Kita Manusia, bukan Ayam…

tabayyun 

Ayat tersebut menjadi ayat yang istimewa dalam Al Qur’an, setidaknya bagi saya pribadi. Sepengetahuan saya, menjadi satu-satunya ayat yang didalamnya terdapat semua huruf hijaiyyah. Ya, semuanya. Dari alif sampai ya. Runutlah dan rincilah dengan teliti. Jangan-jangan kekeliruan saya dan beberapa orang yang juga mengatakan begitu membuatnya salah. Tapi saya tidak akan membahas tentang struktur huruf-huruf tersebut, karena mungkin banyak yang lebih faqih, paham dan lebih berhak untuk membahasnya. Hanya akan ingin berbagi sedikit hikmah kecil saja, dari lautan hikmah dan ibrah yang terdapat dalam al Qur’an.


Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka….. (qs. Alfath ;29)

Ternyata pada ayat yang istimewa tersebut –setidaknya menurut saya- bercerita tentang pribadi istimewa, Rasulullah SAW. Tentang akhlak mulianya, berkasih sayang sesama mereka, kaum muslimin. Saya –tertarik- bahas sepersekian bahagian dari sempurnanya akhlak mulia rasulullah dalam berkasih sayang. Bukan tentang berderma pada yang papa, atau membantu pada yang membutuhkan, atau memberikan yang terbaik dari yang kita punya. Karena om gugel seolah-olah takkan sanggup merangkum semua, karena begitu banyaknya opini tentang hal tersebut.

Yaa, kali ini mungkin akan mencoba berbagi pada shahibul qur’an semuanya. Tentang akhlak mulia Rasulullah menyikapi kesalahan, orang yang tersalah, atau yang dianggap bersalah. Karena, berkasih sayang sesama muslim juga harus ada pada semua fragmen hidup, baik ketika dia pada kebenaran apalagi pada posisi menjauhi kebenaran, semisal bersalah ataupun bermasalah. Kala berada pada kebenaran, kita menguatkan. Saat berada pada kesalahan, kita mengingatkan.

Sejarah Orang-orang bersalah dalam Alqur’an.

Pada banyak kisah, alqur’an sudah menuturkan pada kita tentang orang-orang yang bersalah. Baik pada zaman kenabian, bahkan pada zaman sebelum kenabian. Sebagaimana kita mengenal Ka’ab bin Malik, ataupun tentang cerita pasukan Thalut yang tidak mendengarkan petuah pemimpinnya. Atau tentang kesalahan nabi pertama dan banyak lagi yang lainnya.

Kenapa kisah-kisah orang bersalah juga harus dibahas dalam alqur’an? Tak lain dan tak bukan agar kita mengambil ibrah dari kisah-kisah itu. Seperti sekian banyak ibrah yang bisa kita ambil dari bersalahnya Kaab bin Malik. Pelajaran tentang, bagaimana menyikapi, menangani, dan menindaklanjuti sebuah kesalahan. Dengan tujuan akhir, supaya yang bersalah tak selamanya salah dan tak mengulangi kesalahan yang sama. Makanya perlu cara yang benar untuk menangani yang salah.

Saling Mengingatkan dan menasehati.

Satu ayat dalam surat al ashr sudah lebih dari cukup untuk menguatkan dalam hati kita, bahwa saling menasehati adalah salah satu kunci agar kita tak (lagi) rugi. Maka saudara kita yang bersalah atau dianggap bersalah, berhak untuk mendapatkan itu dari kita. Sebagai bagian dari tanda kita “berkasihsayang” sesama muslim.

Kita manusia, bukan ayam.

Kita ini manusia, yang mata kita selalu searah dengan mulut. Kemana mata menatap, kesanalah mulut bertutur. Siapa yang kita bicarakan, arahkan pandangan padanya. Bukankah tak menghormati, berbicara ataupun membicarakan si A tetapi melihat pada si B. Seperti itu juga kesalahan. Salah si A cukup bicarakan dengan si A. jangan dibelakangnya, karena itu tak sedikitpun membawa kebaikan padanya. Barangkali, itulah hikmah kenapa fisiologi kepala kita seperti ini, seiring sejalan anatara arah mulut dan mata.

Lain manusia lain pula ayam. Ketika mulutnya kedepan, matanya kesamping. Ketika mencoba memutar mulutnya kesamping maka matanya kedepan. Yang seperti ini cocoknya berkokok saja. Mungkin kurang lebih, seperti ini gambaran orang yang membicarakan kesalahan orang lain dibelakangnya. Sia-sia, tak ada manfaat bagi yang bersalah-atau yang dianggap bersalah- dan sudah pasti membawa mudharat bagi yang membicarakan.

Katakanlah pada saudara yang bersalah, tentang kesalahannya. Jangan katakan dibelakangnya. Karena tak sedikitpun ada manfaat bagi yang bersalah –jika ia memang bersalah-apabila kita membicarakan kesalahannya dibelakangnya. Sedikitpun tidak. Kadang kita terlalu memperbodoh diri, untuk tetap bermulut manis didepannya dan sibuk membicarakan kesalahannya dibelakangnya. Sekali lagi, tak ada Nampak “ruhama-kasihsayang” sesama kita jika kita seperti ini.

ayamwp

Satu hal yang harus kita ingat. Hati-hati ketika kita sibuk membicarakan kesalahan saudara kita dibelakangnya, jangan-jangan Allah sudah mengampuni dan menerima taubat dan penyesalannya. Tinggallah kita dengan dosa, karena senantiasa membicarakan keburukannya dibelakngnya. Atau tinggallah kita menerima transferan dosa darinya, atau berpindahnya pahala kebaikan kita padanya.

KESALAHAN TERBESAR KITA ADALAH, SALAH MENANGANI ORANG YANG BERSALAH DAN ATAU DIANGGAP BERSALAH. DAN ITU ADALAH MASALAH…

Nb ; Hanya opini pribadi saja, bisa jadi benar bisa jadi tak salah. Ketika merunut ayat setelah surat al fath ; 29 ternyata Allah bercerita tentang tabayyun. Barangkali boleh jadi, ini juga jawaban Allah atas orang-orang yang kita anggap bersalah. Tabayyunlah mungkin yang paling awal dilakukan. Sebagaimana bersegeranya Rasulullah mentabayyun kealpaan Ka’ab bin Malik dalam sebuah peperangan. Wallahu’alam bisshowab…

3 comments

  1. subhanallah mas bro tulisane apik tenan…

    Katakanlah pada saudara yang bersalah, tentang kesalahannya. Jangan katakan dibelakangnya. Karena tak sedikitpun ada manfaat bagi yang bersalah –jika ia memang bersalah-apabila kita membicarakan kesalahannya dibelakangnya. Sedikitpun tidak. Kadang kita terlalu memperbodoh diri, untuk tetap bermulut manis didepannya dan sibuk membicarakan kesalahannya dibelakangnya. Sekali lagi, tak ada Nampak “ruhama-kasihsayang” sesama kita jika kita seperti ini.

    disekeliling qta ini banyak juga yg sudah qta tampar tidak hanya dengan kata2 utk mengingatkan tapi mgkin Allah sudah tutup bashirahnya, sedih melihatnya…sesama muslim qta sendiri menghalalkan segala macam utk dunia yg hanya sementara, astaghfirullahal’adzhiem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s