Idola

Namanya Marc Marquez, pembalap muda yang begitu mengidolai Valentino Rossi. Seniornya dari segi umur, apalagi pengalaman. Dari kecil, Valentino Rossi adalah orang yang paling mendapat tempat didinding kamarnya dalam bentuk poster dengan berbagai gaya dan atraksi di arena balap dalam beragam sirkuit. Suatu saat ia bercita-cita bisa membalap dalam balapan yang sama dengan idolanya, Valentino Rossi. Itu saja.

Musim balap motoGP 2013 mengabulkan impiannya. Ia naik kelas ke kasta tertinggi para raja motoGP. Dan ia akan sepanggung dengan idolanya. Dadanya tak bisa lagi menhan bahagianya yang meluap-luap. Cita-citanya tercapai, berpacu dalam race yang sama dengan orang yang diidolakannya semenjak kecilnya.

Musim balap 2013 pun dimulai. Takdir berikan lebih dari sekedar angannya. ia lebih sering mengasapi idolanya dengan knalpot motornya. Ia telah kalahkan idolanya. Ia rangkul angan yang ia bingkis sejak kecil, se arena dengan idolanya. Bahkan lebih dari itu, akhirnya ia lebih baik dari idolanya.

Namanya Lee Chong Wei. Kebangsaan Malaysia, dan peringkat satu dunia dalam tunggal badminton. Idolanya Taufik Hidayat, yang dulunya pernah menempati peringkat satu dunia seperti Lee Chong Wei rasakan saat ini. Baginya, -dulu- bertanding melawan idolanya adalah cita-citanya. Urusan kalah menang itu nomor sekian. Yang penting sepanggung sajalah dulu dengan idolanya.

Hari ini cerita berbalik. Beberapa rentetan masa belakangan, ia hampir tidak pernah kalah dari idolanya. Tapi hormatnya pada idolanya tak pernah berkurang apalagi hilang. Bahkan, dalam pertandingan terakhir idolanya pada Indonesia Open Super Series 2013 sebelum pensiun, -Taufik Hidayat- idolanya pun kalah dengan pemain non unggulan. Pada turnament yang sama, Lee Chong Wei keluar -lagi- sebagai peraih medali emasnya. Mengharu biru, ketika penganugerahan medali ia memakai kaos WE LOVE TAUFIK. Ia begitu menaruh hormat pada idolanya, meskipun takdir telah paparkan saat ini bahwa ia jauh lebih baik dari idolanya.

Saya terhenyak saja pada sebuah kesimpulan kecil. Kita mungkin saja lebih baik dari manusia-manusia yang kita idolakan. Tetapi tidak jika itu Rasulullah SAW. Mustahil, sepertinya. -,-

*lama nya ngetik di hape*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s