binniat. Sungguh amal itu tergantung dari niat. Imam Nawawi dalam arbainnya tuliskan begitu sebagai pembuka. Memulai dengan niat yang benar itu harus, dan mengakhiri dengan benar dan benar mengakhirinya juga wajib dan perlu. Kerja jiwa harus dikomplitkan dengan aktivitas raga, niat harus disempurnakan dengan amal. Memulai niat dengan benar itu tidak mudah, tapi mengakhirinya dengan cara yang benar juga tidak kalah sulit.

Kemudian kita juga harus mengingatkan diri kita kembali dengan hadits lain tentang amal dari Imam Bukhari No 6607. ..Sungguh, amal itu tergantung pada penghujungnya. Tak cukup lagi dengan sedikit penghibur diri, “yang penting niat saya baik”.

Yaa, kita benar-benar sedang balapan. Niat baik seumpama azzam untuk memperoleh pole position. Dan berkompetisi dengan sungguh-sungguh dan membalap dengan professional adalah cara untuk mengakhirinya dengan benar.

Karena kita telah disediakan panggung untuk selebrasi di akhirat, maka parameter duniawi jadikan saja bahagian proses balapan kita. Bukan tujuan kita. Jangan puas berbuat hanya dengan amalan jiwa sebatas niat baik saja, tapi ia harus direalisasikan dengan kerja raga. Mengakhirinya dengan benar.

“Sesungguhnya seorang laki-laki dulunya beramal dengan amal penghuni neraka, dan sesungguhnya ia adalah penghuni surga, dan ia dulu mengerjakan amalan penghuni surga, padahal ia adalah penghuni neraka, sesungguhnya amal-amal itu (tergantung) pada akhirnya.” (HR. Al-Bukhari 6607)

Catatan untuk yang punya blog #NtMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s