“Ismail-ismail” Kita

Ismail bagi Ibrahim adalah anugerah luar biasa yang Allah hadirkan diatas semua kesungguhan Ibrahim. Dan hadirnya Ismail bagi Ibrahim bisa jadi adalah cara Allah untuk melihat dan menguji Ibrahim tentang ketundukan, kepatuhan dan totalitas penghambaan. Apakah ketaatannya setelah dan sebelum hadirnya Ismail akan berubah? Akankah meningkat sebagai bentuk kesyukurannya atas apa-apa yang diidam-idamkan Ibrahim sekian lama. Atau bahkan ketaatannya sedikit berkurang karena perhatiannya sedikit tersita demi Ismail tercintanya.

Ditengah kesyukuran Ibrahim atas hadirnya Ismail, Allah meminta lebih pada Ibrahim. Lebih dari sekedar ketaatan saja, lebih dari sekedar kepatuhan saja. Tapi Allah meminta pada Ibrahim untuk membuktikan totalitas penghambaannya. Ia harus relakan cintanya –Ismail- harus ia sembelih demi kecintaannya pada pencipta Ismail. Tentu itu menjadi ujian yang berat bagi Ibrahim, karena Ismail baginya hadir dengan ikhtiar dan masa penantian yang panjang. Dan harus kemudian direlakan dengan cara-cara yang tidak lumrah dalam takaran rasional.

Dan hari ini, kita telah mendengarkan semua tentang kemurnian ketaatan Ibrahim pada penciptanya. Dan mengambil hikmah atas segala kisah ketaatan Ibrahim dan Ismail pada penciptanya tentu menjadi hal yang harus kita lakukan hari ini. Hikmah yang paling mendasar yang kemudian kita bisa petik hari ini adalah tentang semua upaya Ibrahim dan Ismail menjaga ketaatan. Bagi Ibrahim, penyembelihan Ismail adalah ekspresi kecintaannya pada pencipta Ismail. Dan hari ini bisa jadi kita punya “ismail-ismail” juga yang kita juga harus sembelih. Ismail-ismail yang kemudian ia akan sedikit mengontaminasi ketaatan kita kepada Allah, kalaulah tidak bisa dikatakan melenyapkan ketaatan kita.

Dan harta, hari ini bisa jadi ia menjadi “ismail-ismail” bagi kita yang kita juga harus sembelih kalau ia lebih kita cintai dari pencipta harta. Kalau ia kemudian juga berada pada urutan teratas dari prioritas kecintaan kita pada Allah. Dan ilmu yang kita cari, kalau kemudian dengannya membuat kecintaan kita pada pencipta ilmu sedikit luntur, maka sepertinya ada yang salah dalam kita mencari ilmu. Mungkin kita juga harus menata ulangnya.

Berhati-hati jugalah yang terbaik bagi kita hari ini, bisa saja hadirnya harta yang berlimpah, kecerdasan, dan waktu luang yang banyak, menjadi bahagian dari hal-hal yang akan menguji kemurnian ketaatan kita pada Allah. Ia layaknya seperti Ismail bagi Ibrahim. Dan hari ini, mungkin kita punya “ismail-ismail” yang lain yang akan Allah berikan untuk melihat pemurnian ketaatan kita kepadaNya. Kalau kemudian kecintaan kita pada “ismail-ismail” kita melebihi cinta kita kepada pencipta “ismail-ismail”, maka hari ini adalah momentum yang tepat untuk mnyembelih juga “ismail-ismail” kita. Menyembelih, dalam arti kata menata ulang kembali urutannya dalam prioritas kecintaan kita dan kemurnian ketaatan kita. Tentu saja dengan meletakkan pencipta “ismail-ismail” kita diatas segalanya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s