Sajak hari ini…

2 10 2009

hari ini, tak lagi hari-hari kemaren

hari ini, segalanya  satu

satu rona, hitam pekat

satu rasa, duka cita

satu kenangan, kesedihan

satu bentuk, puing-puing

pun tempat kembali,satu

bak dulu kukatakan

padamu, padanya, pun padaku…

[]

puing-puing, satu rupa

puing-puing, satu rupa

Satu rasa, duka cita

Satu rasa, duka cita

Indah, pada waktunya

Indah, pada waktunya

beberapa preview, setelah gempa. Tak sulit bagi Allah ‘memodifikasi’ nya. tak butuh waktu lama.

Kawan, beberapa visualisasi pasca gempa yang telah kubingkiskan. Unduh saja disini. Bukan hasil foto profesional, tapi hanya sekedar koleksi. Maaf kalau padanya tidak ada nilai estetikanya. Karena ia memang bukan untuk itu. []

NB: Lanjutan postingan insya Allah akan diteruskan.





H -8 Jam, Sebelum Gempa SumBar

2 10 2009

Sebelum gempa,sempat menikmati indahnya kota Padang dengan sahabat lama [sampai sekarang masih sahabat juga sih]. Dan sempat mengabadikan tempat, yang pascagempa tidak tahu bagaimana kondisinya, mengingat akses untuk kesana belum bisa.

Semoga tempat tersebut masih ada.. Amiin. Untuk kemudian, Allah berikan lagi kesempatan untuk kembali menikmati indahnya kota Padang bersama sahabat terbaik dari sana, suatu saat kelak.

sahabat terbaik,

sahabat terbaik

Pasca gempa, banyak bekas longsor disana. Wallahu a’alam, semoga tidak ada yang berubah darinya. Batu Busuk, rupamu tak seburuk namamu. Suatu saat, kami pasti merindukanmu..[]





Ied Mubarak… [ Sebuah Persembahan E Card ]

20 09 2009

Biarkan hari lebaran

Melerai hati yang lama resah

Demi sebuah persaudaraan

Rapatkan jurang yang menjadi pemisah

Berteduh dirimbunan Aidil Fithri

Mengutip Maghfirah dihalaman ilahi

Sesejuk embun dingin dipagi hari

Hanya setetes disyurga yang abadi…

NB : Kubingkiskan Kartu Lebaran untukmu, Kawan. Kuharap, kau bisa mengunduhnya. Jika berminat, Disini sudah kutitipkan.





Berpulang ke Peraduan..

10 09 2009

mengejar ketertinggalan dengan pulkam

Akhirnya, Semua sudah terkumpul.

Sesuap Nasi, Segenggam B**l***, Sekeranjang E***. Tentu terumpul sebanyak standarku, bisa jadi standar kita beda. Sesuap kita, segenggam kita, ataupun sekeranjang kita bisa jadi tak lagi sama..

Untuk semua, mohon didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. (pulkamnya). :D . Untuk yang belum pulang, atau yang tidak bisa pulang, tak usah cemas. Dibelahan bumi manapun, selatan, timur, barat dan juga utara. Kubingkiskan kata-kata saja untukmu. Semoga kau redha, walaupun hanya dengan kata-kata. Itupun bukan kata-kataku, Kata2 temanku malahan, kawan.

Rindu Yang Mencengkam Di Hati
Menambah Pilu Di Sanubari Ini
Kenangan Lama Menerjah Kembali
Bahagia Terasa Ketika Kau Berada Di Sisi
Oh
Ibu
Ayah

Kini ku Hanya Tinggal SenDirian

Baru Kini ku Sedari
Segala Milik Ilahi
Tiada Yang Kekal AbaDi
Hanya Doa Dariku
Moga Rohmu Dirahmati

Amiin..

NB : Salam sejahtera untukmu, maafkan segala  khilaf dan salah, dan kupohn doa darimu. Pesan bunda temanku, untukmu kawan. Jnagn sampai seperti pepatah ini. “Dek harok jo manih tabu, bapupuah sampai ka ureknyo”

Bismillahirrahmanirrahim, Anak mudanya  mau kembali ke peraduan.

:D





09.09.09 jam 09.09.09, Ada apa (lagi)??!

8 09 2009

09.09.09

Ada jam cantik di Tanggal cantik.?!

