Bukan Salah Mertua

Lucu saja jika meminta diajarkan berlari pada orang yang baru pandai merangkak

-davidsatria-

Seorang sahabat bercerita, kalaulah itu belum bisa dikatakan curhat. Biasa, sahabat lama. Teman lama, “konco arek”. Bukan tentang BBM, atau tentang okos angkot yang naik. Karena kami sudah sama-sama memahami hal itu. Bahkan, biaya parkir saja yang tak ada singgung menyinggung dengan BBM audah kami terima dengan ikhlas. Yang kami tifak terima hanyalah… Ah, sudahlah. Kita bahas cerita semacam curhat tadi aja ya.🙂

Jadi teman tadi baru menikah, masih diminta mertuanya untuk sementara tinggal dirumahnya. Keseharian disana, tentu pantauan penuh mertua atas segala aktivitasnya. Mertua jadi CCTV baginya. Hingga buah dari pantauannya, tentu tentang penilaian lebih dalam pada sahabat saya ini, menantunya. Nggak ada yang salah, tak ada yang janggal. Bukankah semua berhak menilai? Hhee.

Ternyata, satu yang sahabat saya tidak sukai ini adalah penilaian mertuanya yang membanding-bandingkannya dengan menantunya yang lain. Mertuanya selalu punya penilaian lebih rendah untuk dirinya, dibandingkan dengan menantunya yang lain. Dan semua yang ia kerjakan seolah2 tak pernah lebih baik bagi mertuanya, dibandingkan dengan pekerjaan yang sama oleh menanyunya yang lain. Hhee. Naas ya.

Saya rasa wajar saja, biasa itu. Saya hanya tersenyum, lucu saja. Bukan karena apa-apa, akan tetapi menjadi lucu ketika ia bercerita masalah keluarga dengan yang lajang. Bercerita tentang tabiat mertua pada yang “bujang”. Dan diakhirnya malah meminta nasehat keluarga untuk permasalahannya pada yang belum berkeluarga. Bahkan diminta menasehati mertuanya. Aih, lucu saja. Dengan setengah memaksa tetap saja ia memohon wejangan. Aih aih aih.

Dalam keterpaksaan, saya hanya beri nasehat mudah saja. Karena memang belum berpengalaman dan belum melewati, saya lebih cenderung memberikan sedikit guyonan saja.

Jangan pernah salahkan mertuamu yang membanding-bandingkan dirimu dengan menantunya yang lain. Salahkan saja dirimu yang tak bisa menikahi anak tunggal.

Iya, kadang lebih enak mengevaluasi orang lain. Karena mengevaluasi mungkin salah satu nikmat Allah yang diberikan pada kita sampai kiamat. Lihatlah saja diri kita, jangan salahkan orang lain.

Hhee, bahkan untuk tertawapun, kadang lebih sulit menertawakan diri sendiri dari pada menertawakan orang lain. Dalam kesendirian sekalipun. Koreksi dan lindungi pribadi lebih wajib bagi kita sebelum mengoreksi dan melindungi orang lain. Wajarlah kita sering dengar dalam pesawat, ketika tekanan udara tiba-tiba tak normal, bagi yang membawa anak, pasanglah oksigen untuk anda sebelum memasangkannya pada anak.

Payakumbuh, penghujung Juni 2013.
Salam ngeblog capek pake hape

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s