Bagaimana kabar tarawehmu kawan? Tidak adakah cerita yang bisa kau bagi?
. Apa yang bisa kudengar tentang tarawehmu? Atau mungkin bisa juga jadi taraweh kita?
Hmm, satu yang penceramah bulan ramadhan tidak pernah lupa katakan saya rasa adalah, bahwa satu kemajuan diantara sekian banyak kemunduran yang ada dalam tubuh umat Islam, disetiap tahunnya adalah masalah shaf shalat taraweh. Yang semakin kepenghujung Ramadhan, semakin maju. (baca:jamaahnya makin berkurang). Dan ini adalah budaya negeri ini, kawan. Tidak dimanapun, terkhusus dinegeri ini. Bagaimana dimasjid tempat kau taraweh, kawan?
Kawan, izinkan aku bertutur tentang tarawehmu.
Kawan, aku akan tuturkan kisah taraweh temanku, untukmu kawan. Karena kisah tarawehku, tidak jauh beda dengan kemaren. Tentang kemajuan itu.. Mungkin kalau ada, akan kubagi setelah ini, untuk siapa lagi, kalau bukan untukmu, kawan. tapi untuk sekarang, kau dengarkan saja temanku bertutur kawan. Dan aku sebagai penyambung lidahnya saja kawan.
Kawan, pernahkah kau membayangkan tinggal dan menjalani hari-hari Ramadhanmu di lingkungan minoritas? Menikmatikah? Atau MenikMATIkah?
. Temanku sudah mencobanya kawan. Bagaimana sulitnya mencari tempat sholat taraweh, sulitnya mendengar azan waktu berbuka. Hmm. Terpaksa memakai ilmu kirologi (kira2) untuk jadwal imsak dan iftharnya (buka).
Kalau kau masih bisa memilih masjid kawan, maka beryukurlah sepenuh rongga dadamu. Bisakah kau bayangkan kawan, bagaimana temanku kesulitan bahkan untuk sekedar mencari masjid saja. Bahkan kawan, temanku butuh satu minggu untuk akhirnya sekedar bisa menemukan tempat sholat taraweh kawan. Bukan dimasjid seperti tempatmu sholat kawan. Tapi di Teras rumah warga. Katanya orang kaya yang baik hati disana (bisa jadi nih satu-satunya disana).
Hmm, inilah pelajaran pertama kawan. Makanya kawan, mumpung kau masih bisa memilih masjid disaat temanku masih sholat d teras rumah warga, janganlah kau menjadi bahagian yang akhirnya menyebabkan shaf sholat taraweh menjadi maju kawan. Setidaknya, kalau memang kau tidak bisa membuat shaf itu makin ramai kebelakang, minimal kau jadi bahagian untuk membuatnya tetap, jangan sampai maju.
Parahnya kawan, temanku bertutur bahwa hampir semua yang sholat taraweh disitu, semuanya P*T (Pembantu Rumah Tangga). Sampai-sampai kawan, temanku dikira juga P*T seperti mereka. Sampai ada yang nanya “mbak baru ya, kerja di rumah mana”. Hmm, padahal temanku tidak begitu mirip P*T. Walaupun tak bisa dibilang mirip konglomerat juga. hehe
.
Pelajaran kedua dari kisah temanku untukmu kawan, kau kembali juga harus bersyuur bahwa, ketika sholat taraweh tidak ada yang mengira bahwa dirimu P*T, walau sekalipun kau memang P*T kawan, tapi tidak ada yang pernah menanyakan pada dirimu seperti itu kan. Maka, kembali kukatakan kita memang harus banyak-banyak bersyukur kawan.
Lantas, temanku bertanya kawan, orang-orang kayanya pada kemana semua? Saat P*T mereka menikmati indahnya ukhuwah, dalam balutan kekhusu’an sholat taraweh, orang kayanya nggak tahu pada taraweh kemana. Mungkin gengsi ya sama P*T kok gabung. Hmm, atau memang nggak sholat taraweh ya?? (prasanga bai aja teman).
Pelajaran ketiga, Kaya memang bisa menjauhkan kita dari tuhan, kawan. Seperti Qarun misalnya, tapi itu bukan harga mati kawan. Bukankah kita juga kenal kisah Abdurrahman bin Auf, dengan kayanya juga tidak menjauhkan dirinya dari tuhannya. Kita tidak selalu dicekcoki dengan kisah sya’labah kawan, tidak juga dengan Qarun. Masih banyak kisah orang2 kayayang terpuji kawan.
Semoga sejarahmu menjadi tambahan orang kaya yang baik hati kawan. Menyediakan suatu saat tempat, agar temanku tidak lagi sholat taraweh di teras rumah, atau di pelataran mall, dengan sound system indoor, yang hanya bisa untuk sekedar bisa mendengar takbirnya imam.
Kalau kau sudah kaya, kawan, jangan pernah abdikan dirimu untuk menjadi sya’labah-sya’labah millennium, atau qarun-qarun millennium. Karena dunia ini sudahbegitu sumpek dengan qarun2, tidak lagi kau dibutuhkan untuk jadi tambahan qarun2 yang baru kawan. Cukup sudah, kau coba saja menjadi Abdurrahman bin Auf millennium, kawan. Kalau kau masih belum kaya, kawan, tidaklah mengapa. Kau juga harus bersyukur, setidaknya peluangmu untuk menjadi Qarun2 baru, tidak sebesar ketika kau kaya. Pelajran keempat ini kawan.
Itulah cerita temanku kawan, pelajaran yang sama, dari yang pertama sampai keempat, dimana aku, kau, temanku, dan kita semua harus bersyukur kawan. Karena kita sudah sama2 tau kawan, lainsyakartum laadzidannakum..
NB : Salam dari temanku, untukmu kawan. Semoga kau bisa ambil pelajaran dari kisah temanku, kawan..
.: ekspresi :.