Kawan, untuk kesekian kalinya, kita aan lewati kembali jam cantik pada tanggal cantik.(Jiaah, Seperti no hape aja, pae cantik segala :) ) 05.05.05 kita juga sudah lewati, begitu juga 2006, 2007,2008, dan hari ini, jam cantik pada hari cantik akan mendatangi kita, ditahun 2009, kawan. Apa isu yang sudah kau dengar kawan?  Masih sama dengan tahun kemaren-kemaren? Tentang kiamatkah masih? Hmm, atau tsunami? Atu gempa, yang belakangan menjadi keseharian kita kawan?

Sampai Kapan?!

Kawan, sampai kapankah kita bisa berhenti mendengar kisah serupa, kawan?  Untuk berapa tahun kedepan? Sepuluh tahun, lima belas, duapuluh, atau bahkan dia akan menjadi kisah abadikah kawan? Lengket, tak terpisahkan dengan usia bumi, kawan?

Inilah negeri kita, kawan. Negeri tempat surganya mitos bertebaran. Saat angan-angan berkaitan dengan keberuntungan. Saat angka-angka bersentuhan dengan malapetaka.  Saat hari-hari berhubungan dengan untung rugi. Saat tanggal-tanggal terhubung dengan sukses dan gagal. Saat nama-nama berimbas pada semuanya. Hmm, inilah negeri kita kawan.

Inilah negeri kita kawan. Negeri tempat tumbuh suburnya peramal. Dimana semakin hari, semakin banyak yang menggantungkan nasibnya pada kata-kata ketik REG (spasi) xxxxx. Seolah, semua mau mencoba untuk menjadi bodoh dengannya. Malangnya nasib kita kawan..

09.09.09 jam 09.09.09

Masihkah kau dengar cerita seperti jam cantik pada tanggal cantik tahun lalu kawan? Masih tentang kiamatkah? Hmm, sudah berapa tahun belakangan kita dengar kawan, seolah-olah sudah ada hari pastinya. Dan seolah-olah Allah menggantungkannya pada jam cantik di hari cantik. Hah, haruskah ita mengaitkan hari cantik, jam cantik dengan kejadian2 besar kita, kawan? Macam manusia purba saja.. (modus Medan is ON)

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS, Al Mulk, 26)

Cukuplah satu ayat saja memjawab kekeliruan kita, akan kapan datangnya waktu itu, kawan. Tak usah lagi, kita coba mengaitkan tanggal-tanggal, nama-nama, hari lahir dan sejenisnya dengan nasib kita, dengan keberuntungan kita dan dengan semua kejadian-kejadian besar (semisal :kiamat) kawan..

Salam Ramadhan, udah 19 nih.. :)

NB : Happy Milad untuk yang dapat di tanggal cantik,  Semusim. M*rcell. :D . Mungkin baginya, ini jauh lebih istimewa dari cerita2 kumal diatas. Baginya saja barangkali…





Peri(h)bahasa : Kisah Tarawehku (lagi)…

7 09 2009

padiKawan, singkat saja, ada lagi kisah tarawehku untukmu kawan. Hmm, kali ini aku akan bercerita tentang peribahasa kita kali ini, kawan. Peribahasa, fenomena yang ada, dan mengambil ibrah dengannya.

Pernah mendengar peribahasa ilmu padi, kawan?! Itu, yang “Semakin Berisi semakin Merunduk”. Masih ingat kan? Hmm. Kita akan menyoroti sisi lain dari peribahasa ini kawan. Kawan sesekali lihatlah,  ada orang yang tertidur sambil duduk mendengar pengajian. Itulah yang dimaksud dengan peribahasa kita. Semakin berisi, semakin tunduk.. :D . Semakin perutnya penuh terisi, semakin “khusyu’”  lah menunduk kebumi (baca:tertidur). Hmm, kapanlah bisa ilmu yang didapat masuk kawan..

Kawan, itulah peribahasa kita, cukup kau terapkan peibahasa yang baiknya. Semakin berisi, semakin tawadhu’ dan rendah hati. Tinggalkan peribahasa ini sebelum pergi taraweh kawan. Jaga perut, bagi tiga diwaktu buka, air, makanan, dan udara juga punya hak yang sama dalam perut kita kawan..

Betullah kata temanku, kawan. Bisa jadi suatu saat, peribahasa akan menjadi, Perihbahasa.

Hmm, :D . Ada benarnya juga..





Indahnya Ukhuwah

5 09 2009

Kawan,  lihatlah betapa Indahnya ukhuwah. Ini cerita tarawehku juga untukmu, kawan. Lihatlah, indahnya  ukhuwah.  Bisakah kau bayangkan, semua pahlawan berkumpul, untuk sholat jama’ah kawan. Ataupun untuk duduk bersama mendengar tausyiah dari Ustadz kawan. Hmm, Sayang, sekarang cuma bisa berkhayal kita, kawan. Tapi suatu saat, semoga ini menjadi kenyataan kawan. Amiin..

