Putih Beriman

Putih beriman.

Putih beriman.

Saya baru mendengarnya dalam waktu dekat, ketika chatting dengan kawan-kawan lama. –sahabat2 terbaik nee–. Cuma, ketika mendengarnya, gak tau maksudnya. Entah apa maksud tersurat, tersirat apalagi,  atau apalah makna secara bahasanya. Kalau kemudian anda juga mendengarnya, apakah yang ada diingatan?  A pangana??

Durian? hmm, Putih didalamnya. Beriman, hmm.. Sepertinya iya. Kambing putih? Hmm, Luarnya aja udah putih, dalamnya, gak pala beda. Beriman juga seperti durian. –QS Al-Isra,44–  Dan lain-lain kemungkinan akan putih beriman, dengan ribuan (hehe, HTT, –hiperbol tingkat tinggi–) kemungkinan yang bisa, untuk putih beriman. Tetapi apakah memang itu yang dimaksud? Sepertinya tidak.

Beberapa waktu kemudian, sepertinya agak terjawab. Tentang orang. Tentang penilaian. Di chatbox katanya. Sepertinya sedang bukak kontak j*d*h online. Tapi tak berani bilang itu yang benar. Tentu sahabat-sahabat terbaik yang lebih tau. Atau brabgkali, juga nyari, sekedar teman dalam tanda kutip.🙂

Terserah yang benar yang mana, tetapi jujur, saya tertarik membahas dua kata tersebut, putih beriman. Bukan karena masalah-masalah  j*d*h cs.

putih beriman = beriman putih??!

Satu pertanyaan yang seharusnya kita harus bisa jawab, kenapa putih beriman, bukan beriman putih? Apa yang membuat kata putih lebih didahulukan dari kata beriman? Atau, apa yang membuat kata beriman harus diletakkan diakhir kata putih? Konsep apa? Kalaulah secara alphabet, tentunya beriman harus didahulukan dari pada kata putih. Secara, beriman diawali dengan “B”, sedang putih diawali dengan “p”.. Berarti, harus ada alasan lain, karena secara alphabet ternyata putih beriman tidak tepat.. So??

Ada pendapat yang mengatakan bahwa, karena putih itu yang duluan tampak, sedangkan beriman tidak tampak. Putih, kita semua punya parameter sama, sedang beriman, sulit untuk ditakar. Ada benarnya juga saya rasa pendapat seperti ini. Tapi, saya lebih tertarik untuk mengemukakan alasan pribadi saya, kenapa yang ada itu putih beriman, bukan beriman putih. Makanya ada cerita preman salah chasing . Barangkali begini.

Setelah mencari jawaban lain, mungkin hanya bisa pada pendekatan realita dalam penilaian manusia. Bahwa dalam penilaian kita, kebanyakan lebih mementingkan unsur fisik dari pada non fisik. Bahwa kita lebih sering tergoda oleh yang tampak dari pada yang tak tampak. Bahwa kita lebih sering tertipu oleh yang nyata dari pada yang kasat mata. Intinya, bahwa kita cenderung menjadikan parameter keduniawian sebagai prioritas dalam penilaian terhadap manusia.

Seakan-akan, bahwa unsur fisik yang tampak secara kasat mata akan abadi.  Sadar ataupun tidak,  unsur yang tidak tampak itulah yang kemudian menentukan posisi kita, pada hidup setelah hidup yang kita lihat secara kasat mata. Hidup yang sesungguhnya.

Teringat kata orang tua, “kabaranalah tahannyo rancak, gagah, paliang-paliang sampai tuo”😀

*mokasih u sahabat2 terbaik, sumber inspirasi. Untuak nan dak maraso sahabat terbaik cek lai..😀

17 comments

  1. owh gt,
    Jd putih beriman t sejenis a y da?
    I mean, kta benda,? Tp kta sifat gak e yeh-.

    Uhm, agk rumit memang,.

    Y, parameter plg gmpang t memang yg dpt dlht,.
    Kan Tidak bisa dipungkiri kalo “mato condong ka nan rancak, lidah condong ka nan lamak”
    So, memang baik putih beriman, alah putih beriman pulo, wehehe,
    Luar dalam manstabh!!

    *oy bhkan putih pun tdk sma parameterny, putih org afrika beda dg putih org china,
    Ya tak?
    Heheh

  2. Hehe.Putih kata benda, beriman kata sifat.
    Kalau salero condong kana pe**I tiiit.
    Yup, lebih baik putih beriman.
    Tp kok ndak beriman putih..
    Ah, sudahlah😀

    Yup, putih china?
    Ado yo urang chino nan dak putiah??
    yo lun sarobok lay..

    Batua juo, putiah afrika beda jo putiah chino.
    Putiah afrika alun suo lo lay
    *soalnyo wak main siko2 nyeh

    hehe🙂

  3. hehe,
    Iy y,
    Da main dkek2 rmh c ny y,

    Hmm,
    Knapa putih beriman, bkan beriman putih?
    Kalo putih beriman berarti penekanan ada pda beriman, putih hanya menerangkan,
    Nah, kalo beriman putih, sebliknya,.

