Raso ka Mati…

Raso ka mati, * . Mungkin kita sering lisankan dan atau katakan dalam hati seperti itu. Tapi sadarkah kita bahwa, kita sedang benar-benar mengatakan sesuatu yang kita belum pernah mengalaminya? Bahkan, sangat tidak masuk akal kemudian, dengan mudahnya kita mengatakan hal demikian. Ada sebagian kecil orang yang mungkin mengungkapkan hal-hal tersebut sebagai sebuah tindakan reflek atas kejadian.  Seolah-olah mati adalah rutinitas sehari-harinya. Heehh..

Tak hanya pada mati saja kita sering meng-estimate-  kan beban-beban hidup, ujian-ujian hidup dan pengalaman pengalaman getir. Banyak hal-hal gaib yang kita belum rasakan, tapi seolah-olah kita sudah benar-benar menghafal rasanya. Seolah rasa-rasa itu terletak pada cache kita, bukan lagi pada memory. Sehingga terlalu cepat kita untuk bisa memanggil rasa itu. Seperti ungkapan saraso di narako (serasa di neraka). Belumpun ada saya rasa salah satu diantara kita yang sudah kembali dari sana.

Raso ka mati, raso di narako, adalah sebagian kecil saja dari ungkapan-ungkpan yang sering kita lisankan, atau terucap mungkin dalam hati. Tapi, yang kita perlu sadari adalah bahwa ungkapan-ungkapan tersebut dan sejenisnya adalah “hanya” pendekatan-pendekatan keduniawian. Tak ada bagian dari kita yang kemudian sudah mengalami rasa-rasa itu. Hanya pendekatan pendekatan yang mungkin hanya bisa kita lakukan. Bisa jadi, rasa-rasa yang kita ungkapkan itu sepersekian dari rasa yang sebenarnya. Atau sepersekian dari sepersekiannya lagi pada rasa yang sebenarnya. Kali saja, berjuta-juta kali lipat rasa yang sebenarnya sudah menanti kita.

Kalau kemudian kita mengeluh dengan rasa dunia dengan pendekatan akhirat (ghaib), sepertinya membandingkan tungau dengan alam alam semesta. Dan ini setidaknya juga estimasi kita saja. Karena, kalaupun tahu ukurannya, mungkin ukuran tungau saja yang kita bisa ukur. Dunia? Kembali lagi, hanya pendekatan-pendekatan kita saja.

Dan bahkan, susah senang kita, juga sering kita ukur dengan hal-hal yang kita benar-benar belum pernah rasakan. Seperti ungkapan orang lagi diuji, mengatakan bahwa Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam.Benarkah ia sudah mencoba melewatkan sekam dan duri di kerongkongan? 

Atau nikmat kita, kita ukur dengan ungkapan saraso di awang-awang (serasa di udara), atau bahkan lebih “wah” nya lagi dengan ungkapan saraso di sarugo (serasa di surga). Yaaaa, kita hanya bisa buat pendekatan-pendekatan. Dan rasa “original” nya kita belum nikMati. Raso kamati, raso diawang-awang, raso di narako, pendekatan-pendekatan saja. Mungkin rasa yang sebenarnya jauh lebih “wah” dari yang kita coba dekatkan hari ini. []

Kamar Inspirasi, medio april 2011

=====================================================================

*) Serasa akan mati, postingan penghilang sedikit rasa saja.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s