Indahnya ukhuwah terasa

warnai hari-hari kita

karena kita adalah saudara…

:D

Indahnya ukhuwah





Hujan, Rahmat yang Tiada terkira

5 09 2009

Selamat ramadhan chat2610, menikmati hari2

“alhamdulillahilladzitwasysyana birahmatihi faanzala ‘alainal amthooro”

Sebaris doa pembuka qunut diakhir Romadhan 1426H  oleh Muhammad bin Ali Ajmi, bercerita tentang rasa syukur atas nikmat hujan yang sudah lama tidak mereka lihat, di Bumi para nabi tentunya.

Hmm, sudah dua hari ini, di Medan nan ramah, hujan selalu mengiringi berbuka. Kemaren, dan hari ini terlebih lagi. Semuanya bercerita banjir, dimana-mana. Tak ada yang salah dengan hujannya. Bukan hujannya yang kebanyakan, tapi yang nampungnya yang nggak tahan.

Pergi sholat magribpun, harus bawa sarung cadangan. Air sudah tergenang, sedalam 10 cm diatas mata kaki paling rendah.  Paling dalam sedada bro (diparit pinggir jalannya). Selesai sholat, akhirnya langsuang pulang. Tentu dengan menyingsingkan lengan celana (mang ada ya?) :D . Ya dengan tujuan supayah nggak basah bro. Tidak terlalu panjang jalan yang ditempuh, namun karena banjir, terasa sangat jauh bro. Hmm, dengan segala daya upaya, (cieeeeeh :) ), akhirnya nyampe dirumah. Pas mau ngebuka kunci rumah, saku celana dicek, hmm.. Nggak ada, saku baju, juga gak ada. Bah, Baru nyadar. Kunci ketinggalan dimasjid bro. hehe, kupikir, nikmatnya hujan tiada tara. Jalan lagi deh ke masjid. Tentu masih menyingsingkan lengan celana (waakakaka, sejak kapan celana punya lengan :) )

Diperjalanan, hanya bisa istighfar sambil teringat sebuah lirik lagu dari grup band horor. Yang ini nih,

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya

Sambil berkata dalam hati, kalian harusnya bersyukur,  cuma lupa syairnya. Namun tidak lupa sama kuncinya.  Sementara awak ni, Kuncinya aja lupa, apalagi syairnya..

hehe, :D Ramadhan memang penuh berkah.

Rabb, jadikan kami menjadi hambaMu yang bersyukur. Tidak ada yang tersia yang engkau ciptakan..





Disaat Kita Masih (bisa) Memilih Masjid…

5 09 2009

Bagaimana kabar tarawehmu kawan? Tidak adakah cerita yang bisa kau bagi? :D . Apa yang bisa kudengar tentang tarawehmu? Atau mungkin bisa juga jadi taraweh kita?

sholat jamah

Hmm, satu yang penceramah bulan ramadhan tidak pernah lupa katakan saya rasa adalah, bahwa satu kemajuan diantara sekian banyak kemunduran yang ada dalam tubuh umat Islam, disetiap tahunnya adalah masalah shaf shalat taraweh. Yang semakin kepenghujung Ramadhan, semakin maju. (baca:jamaahnya makin berkurang). Dan ini adalah budaya negeri ini, kawan. Tidak dimanapun, terkhusus dinegeri ini. Bagaimana dimasjid tempat kau taraweh, kawan?

Kawan, izinkan aku bertutur tentang tarawehmu. :)

Kawan, aku akan tuturkan kisah taraweh temanku, untukmu kawan. Karena kisah tarawehku, tidak jauh beda dengan kemaren. Tentang kemajuan itu.. Mungkin kalau ada, akan kubagi setelah ini, untuk siapa lagi, kalau bukan untukmu, kawan. tapi untuk sekarang, kau dengarkan saja temanku bertutur kawan. Dan aku sebagai penyambung lidahnya saja kawan.

Kawan, pernahkah kau membayangkan tinggal dan menjalani hari-hari Ramadhanmu di lingkungan minoritas? Menikmatikah? Atau MenikMATIkah? :D . Temanku sudah mencobanya kawan. Bagaimana sulitnya mencari tempat sholat taraweh, sulitnya mendengar azan waktu berbuka. Hmm. Terpaksa memakai ilmu kirologi (kira2) untuk jadwal imsak dan iftharnya (buka).

