Merendang Ukhuwah [jilid2]

Yaa, kembali cerita rendang, rendang ukhuwah tentunya. hhee. Ini juga cerita yang tak pernah ada habisnya, seperti ukhuwah. Tak pernah bisa habis untuk dibagi.

Hanya satu yang tersisa yang kemudian saya baru bisa untuk tuliskan. Bukan karena apa-apa. Ini saya tuliskan karena menjadi bahagian yang penting dari cerita ukhuwah.  Juga cerita penting bagi rendang. Hhee. Hanya ingin nyatakan sedikit saja, bahwa pendapat ini benar tak benar, fakta nggak fakta, tapi saya rasa ada benarnya.

Ini tentang suatu point bahwa, kecanggihan teknologi tidak serta merta membuat cara memasak rendang lantas menjadi mudah. Sekali lagi tidak.  Teknologi apa yang manusia belum jangkau hari ini? Tingginya ilmu langit atau dalamnya –oceanologi- ilmu tentang laut dan seluk beluknya? Namun, untuk tetap bisa membuat rendang dengan citarasa campur tangan manusia, sepertinya teknologi secanggih apapun takkan bisa menyamainya. Setidaknya hingga hari ini.

Mengapa? Karena rendang juga dibuat dengan campuran kesabaran yang tak mungkin dipunyai mesin, semutakhir apapun dia. Begitu juga ukhuwah, membentuknya tak mungkin hanya dengan mengandalkan kecanggihan teknologi. Dan saya yakin, karena hal ini jualah kita belum jumpai hari ini mesin pembuat rendang dengan citarasa menyamai hasil karya manusia…

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong *

NB : masih gara2 ulah capucino..🙂. Ini juga hari-penuh warna, terserah kombinasinya masuk ataupun “balantak”.  Yang penting penuh warna, apapun ceritanya.

*) Do’a Robithah, terjemahan

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s