Baruak Jo Belek

Ini cerita tentang bagaimana menangkap monyet di masa silam. Bukan dengan perangkap canggih, apalagi setruman listrik atw dengan segala kecanggihan teknologi. Orang dulu belum sampai berpikir secanggih itu saya rasa. Hhee. (saya bukan orang dulu lho). Dulu, monyet itu mungkin semisal hama bagai tanaman. Ia mengganggu, masuk ke perkampungan, menjarah buah-buahan, hasil pertanian warga, atau sekedar merusak ladang tempat  warga mencari penghidupan.

Taukah kita , cara simpel menangkap monyet? Yaaa, memakai “belek” Kaleng berbentuk balok yang berlobang diatasnya pas sebesar tangan monyet. (mungkin ini bahasa Padang). Artinya, kalau monyet mengepalkan tangannya maka tangan itu takkan pernah bisa masuk dan atau keluar dari “belek”. Simpel bukan?? Nggak pake teknologi-teknologian, gak pake cara-cara canggih, dengan ilmuan tingkat dunia.

Jadi, ditebarlah belek-belek tadi (biasanya bekas kaleng roti/biskuit) di perkampungan, dan diletakkan di dalamnya kacang goreng sebagai umpan. Tak banyak, tapi cukup untuk membuat tangan monyet itu mengepal untuk meraup semuanya. Ketika si monyet masuk perkampungan, kemudian mengetahui ada kacang dalam belek dan kemudian meraup sebisa yang ia bawa maka otomatis kepalan tangan monyet lebih besar dari lobang belek. Tak bisa dia melepaskan tangannya dari belek, atau melepaskan belek dari tangannya. Ketika itulah warga akan mengejar dan menangkapnya, otomatis monyet tadi kesulitan untuk lari, apalagi memanjat. hheee, dan akhirnya monyet itu tertangkap, dan tak bisa menyelamatkan diri. Kemudian dia diikat, dipaksalah kemudian jadi tontonan, yang sedikit pintar kemudian diajak bermain ke ibu kota, dan dijadikan topeng monyet. Tapi sayang, kehidupan mereka terancam diibu kota karena kebijakan Ahok dan Jokowi. Hhee, demikianlah cerita tentang si monyet Smile

Inilah watak monyet, tak berlebihan jika ia kemudian jadi ikon kutukan dalam Al- Qur’an. Karena apa? Ya karena watak nya yang agak-agak gimana gitu. Tamak, loba. Okok kalau orang padang bilang. Ia korbankan dirinya hanya untuk kebutuhan sesaat. Andai saja ia lepaskan genggaman kacang yang ada didalam belek, pasti ia tak kan semudah itu untuk tertangkap. Tamak dan loba kadang membuat sulit untuk berpikir logis dan ilmiah. (emang monyet kenal pola pikir ilmiah? Hha). Andai saja monyet tadi tidak terlalu ngotot dengan ambisi pribadi, dan sadar bahwa kebebasan jauh lebih mahal dari pada segenggam kacang goreng,pasti ceritanya akan lain.

Kadang, manusia suka mengadopsi dan meniru sikap monyet seperti tadi. Membiarkan ambisi sesaatnya dipegang-gadaikan dengan janji masa depan yang jauh lebih butuh persiapan. Kita ingin kebebasan, tapi apa-apa yang harus kita korbankan demi harga kebebasan tak kita lepaskan. Jadilah tertawan seperti monyet tadi, tak mau melepas yang di genggaman hingga menggadaikan yang jauh lebih mahal, bahkan sekalipun kadang ia harus bayar dengan nyawa.. Wajar saja Dikatakan jadilah engkau kera yang hina –KUUNU QIRAADATAN KHAASIIN-. QS 2:65

Lepaskanlah, semua genggaman yang membahayakan. Terlalu naif korbankan kebebasan demi ambisi sesaat. Hanya monyet yang tak tau harga kebebasan lebih mahal dari kacang goreng KKita korbankan kenyamanan hanya karena ambisi sesaat, ingin memiliki sesaat, dendam kesumat, dengki, iri dll..

NB : Seolah2 saya pakar monyet dan mengerti tentang permonyetan.wkww. Dan Ntah sejak kapan monyet suka kacang goreng.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s