Kalau kau masih bisa memilih masjid kawan, maka beryukurlah sepenuh rongga dadamu. Bisakah kau bayangkan kawan, bagaimana temanku kesulitan bahkan untuk sekedar mencari masjid saja. Bahkan kawan, temanku butuh satu minggu untuk akhirnya sekedar bisa menemukan tempat sholat taraweh kawan. Bukan dimasjid seperti tempatmu sholat kawan. Tapi di Teras rumah warga. Katanya orang kaya yang baik hati disana (bisa jadi nih satu-satunya disana).

Hmm, inilah pelajaran pertama kawan. Makanya kawan, mumpung kau masih bisa memilih masjid disaat temanku masih sholat d teras rumah warga, janganlah kau menjadi bahagian yang akhirnya menyebabkan shaf sholat taraweh menjadi maju kawan. Setidaknya, kalau memang kau tidak bisa membuat shaf itu makin ramai kebelakang, minimal kau jadi bahagian untuk membuatnya tetap, jangan sampai maju.

Parahnya kawan, temanku bertutur bahwa hampir semua yang sholat taraweh disitu, semuanya P*T (Pembantu Rumah Tangga). Sampai-sampai kawan, temanku dikira juga P*T seperti mereka. Sampai ada yang nanya “mbak baru ya, kerja di rumah mana”. Hmm, padahal temanku tidak begitu mirip P*T. Walaupun tak bisa dibilang mirip konglomerat juga. hehe :D .

Pelajaran kedua dari kisah temanku untukmu kawan, kau kembali  juga harus bersyuur bahwa, ketika sholat taraweh tidak ada yang mengira bahwa dirimu P*T, walau sekalipun kau memang P*T kawan, tapi tidak ada yang pernah menanyakan pada dirimu seperti itu kan. Maka, kembali kukatakan kita memang harus banyak-banyak bersyukur kawan.

Lantas, temanku bertanya kawan, orang-orang kayanya pada kemana semua? Saat P*T mereka menikmati indahnya ukhuwah, dalam balutan kekhusu’an sholat taraweh, orang kayanya nggak tahu pada taraweh kemana. Mungkin gengsi ya sama P*T kok gabung. Hmm, atau memang nggak sholat taraweh ya?? (prasanga bai aja teman).

Pelajaran ketiga, Kaya memang bisa menjauhkan kita dari tuhan, kawan. Seperti Qarun misalnya, tapi itu bukan harga mati kawan. Bukankah kita juga kenal kisah Abdurrahman bin Auf, dengan kayanya juga tidak menjauhkan dirinya dari tuhannya. Kita tidak selalu dicekcoki dengan kisah sya’labah kawan, tidak juga dengan Qarun. Masih banyak kisah orang2 kayayang terpuji kawan.

Semoga sejarahmu menjadi tambahan orang kaya yang baik hati kawan. Menyediakan suatu saat tempat, agar temanku tidak lagi sholat taraweh di teras rumah, atau di pelataran mall, dengan  sound system indoor, yang hanya bisa untuk sekedar bisa mendengar takbirnya imam.

Kalau kau sudah kaya, kawan, jangan pernah abdikan dirimu untuk menjadi sya’labah-sya’labah millennium, atau qarun-qarun millennium. Karena dunia ini sudahbegitu sumpek dengan qarun2, tidak lagi kau dibutuhkan untuk jadi tambahan qarun2 yang  baru kawan. Cukup sudah, kau coba saja menjadi Abdurrahman bin Auf millennium, kawan. Kalau kau masih belum kaya, kawan, tidaklah mengapa. Kau juga harus bersyukur, setidaknya peluangmu untuk menjadi Qarun2 baru, tidak sebesar ketika kau kaya. Pelajran keempat ini kawan.

Itulah cerita temanku kawan, pelajaran yang sama,  dari yang pertama sampai keempat, dimana aku, kau, temanku, dan kita semua harus bersyukur kawan. Karena kita sudah sama2 tau kawan, lainsyakartum laadzidannakum..

NB : Salam dari temanku, untukmu kawan. Semoga kau bisa ambil pelajaran dari kisah temanku, kawan.. :D





Maaf Kawan, Kucopy Puisimu dan Kubedah..

