Badut

Kadang kita bertanya, apalah enaknya jadi badut? Yaa, sepertinya emang gak enak. Siapa juga bilang enak coba? heeh. Menjelang tidur ini saya mendapat jawaban, tentang fenomena badut. Ya, ini tentang fenomena interaksi badut dengan orang-orang sekitarnya. 

Cobalah anda berjalan ke keramaian kota, objek wisata, atau tempat dimana saja anda bisa jumpai badut. Mendekatlah, dan kemudian berposelah untuk berfoto bersamanya. Lantas, setelah itu apakah anda bisa lari atau langsung berlalu tanpa “menyalami” badut sebagai ucapan terima kasih? Tidak bukan? Dan saya menemukan jawabannya sekarang, versi sayanya :p

Kenapa kita harus bayar? Karena ada satu hal yang saya dapatkan pelajarannya. Bahwa menyamar itu melelahkan. Bahwa menyamar itu bukanlah kondisi ideal yang diinginkan seseorang. Meski sekalipun itu adalah penyamaran yang semakin menaikkan derjat sipenyamar. Apalagi jika penyamaran yang semakin menjatuhkan harga diri penyamar.

Makanya, uang/tip yang kita berikan untuk sibadut pada setiap jepretan gambar, sepertinya lebih kepada menghargai ketidaknyamanan sibadut atas penyamarannya. Karena menyamar itu, melelahkan. Meskipun bagi orang lain sibadut lucu, sibadut merasa ia tidak lucu dalam penyamarannya :-}

Jadilah benar-benar orang baik, jangan pernah menyamar jadi orang baik. Karena itu akan melelahkan, meskipun hanya sejenak. Sementara menjadi orang baik, tidak boleh berhenti.  Ngapain nyamar jadi orng baik, jika jadi orang baik lebih menentramkan #NtMS

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s