Hujan, Rahmat yang Tiada terkira

Selamat ramadhan chat2610, menikmati hari2

“alhamdulillahilladzitwasysyana birahmatihi faanzala ‘alainal amthooro”

Sebaris doa pembuka qunut diakhir Romadhan 1426H  oleh Muhammad bin Ali Ajmi, bercerita tentang rasa syukur atas nikmat hujan yang sudah lama tidak mereka lihat, di Bumi para nabi tentunya.

Hmm, sudah dua hari ini, di Medan nan ramah, hujan selalu mengiringi berbuka. Kemaren, dan hari ini terlebih lagi. Semuanya bercerita banjir, dimana-mana. Tak ada yang salah dengan hujannya. Bukan hujannya yang kebanyakan, tapi yang nampungnya yang nggak tahan.

Pergi sholat magribpun, harus bawa sarung cadangan. Air sudah tergenang, sedalam 10 cm diatas mata kaki paling rendah.  Paling dalam sedada bro (diparit pinggir jalannya). Selesai sholat, akhirnya langsuang pulang. Tentu dengan menyingsingkan lengan celana (mang ada ya?)😀 . Ya dengan tujuan supayah nggak basah bro. Tidak terlalu panjang jalan yang ditempuh, namun karena banjir, terasa sangat jauh bro. Hmm, dengan segala daya upaya, (cieeeeeh🙂 ), akhirnya nyampe dirumah. Pas mau ngebuka kunci rumah, saku celana dicek, hmm.. Nggak ada, saku baju, juga gak ada. Bah, Baru nyadar. Kunci ketinggalan dimasjid bro. hehe, kupikir, nikmatnya hujan tiada tara. Jalan lagi deh ke masjid. Tentu masih menyingsingkan lengan celana (waakakaka, sejak kapan celana punya lengan🙂 )

Diperjalanan, hanya bisa istighfar sambil teringat sebuah lirik lagu dari grup band horor. Yang ini nih,

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya

Sambil berkata dalam hati, kalian harusnya bersyukur,  cuma lupa syairnya. Namun tidak lupa sama kuncinya.  Sementara awak ni, Kuncinya aja lupa, apalagi syairnya..

hehe,😀 Ramadhan memang penuh berkah.

Rabb, jadikan kami menjadi hambaMu yang bersyukur. Tidak ada yang tersia yang engkau ciptakan..

6 comments

  1. pohon pinang tumbuh sendiri
    tumbuhlah menantang awan
    biar kambing di kampung sendiri
    tapi banteng di perantauan…

    yow dalam makna nyo mah..
    baru menyadari
    tepatnya baru sempat u memahami ^^

    medan masih menanti ????

    yow sadang bacari momen yg pas u sekedar melihat hujan di kota medan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s