Dialog Ringan Pembuka Medan

Setelah lama tak berjumpa Medan, sebuah dialog ringan menjadi pembuka Medan. Terminal amplas, –yang terkenal angker– tak sia sia menjadi latar pembicaraan kami. Karena ini dialog peradaban orang-orang beradab, tentang orang-orang yang seharusnya beradab.. [hehe, barekna baso e yeh]. “kudengar kata ini dari lisannya”

Legam, hitam, kesat seperti amplas. Awalnya, aku beranggapan ia pengamen. Namun, kesat dan kasar suaranya ketika berbicara menghantam keras anggapanku padanya. Lirikan mataku kearahnya, semakin membenarkan kesalahdugaanku atasnya. Karna tangannya juga tak membawa sebuah gitar, layaknya pengamen kebanyakan.

Semakin dekat ia denganku, dan akhirnya bersandar pada bangkuku dengan memunggungiku. Anggapanku berubah drastis, setelah semakin jelas melihatnya dari dekat. Tampangnya, tak ada unsur seniman yang melekat sedikitpun dibadannya. Hilanglah kesempatan da menjadi seniman, setidaknya dimataku. –karena memang begitulah adanya–

Akupun, kemudian melanjutkan membaca berita yang sedang kubaca via hape, tanpa menghiraukan hadirnya -seniman tak jadi-. Alangkah kagetnya, ketika kutahu ternyata ia juga lagi membaca berita yang sama denganku. Kok bisa? Ya bisalah, karena ia juga baca lewat hape yang sedang kupegang. Nimbrung Coy..

Tentu, tak ada apa2 untuknya -kali itu- kecuali senyum keterpaksaan. Karena, kelelahan perjalanan sehari semalam, ditambah dengan par*de muntah penumpang dari segala penjuru mata angin barangkali. Harap maklum..

Masih dalam kekagetan, ia mulai membuka pembicaraan, tentang berita yang aku baca (tepatnya kami, tapi dia baca tanpa ijin🙂 ). Kebetulan berita yang sedang kubaca tentang perilaku anggota dewan yang terhormat, yang berkata2 kasar, saling hujat, saling caci, dan saling2 lainnya. Membuka cerita, sharing dan diskusinya begitu bernas, berisi.  Tentang pandangannya, argumentasinya, dan opininya, kembali menyita perhatianku dan membenarkan anggapan sebelumnya, bahwa ia bukan pengamen. Tepatnya, ia tak cocok jadi pengamen.

Cuma, terakhir aku tak bisa lupakan kata2nya.. “Awakpun sekarang bingung, yang preman awak apa orang-orang tu–anngota dewan–  Entah sejak kapan preman punya kantor”

Aku kemudian merenungi kebenaran kata2nya.. Tak ada celah untuk kemudian bisa menolak kata-katanya. Baru kutahu, ternyata ia seorang calo yang sedang mencari penumpang transit. Sepertinya, ia menjadi orang yang salah chasing dihari itu.

Ada apa dengan Akhlak??

Inilah, poin dari cerita berisiku dengannya. Orang yang menganggap dirinya preman, masih bisa mengontrol akhlaknya, —setidaknya, bersamaku tak kudengar umpatan murahannya–.

Teringat sebuah tatsqif  dari seorang ustadz, ketika pulang kampung, bahwa dari sekian banyak ayat Al Qur’an, tak ada satu ayatpun yang secara spesifik memuji Rasulullah tentang ibadahnya. Akan tetapi, ada ayat yang khusus memuji Rasulullah secara spesifik tentang kemuliaan akhlak beliau.  Hmm, begitu urgentnya akhlak. Akhlak adalah sebuah parameter utama dalam hidup. Ianya berguna ketika hidup, bahkan ketika hidup sesungguhnya.. –hidup setelah mati dalam format kasat mata–

Taklah berlebihan ungkapan abang preman kurasa. Dan benarlah semuanya. Bernaslah kata-katanya hari itu, setidaknya ditelingaku. Terakhir, akupun berpikir iseng, Mungkin Allah sengaja –seolah olah dimataku– memberi chasing yang salah untuk abang preman dengan anggota dewan yang terhormat (tidak semuanya). Menurutku, lebih tepat, chasingnya abang preman disana diganti dengan anggota dewan yang terhormat…

NB : Untuk abang preman, maaf salah patok.

Untuk semua, jangan pernah menilai dari chasing. hehe, apalagi yang mau beli hape..🙂

Frog1
Hmm..

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s