Seleksi Alam Kebaikan


Teori seleksi alam dalam bab evolusi pada kurikulum lama, bisa jadi telah kita lupakan. Lupakan jauh, semenjak teori-teori pendukungnya mulai sepi dari pendukungnya juga. Tapi satu yang kemudian menjadi teori yang tetap bisa kita pakai dalam siklus penyokong-penyokong kebaikan (baca:dakwah) , teori seleksi alam. Yaa, teori tentang siapa yang mampu beradaptasi dengan lingkungan maka ia yang akan tetap bertahan (dijalan kebaikan).

Seleksi Alam Kebaikan

Kalaulah kebaikan (baca:dakwah) itu hidup dan kehidupan, maka kita -penyokong-  hidup dan mencari penghidupan didalamnya. Analogi yang pas adalah bahwa kita adalah jerapah yang hidup pada jalan kebaikan, dengan tantangan seleksi alam kebaikan. Maka jalan kebaikan adalah jalan seleksi, yang tak selamanya satu individu bisa tetap bertahan. Kita (misal) adalah jerapah, yang akan tetap bertahan saat kita punya leher panjang. Dan kita juga akan jadi saksi saat jerapah-jerapah lain hilang dalam sejarah hidup.

Eliminasi adalah sunnatullah.

Tak ada yang perlu kita risaukan saat jerapah yang lain berhenti mengarungi likunya jalan kebaikan. Sunnatullahnya begitu, tak bisa kita menjamin semua jerapah punya leher panjang yang sama. Tetap saja pada satu kesimpulan, bahwa yang tak sanggup menggapai dahan, ia kan tersingkir. Jikalah dahan adalah tantangan, maka  ia kan terus naik, sunnatullahnya juga begitu. Makanya tak mungkin -selalu- kita meminta dahan yang rendah atau meminta dahan untuk tumbuh kebawah makin rendah, agar kita tak perlu memanjangkan leher kita. Kita hanya perlu meminta dan menjaga leher yang panjang, agar tetap bisa bertahan.

Lantas, apakah leher itu? Saya membahasakannya dengan niat, dan leher yang panjang adalah niat yang benar. Siapa yang paling benar niatnya maka ia paling kuat bertahan dalam kebaikan. Semakin naiknya dahan, semakin besarnya tantangan, adalah filterisasi sempurna dari Allah, tentang siapa yang akan jadi korban seleksi alam kebaikan.

Kita Berkompetisi

Hati-hati dan teruslah meyakini bahwa kita sedang berkompetisi. Inilah seleksi alam kebaikan. Selalu ada saja jalan yang kemudian menjadi sebab dimana kita tak bisa bertahan, seperti jerapah yang “gagal” memanjangkan lehernya untuk menggapai dahan tantangan. Hati-hati dengan kesibukan kita dalam kompetisi ini. Bisa jadi kesibukan kita, aktifitas pekerjaan kita, masalah akademik kita -skripsi,lab,laporan-, permasalahan keluarga kita adalah cara Allah untuk ‘mencampakkan’ kita dalam ranah kompetisi ini.

Ingatlah bahwa selalu saja ada yang lebih bisa ‘memanjangkan leher’ dibanding kita, yang siap menggantikan kita dalam ranah kompetisi dan seleksi alam kebaikan.  Jangan terlalu pede -PD- bahwa kompetisi ini membutuhkan kita sebagai partisipan, atau semisal menganggap kompetisi ini sepi peminat. Salah besar, sekali kita salah besar. Ini kompetisi dengan hadiah yang tak bisa dituliskan dengan angka-angka. Karena hadiahnya adalah nikmat unlimited.

Kalaulah cerita2 darwin dan temannya ada yang bermanfaat, saya rasa ini adalah salah satu yang bisa kita adopsi🙂

bilik OB, Batang Hari.

NB:

1. Teringat pada hadits tentang wasiat Rasulullah pada sahabat yang meminta nasehat padanya. Amantubillah, tsummastaqim -berimanlah pada Allah, kemudian istiqamahlah-

2. Catatan ini terkhusus untuk yang menulis dan untuk bg JHD yang memaksa menuliskan tulisan singkat ini. Moga-moga bermanfaat.🙂

3 comments

  1. Ndeh basabuik pulo, jadi terharu akh..😥
    Dakwah ini akan senantiasa hidup di tangan org yg kreatif, penuh ide segar dan bermuatan. Jgn berhenti utk menginspirasi. Syukrn sdh share.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s