    Uhm,
    Menurut hemat saya kr2 bgtu,.
    😀

  4. Hmm.
    Sebenarnya saya rasa ada hubungan kesetaraan pada keduanya. Jadi, ada pembatasan dengan tanda koma (,)..
    Begini–> putih, beriman. Kenapa tidak beriman, putih??

    d jdul aj yg tdk dkasih koma..😀
    biar mnarik..

    mnurut saya, ya masih sama dengan yang diatas, karena kita keseringan menomorsatukan pnilaian fisik dulu, sebelum non fisik..hehe🙂

  5. hmmm,,,

    saya baca saya baca!!!

    hmmm,,,
    apapun intinya,,,

    hidup putih beriman!!

    cet,,,ndak urang nan itu mukasuik ntan do,,,wlopun nyo emg PB,,,

  6. hmmmmmm………………………..
    ko ha…rank tinggaan jajak sketek setelah mancigok a…

    tergelak2 saia deknya…
    apa mau dikata emang mata tu condong ka nan coga
    baa ka aka???

  7. @lovena, intan, mirna
    Moksaih kunjungan e
    *perasaan kenal lah.
    dima yo??😀

    @lovena
    hmm, Pembahasan a tu e?
    ndak ngarati..🙂

    @intan
    eh, ada intan juga.. Sia k y??
    Urang?? Bkan, ndak ado rank ngecekan urang nyo yang itu do kan?
    kan cma ngatoan durian.
    *sambil manggut2, gak tau orang yang mana..

    Hidup putih, beriman tapi lebuh hidup lagi Beriman, putih..
    hehe

    @mirna
    wew, ada mirna!?
    ada jejaknya
    *sambil gigit jari
    tando n*rmal, tu mato condong ka nan coga..😀

  8. Menurut kesukaan hati orang muda, adalah selalunya selera berkehendak pada yang lezat, demikian pula mata, berhajat pada yang indah. Maka pandai-pandailah menimbang, jangan bulus sebab rupa elok, manis wajah…dalamnya hati siapa kira…

    Dapat didunia maya😀

  9. akhirnya setelah bersusah payah bisa juga ikutan nimbrung ngomentari…….
    *harus na siko yow..:-)*

    harusnya memang beriman putih dari makna yg tersirat maupun tersurat memang itu yang benarnya..

    kalo ditinjau dari EYD bahasa indonesia
    *jiaaahh pelajaran kelas berapa nech )
    memang bener karena beriman itu *dianggap kata benda* dan beriman memang kata sifat..
    struktur bahasa indonesia memakai pola D-M (diterangkan-menerangkan)
    ex: baju baru
    baju = hal yang diterangkan, baru=menerangkan

    putih beriman = jadinya yang diterangkan si putih nya…
    “si putih yang beriman”
    beriman putih
    “si beriman yang putih”
    *emang harus putih ya….???*
    kalo itam manis, itam kalek, itam stek dak bisa untuk jadi beriman
    *mikir mode on*

    pi yang memang racak memang bolak baliak 2 bahasa inggris (M-D) dan indonesia (D-M)
    bilingual

    Nb stek yow :
    Ado yo urang chino nan dak putiah??
    yo lun sarobok lay..
    berarti aku putih dunks …..
    hehehehe🙂

  10. Hehe..
    *tertawa lebar, merasa ada yang kecewa tentang warna2

    Hmm, se_ma_sa lupa baca komen sebelumnya.
    *payah, udahlah sinyal megap2, dah ngomenpun nggak baca2 dl yang diatas
    *dek talampau arok bisa ngomen e..

    putih beriman, hubungan kesetaraan, seharusnya –>putih, beriman. Biar menarik, dibuat seperti itu. putih beriman. Kenapa tidak beriman, putih, dan ciri2 selanjutnya.. Ada tanda koma (,).😀

    Tp itulah adanya, secara tata bahasa memang mungkin agak rumit. Tapi memang begitulah, kalau anak teknik ngebahas tentang bahasa. Agak lain memang, namun tetap dengan semangat saling berbagi.

    Selamat menikMATI, berbahasa Anak Teknik.😕

    NB : Chino C*ngkok an tu na yo ndak putiah do..😦

    Memang ndak *apek disabuik itam
    Tapi labiah ndak cocok disabuik putiah..

    “syukuri apa uang ada
    hidup adalah anugerah…”
    🙂

  11. komentar ciek lu..

    1. durian sabana lamak, apolagi nan dari Talu.
    2. “yang akhir itu lebih baik dari pada awal” oleh sebab itulah frasa beriman diletakkan di akhir karena ia lebih baik dari pada sekedar putih

    no connection MODE NYALA

  12. Hmm..

    Kalau sebelumnya, orang teknik bicara bahasa, sekarang anak h*kum juga mencoba.🙂

    Bisa jadi bang.
    1. Durian sabana lomak, polai nan dari talu, polai nan gretongan. Makin lamak. Kiriman lah ka Medan bang..
    2. Jawaban yang sudah pernah terlintas, namun menggilas kenyataan dari diskusi kami didunia maya. Sepakat, yang akhir penyempurna, seperti hadirnya Al-Qur’an. Makanya, kenapa tahiyat dalam sholat, letaknya diakhir. Karena, penyempurna do’a2 dan penghormatan.. Maknya, beriman, jadi penyempurna, dan penghormatan atas sekedar putih..😀

    Wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s