Slank Vs DPR

“Mau tau gak mafia di senayan

Kerjanya tukang buat peraturan

Bikin UUD ujung-ujungnya duit..” (*

Itulah sedikit bagian dari lirik lagu yang sekarang lagi hangat diperbincangkan. Lagu yang dibawakan oleh salah satu grup musik nasional sekitar empat tahun yang lalu. Minggu ini menjadi perbincangan menarik, setelah grup musik tersebut manggung atas undangan KPK dengan membawa lagu tersebut. Sehingga, ada kontroversi dalam lirik lagu tersebut yang menyinggung anggota DPR. Dan pada akhirnya, DPR menyatakan bahwa lirik lagu itu menyakiti DPR dan DPR tengah mengkajinya, apakah lirik tersebut termasuk penistaan terhadap lembaga dan layak ditindaklanjuti secara hukum.

Ditengah tuntutan DPR atas lirik lagu tersebut, ternyata salah satu anggota lembaganya tertangkap tangan melakukan praktek suap. Ironis memang. Dan kelanjutannya sudah pasti dapat ditebak. Tentunya sikap melunak DPR atas tuntutan terhadap lagu tersebut dan pada akhirnya, tentu saja akan hilang ditelan media.

Tentunya pelantun lagu tersebut tentu tidak dapat dibenarkan seluruhnya, dan tidak dapat juga disalahkan sepenuhnya. Begitu juga dengan DPR atas nama lembaga, juga tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, ataupun dipersalahkan seluruhnya.

Ada beberapa hal yang perlu kita cermati disini. Pertama, betapa lambatnya respek wakil rakyat terhadap rakyatnya sendiri. Ketika lagu tersebut sudah ada sejak empat tahun yang lalu, lalu mengapa baru sekarang dipersoalkan? Ketika memang hal tersebut mereka anggap sebagai penistaan terhadap lembaga, lalu mengapa responnya sangat lamban? Lalu bagaimana kalau masalah yang terjadi tidak membahayakan terhadap pribadi dan kelembagaan DPR? Mungkin lebih dari empat tahun responnya baru bisa dirasakan. Bahkan mungkin lebih lama dari masa jabatan mereka sebagai wakil rakyat. Semoga yang tersinggung atas lirik tersebut, dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari hal tersebut.

Kedua, grup musik pelantun lagu tersebut, sebagai bagian kecil dari masyarakat barangkali mereka tidak merasakan keterwakilan aspirasi mereka atas wakil mereka. Maka mau tidak mau mereka harus menyampaikan aspirasinya sendiri. Tentu saja tidak selalu sama dengan gaya wakil mereka menyampaikan aspirasinya. Dengan kata lain, mereka tidak membutuhkan penyambung lidah untuk menyampaikan aspirasinya, apakah karena memang lidah mereka sudah cukup panjang untuk menyampaikannya, atau karena kekecewaan yang berkepanjangan karena penyambung lidah mereka tidak berfungsi sebagai mana mestinya penyambung. Entahlah..

Ketiga, betapa Allah membuktikan yang sesat itu nyata dan yang benarpun nyata. Ditengah kontroversi masalah ini, Allah langsung jawab dengan fakta. Walillahimulkussamawati wal Ardh, wallahu ‘ala kullisyaiinqodir..kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.”QS Ali Imran, 189. Semoga pertolongan Allah senantiasa nampak lewat bukti nyata.

Keempat, terakhir, sebagai pelajaran bagi kita semua agar kita senantiasa hati-hati dalam bersikap dan berucap. Dan lebih bijak dalam bertindak. Sehingga tidak ada lagi tindak tanduk yang tak tunduk. Tidak ada lagi tutur kata yang tak tertata. Tidak ada lagi langkah yang tak padu. Sehingga energi kita lebih sempurna. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s