Berburu Pecahan 2000: Hati-hati, Riba!

hati2000“Menjual emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum,kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama ukurannya. (timbangan/takarannya). Maka barang siapa yang melebihkan, atau minta dilebihkan, sungguh dia meribakan. Yang mengambil atau yang memberi, sama hukumnya”

(HR Muslim, dalam kitab Al Masaqat, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)

Setelah BI mengeluarkan pecahan uang duaribuan, masyarakat semua berbondong-bondong memburunya. Mencarinya, menukarkan dengan uang pecahan lain, untuk dapat memiliki pecahan duaribuan. Begitu diminati pecahan baru, sama nasibnya dengan uang pecahan-pecahan baru sebelumnya.

Tidak ada yang salah dengan penukaran uang tersebut.  Tidak juga masalah dengan niat untuk ikut menukarkan. Hanya saja, saya ingin mengajak atau mengingatkan  kembali untuk kita bersama. Menukarkan uang dengan pecahan duaribuan tidak ada dosanya saya rasa. Tapi ada yang harus kita waspadai, bahwa, bisa jadi pada akhirnya kita akan terjebak pada salah satu dosa, Riba.

Karena setahu saya, kebanyakan (tidak semua), penukaran uang pecahan duaribuan senilai seratus ribu, biasanya akan dibayar senilai seratuslimaribu, bahkan ada yang lebih. Dan ini tentunya tergolong salah satu riba. Riba Fadhl, kalau saya tidak salah. Terlepas dari redha, atau tidaknya kita, tetap dihukumi riba.

Sepertinya, kalau mau tetap menukarkannya, di Bank tentu lebih bijak. Sepertinya tidak ada melebihi, atau dilebihi.

NB : Jangan gara-gara mengejar manisnya tebu, dimakan sampai keakarnya..(pepatah orangtua teman, dimalahayati)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s