Modem,Router dan Zakat Kita

 

Entah setan dari mana yang mengajarkan, kadang kita tanpa merasa bersalah membuat sesuatu yang simpel dengan bahasa yang sulit.

Saya, di kantor (eciyeee, yang punya kantor) beda usia dengan OB lainnya. Semuanya sudah bapak2/ibuk2, dalam arti kata nggak lagi lajang. Tapi gak apa2, kita tak bercerita masalah lajang nggak lajang, tapi tentang beda usia antara saya dan OB2 lainnya. Yang paling muda diatas saya usianya 38 tahun, itu yang paling muda lhoo, yang paling tua, jangan ditanya.

Saya ngantor, senantiasa membawa router wifi dan modem, maklum, ini bukan untuk kerjaan kantor jadi gak mau pake fasilitas kantor (gayanya, padahal karena banyak situs yang diblokir kantor). Jadi ya demi kebutuhan hape saya dan kebutuhan akses dunia luar yang lebih bebas makanya saya bawa router wifi sama modem sendiri ke kantor. Dan alhamdulillah kantor bebaskan listrik  untuk masalah cas ngecas.

Ada bapak2, dengan usia 50an, hampir pensiun, tapi menariknya punya rasa ingin tahu luar biasa, dan saya salut dengan rasa ingin tahunya. Semua barang2 yang ada diruang kerja saya, rata2 dia akan tanyakan nama ama fungsinya. Cuma, untuk barang2 berbau teknologi atau sejenisnya memang agak sulit untuk menerangkannya. Dan uniknya, bapak ini takkan berhenti mencari tahu kalau dia belum paham. Andai saja semua anak muda seperti ini! “(merasa tua).

Suatu saat, saya sukses menjelaskan tentang beda tabletPC, netbuk, notbuk. Di lain waktu saya juga sangat sukses menjelaskan tentang token eBanking. Pernah juga sukses menjelaskan hal-hal yang secara lumrahnya sudah sulit menjelaskan ke orang seusia dia. Tapi Alhamdulillah akhirnya juga bisa, tapi untuk router ama modem ini agak sulit memang.

Dia bertanya, apa bedanya sama kantor kita yang juga ada wifi, kan nggak ada alat2 ininya (sambil menunjuk router saya sama modem ). Saya jelaskan, dan akhirnya, tetap saja ia belum paham. “Router ini kan udah ada untuk apalagi modem, dua kali beli alat lah” katanya. Modem ini aja kan udah bisa internet ya kan? Ngapain la pake router lagi? Kan beli alat lagi? Ahh, pokoknya sulit dah njelasin… Saya merenung, memikirkan cara menjelaskannya. Open-mouthed smile

Saya analogikan, modem itu semacam hasil zakat yang terkumpul, sedangkan router itu ibarat amil. Jadi router itu ya memancarkan atau membagi-bagikan. Tapi ya tetap, amil takkan pernah berfungsi kalau gak ada zakat yang mau dibagikan. Gak ada gunanya router wifi itu, kalau nggak ada sumber yang mau dibagi semisal modem 3G. Jadinya dia komplit sepaket pak, biar semua bisa nikmati. Kalau zakat udah terkumpul, tak ada yang bagiin ya otomatis ngumpul gitu aja. Akhirnya dia paham sepaham2nya saya rasa, terlihat dari mantapnya langkah kakinya meninggalkan ruangan saya.

Saya tak tahu dapat ilham dari mana, hingga menganalogikannya dengan zakat. Wkwkw, ada2 aja, dan inilah yang membuat bapak itu paham, dan akhirnya keluar dari ruangan saya dengan puas sambil mengatakan tiap hari aku makin merasa usiaku belum 5x tahun (usia disamarkan), karena bisa bertanya sepuasnya samamu, katanya. Dan nanti kuajarkan ke anakku tentang ini katanya.

Saya benar-benar dari dulu meyakini, bahwa mengajarkan orang dengan bahasa yang ia mudah dimengerti itu adalah idealnya. Hadits juga mengajarkan demikian. Intinya, PERMUDAHLAH, JANGAN DIPERSULIT –davidsatria-

-bilikOB, 8 feb 2013-

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s