Kenapa harus ada 2610?

*Lama sangat tak menyambangi "rumah" ini…

Kenapa harus ada angka-angka itu? Kenapa musti ia terpampang,menempel bahkan melekat pada identitas-identitas pribadi? Hee, karena semua kita punya ke"spesial" an masing-masing. Dan untukku, angka ini spesial. Untukku. Kalau untukmu, bisa jadi tidak spesial, biasa saja, bahkan bisa jadi ia adalah angka menyebalkan. Semua kita tentu punya kespesialan tersendiri terhadap angka-angka. Kenangan buruk, baik, indah ataupun hari-hari mengesalkan.

Dan angka-angka favorit ini adalah representasi kehidupan kita. Tak semua orang menyukai apa yang kita sukai. Tak semua orang membenci apa yang kita benci. Ditengah ke "favorit" an saya atas 26, mayoritas bangsa ini malah lebih sepakat bahwa 26 adalah angkanya bencana. Ketika disebutkan, apa saja kejadian luar biasa dan spektakuler pada tanggal 26, maka semua rata-rata menjawab tsunami, gempa pangandaran, merapi, dll.

Heee, agaknya mereka lupa kalau ditanggal 26 ada anugerah yang besar telah hadir. Jiahhh! 🙂 . Semua mungkin saja juga lupa bahwa ada "calon" orang-orang besar yang kemudian wisuda tanggal 26. hehehe.. Ada saudara saya Adek Ferwanda 26 Februari, ada Auliya Syafrul 26 Mei, dan ada masih banyak lagi….

Lantas, 10 adalah penobatan atas kesempurnaan. Maka karenanya 2610 adalah semoga orang-orang yang punya ke "spesial" an dengan 26, mendapat kesempurnaan, 10. Ini hanya do’a, Hanya do’a, dan semoga diijabah… Amiin.
–> Dirumah ini juga kusematkan angka favoritku ini… 2610…
–> Menjumpai (kembali) sahabat2 terbaik…

*Beranda Rumah Gadang, DIiringi Gerimis Kota Batiah..
"bukankah ketika hujan adalah waktu2 mustajab atas do’a?
Taqabbal Yaa Kariim..
.

Tak Usah dikomentari

Kadang guyonan tetaplah guyonan. Tapi kalau menyangkut nyawa, maka ia bukanlah sebuah guyonan. Ia penzhaliman. Karena nyawa tak ada yang bisa mengurusnya untuk kembali. Kecuali pemiliknya. Guyonan tetaplah guyonan. Tapi tak lagi ada cerita tentang guyonan dengan nyawa. Karena nyawa bukan untuk dipermainkan, kawan…

*) Guyonan ini semakin menyadarkanku, bahwa banyak yang belum siap kehilanganku. Pun aku.
*) Menjumpai wanita berhati surga, sehatkah kau disana, Bunda..