3 09 2009

Baru saja melihat dan membaca  puisi.  Kerjaan kurang kerjaan kata teman yang lain. Tapi tidaklah mengapa, sedikit saling jalasat (berbagi). Apakah yang membuat menganggap ini puisi? Entahlah. Tapi, setidaknya aku menganggapnya puisi fren. Ini adalah edisi maaf kawan kedua. :D . Setelah sebelumnya, Maaf kawan, aku tak lagi bisa ikut dalam parade statusmu.

kehilangan dunia ini telah membayang-bayangiku,
sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini,
beberapa detik lagi,atw beberapa menit lagi mudah2an,
sudah cukup rasanya aku bersenang2 di dunia ini,
allah telah memanggilku…,
allah menyuruhku siap2
dan kita takkan bersua lagi disini,
aku sangat ingin dekat dengan rabbku,
teman2 f*cebook ku, maaf atas kesilapanku selama ini..
aku ingn bersih menghadap tuhanku…
mohon maaf nya…
dan aku juga tlah maafkan kesalahan teman2 semua klw seandainya ada salah…wassalam

Hmm. Sebenarnya, Tidak ada yang aneh dengan puisi itu. Bagus, merasa ajal senantiasa mengintai. Bukankah orang yang cerdas, juga adalah orang senantiasa mengingat kematian.  Kapanpun dan dimanapun. Karena memang begitulah hakikatnya kematian dan ajal.  Laa yasta’khirunaasaah. Walaa yastaqdimuun.

Yang ngebuat puisi

Sepertinya orang yang baru menyadari sesuatu hal yang besar. Ciee.. Sesuatu yang bisa dan telah menyita perhatiannya pada tuhannya. Ntah apalah namanya itu. Sepertinya f* yang menjadi pasal. (setelah berdiskusi dengan kawan lain di dunia maya). Kalau kata temanku yang lain, ini puisi orang yang kurang perhatian, walaupun aku tidak sependapat, namun tidak juga bisa menolaknya mentah-mentah. Entahlah. Karena, katanya, seseorang akan digubris oleh semuanya ketika ia sudah merasakan kematian begitu dekat. Dan semua akan mendekat dan mulai memperhatikan kita, jika ita membahas kematian kita. Dan sepertinya teori ini ada benarnya juga.

Maaf ini untuk siapa

Duh, maafnya untuk teman-teman F*cebook. Hmm, Untuk orang tua mana ya? Apa iya kita lebih banyak berbuat salah didunia maya dari pada didunia nyata. Begitu ya? hmm…*mikir. Ada beberapa kawan mengajak diskusi dan mengataan, kok sulit minta maaf sama ortu ya? Iya khan? *angguk2.. Dan ini saya rasa sudah kita buktikan sendiri. Memang sulit, dan celakanya lagi, tidak sedikit yang lebih duluan minta maaf  kepada kawan dari pada kepada orang tua. Pas Ramadhan misalnya. Dan lebih celakanya lagi, lebih duluan minta maaf pada kawan dunia maya, dari pada kawan didunia nyata. Hmm.. *menarik napas dalam2. Duh, teman, terpasa kukatakan hal ini..

F*cebook, sebegitunya kah??!

Hmm, Banyak yang langsung apatis nih membaca sub judulnya. Tapi tidaklah mengapa. Bukannya aku anti *b kawan. Bermain *b lah terus, selama itu memberikan manfaat. Tak cukup satu akun, buat duapun tak masalah, selama itu memberikan manfaat, kawan.

Hanya sedikit mengajak kita berpikir, untuk kemudian mengambil pelajaran, kawan. Sejauh mana *b bisa membantu permasalahanmu? Sehingga, ia menjadi tempatmu mengadu? Bukankah kita punya tempat mengadu yang paling topcer? Tempat mengadu yang bisa menyahuti? Tempat mengadu yang bisa mendengar dan melihat. Mahapun. :) . Lantas, tidak semua harus kita adukan ke *b, kawan.  Karena, jujur, akhirnya *b hanya membantu kita dalam tatanan wacana. Beruntung saran kawan bisa meringankan, celakanya, malah menambah masalah baru dengan bantuan-bantuannya. *berdasarkan pengalaman pribadi :)

Bahkan ada kawan yang mengatakan bahwa, kata waiyyakanasta’in dalam alfatihah, salah satunya sudah diambil f*. Kepadamulah kami meminta pertolongan.  Hmm.. Kuat begitu mengikat. Duh, kawan sebegitukah dunia maya mengikatmu? Cukuplah dunia maya hanya dunia Maya**. :D

NB : Kutahu, kau semakin beranggapan bahwa aku anti f*. Tapi tidak begitu kawan, malahan aku akan memarahimu jika kemudian kau meninggalkannya, padahal masih banyak manfaat yang kau terima dari pada mudharat yang kau peroleh. Namun, kalau kemudian aku tahu, telah banyak ia menggerus dirimu, dan kau tetap tidak meninggalkannya, tentu juga aku akan marah, sebagai temanmu tentunya, kawan :D