Merendang Ukhuwah

Ukhuwah itu ibarat rendang, tempat dimana semua rasa-rasa akhirnya bermuara. Bahkan rasa tak enak sekalipun, semisal serai, kunyit, santan, bahkan rasa pedas semisal cabe dan merica. Hanya kesabaran mengaduk semua bahan dengan rasa tak terdefenisi itu yang kemudian meghasilkan rendang dengan kenikmatan rasa yang tak terbantahkan.

Berharap rendang hanya dari santan dan cabe saja, gulailah yang akan terhidang. Berharap membuang cabe dan merica dengan kepedasannya, mungkin kita sedang membuat kolak. Itulah rendang, tak bisa hanya dibuat dari yang manis saja. Atau yang pedas saja. Bak ukhuwah, bukan membersamai dalam manisnya saja, tapi menyertai dikala pahitnya juga. Berharap manisnya saja, sepertinya bukan berharap ukhuwah.

beef rendang

Ukhuwah ibarat rendang. Sejatinya awet dan tahan lama dibanding yang lain. Kalaulah ia dipaksa matang sebelum waktunya, jadilah ia “kalio”, atau jika lebih cepat dari itu maka gulailah yang akan hadir. Kalio bisa bertahan empat –lima hari, dan gulai sepertinya sehari saja. Membuatnya, bukan barang sekali duduk seperti gulai, bahkan sampai kita harus mengganti posisi antara duduk, setengah duduk, berdiri, membungkuk untuk membuatnya benar-benar jadi rendang yang sempurna, wajar saja kalau ia lebih awet.

Ukhuwah itu bak rendang, membuatnya butuh proses. Tak bisa ia ditinggal begitu saja seperti sayur, masukkan bahan semuanya, aduk-aduk sedikit, dan tunggu matang, dan siap dihidangkan. Tidak, sekali lagi tidak. Meninggalkannya, berarti membiarkannya hangus tak berguna. Butuh rutinitas mengaduknya, bukan proses satu langkah seperti merebus telur, atau dua langkah seperti membuat telur mata sapi. Ia kompleksitas tertinggi dari semua kerumitan, keuletan dan rahasia-rahasia kombinasi resep. Ia juga tentang waktu yang tepat, kapan harus memasukkan daging, kapan harus memasukkan bumbu-bumbu, kapan harus “memaksa” api nya garang, dan kapan ia harus si apibiru. Begitu juga ukhuwah.

Bumbu Rendang, kombinasi dari tumbuhan. Mulai dari umbi-umbian yang menghunjam dalam kebumi, atau pada dedaunan selutut, sampai pada buah kelapa yang menjulang kelangit. Semuany a bersatu dalam belanga. Mulai dari rasa kepedulian tertinggi, -semisal itsar- atau kepedulian kecil semisal perhatian saja.

Ukhuwah bak rendang, sudah hilangpun rasanya masih membekas. Tak tersisapun ia dimulut, dilangit-langit masih terasa. Begitupun ukhuwah, semuanya indah untuk dikenang. Bahkan ketika kenangan itu melibatkan orang-orang yang secara fisik tak kan pernah lagi bisa kita jumpai –mati-, tetap saja rasanya tetap berkesan.

Ukhuwah itu rendang, diwarna tak meriah dan menarik. Tapi dirasa jangan ditanya. Ukhuwah bukan untuk dilihat-lihat. Tapi ia untuk dirasa dicipi. Karena ia diwarnai dengan pengorbanan, kesabaran dan cinta, makanya warnanya tak merah menyala ataupun kuning ceria.

Ukhuwah ibarat rendang, semua ingin mengkalim bahwa itu miliknya. Seperti tetangga yang klaim rendang kita. Semua bebas mengklaim bahwa dirinya telah menghadirkan ukhuwah yang indah. Tetap saja, yang merasakan orang lain. Semua bisa klaim dirinya bukan perusak ukhuwah, tetap saja yang merasakan saudara kita. Kita hanya bisa klaim2an, seperti klaim2an tetangga kita atas rendang kita. Ahhh, sudahlah…

NB –>  Menanti waktu yang tepat, sambil mencari pertolongan untuk menghabiskan rendang buatan Bunda. Hee, bantuin dong..😉

*kok ditanyo2 mamasak a nan paliang lamo, Mungkin Marandang Ukhuwah jawabannyo.😉. Info se, Randang masuak 50 masakan terenak didunia..

9 comments

  1. Ckckk, bc tulisan ni teringat pulak rendang dikulkas. Mmg mantap rendang (ukhuwah) tu, sbntr aj dkluarkn dr kulkas, beku’y lgsg lumer, rs’y pn tk brubah. Ad yg sk rendang basah (bkn kalio), ada jg yg sk rendang kering (hitam). Basah dan Kering, yg penting RENDANG (Ukhuwah)!
    NB: foto’y bs jd model untk resep rendang di tabloid2 tu..😀

  2. hiksss
    awak dah mesan dan minta, tak kunjung sampai juga tuh rendang ke binjai..nasib belum berukhuwah kayaknya..loh hee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s