Naik Angkot (lagi)

Lama sudah tak menyambangi angkot di Medan. Seakan sudah mulai lupa alunan musik karo, bunyi kaca2 angkot yang bergetar karena jalan yang tak rata ataupun karena sempalan anti vibrasi yang sudah kepas. Dan yang khas, tentunya sapaan akrab dan sumpah serapah sopir angkot ala Medan.

Berjalan, kemudian kelelahan hanya dalam hitungan ratusan meter adalah rasa yang sudah lama mulai terlupakan. Atau pada sapaan2 angkot yang lalu lalang,  135, D 95, 67, 63 dan banyak kode2 angkot lainnya. Ini adalah romansa, parade pengulangan sejarah beberapa bilang tahun yang lalu. Saya juga sudah lupa kapan terakhir kali menyeka keringat karena berjalan kaki.

Inilah kisah pejalan kaki, terpaksa berjodoh dengan angkot. Tapi kali ini saya benar-benar menikmati. Cita rasa dan tumpukan kenangan dizaman jalan kaki dan bersama angkot, benar-benar yang tak mungkin terlupakan.

Mungkin ini yang disebut hikmah. Saya semakin bisa bersyukur lebih lagi atas sepeda motor yang saya miliki hari ini, setelah mengulang parade cinta pejalan kaki dan angkot. Benar sudah, perlu lagi kita seaekali mengulang zaman susah untuk semakin bersyukur atas hari ini..

D95, Mansur-Pinang Baris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s