Berpulang ke Peraduan..

10 09 2009

mengejar ketertinggalan dengan pulkam

Akhirnya, Semua sudah terkumpul.

Sesuap Nasi, Segenggam B**l***, Sekeranjang E***. Tentu terumpul sebanyak standarku, bisa jadi standar kita beda. Sesuap kita, segenggam kita, ataupun sekeranjang kita bisa jadi tak lagi sama..

Untuk semua, mohon didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. (pulkamnya). :D . Untuk yang belum pulang, atau yang tidak bisa pulang, tak usah cemas. Dibelahan bumi manapun, selatan, timur, barat dan juga utara. Kubingkiskan kata-kata saja untukmu. Semoga kau redha, walaupun hanya dengan kata-kata. Itupun bukan kata-kataku, Kata2 temanku malahan, kawan.

Rindu Yang Mencengkam Di Hati
Menambah Pilu Di Sanubari Ini
Kenangan Lama Menerjah Kembali
Bahagia Terasa Ketika Kau Berada Di Sisi
Oh
Ibu
Ayah

Kini ku Hanya Tinggal SenDirian

Baru Kini ku Sedari
Segala Milik Ilahi
Tiada Yang Kekal AbaDi
Hanya Doa Dariku
Moga Rohmu Dirahmati

Amiin..

NB : Salam sejahtera untukmu, maafkan segala  khilaf dan salah, dan kupohn doa darimu. Pesan bunda temanku, untukmu kawan. Jnagn sampai seperti pepatah ini. “Dek harok jo manih tabu, bapupuah sampai ka ureknyo”

Bismillahirrahmanirrahim, Anak mudanya  mau kembali ke peraduan.

:D





Maaf Kawan, Kucopy Puisimu dan Kubedah..

3 09 2009

Baru saja melihat dan membaca  puisi.  Kerjaan kurang kerjaan kata teman yang lain. Tapi tidaklah mengapa, sedikit saling jalasat (berbagi). Apakah yang membuat menganggap ini puisi? Entahlah. Tapi, setidaknya aku menganggapnya puisi fren. Ini adalah edisi maaf kawan kedua. :D . Setelah sebelumnya, Maaf kawan, aku tak lagi bisa ikut dalam parade statusmu.

kehilangan dunia ini telah membayang-bayangiku,
sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini,
beberapa detik lagi,atw beberapa menit lagi mudah2an,
sudah cukup rasanya aku bersenang2 di dunia ini,
allah telah memanggilku…,
allah menyuruhku siap2
dan kita takkan bersua lagi disini,
aku sangat ingin dekat dengan rabbku,
teman2 f*cebook ku, maaf atas kesilapanku selama ini..
aku ingn bersih menghadap tuhanku…
mohon maaf nya…
dan aku juga tlah maafkan kesalahan teman2 semua klw seandainya ada salah…wassalam

Hmm. Sebenarnya, Tidak ada yang aneh dengan puisi itu. Bagus, merasa ajal senantiasa mengintai. Bukankah orang yang cerdas, juga adalah orang senantiasa mengingat kematian.  Kapanpun dan dimanapun. Karena memang begitulah hakikatnya kematian dan ajal.  Laa yasta’khirunaasaah. Walaa yastaqdimuun.

Yang ngebuat puisi

Sepertinya orang yang baru menyadari sesuatu hal yang besar. Ciee.. Sesuatu yang bisa dan telah menyita perhatiannya pada tuhannya. Ntah apalah namanya itu. Sepertinya f* yang menjadi pasal. (setelah berdiskusi dengan kawan lain di dunia maya). Kalau kata temanku yang lain, ini puisi orang yang kurang perhatian, walaupun aku tidak sependapat, namun tidak juga bisa menolaknya mentah-mentah. Entahlah. Karena, katanya, seseorang akan digubris oleh semuanya ketika ia sudah merasakan kematian begitu dekat. Dan semua akan mendekat dan mulai memperhatikan kita, jika ita membahas kematian kita. Dan sepertinya teori ini ada benarnya juga.

Maaf ini untuk siapa

Duh, maafnya untuk teman-teman F*cebook. Hmm, Untuk orang tua mana ya? Apa iya kita lebih banyak berbuat salah didunia maya dari pada didunia nyata. Begitu ya? hmm…*mikir. Ada beberapa kawan mengajak diskusi dan mengataan, kok sulit minta maaf sama ortu ya? Iya khan? *angguk2.. Dan ini saya rasa sudah kita buktikan sendiri. Memang sulit, dan celakanya lagi, tidak sedikit yang lebih duluan minta maaf  kepada kawan dari pada kepada orang tua. Pas Ramadhan misalnya. Dan lebih celakanya lagi, lebih duluan minta maaf pada kawan dunia maya, dari pada kawan didunia nyata. Hmm.. *menarik napas dalam2. Duh, teman, terpasa kukatakan hal ini..

F*cebook, sebegitunya kah??!

Hmm, Banyak yang langsung apatis nih membaca sub judulnya. Tapi tidaklah mengapa. Bukannya aku anti *b kawan. Bermain *b lah terus, selama itu memberikan manfaat. Tak cukup satu akun, buat duapun tak masalah, selama itu memberikan manfaat, kawan.

Hanya sedikit mengajak kita berpikir, untuk kemudian mengambil pelajaran, kawan. Sejauh mana *b bisa membantu permasalahanmu? Sehingga, ia menjadi tempatmu mengadu? Bukankah kita punya tempat mengadu yang paling topcer? Tempat mengadu yang bisa menyahuti? Tempat mengadu yang bisa mendengar dan melihat. Mahapun. :) . Lantas, tidak semua harus kita adukan ke *b, kawan.  Karena, jujur, akhirnya *b hanya membantu kita dalam tatanan wacana. Beruntung saran kawan bisa meringankan, celakanya, malah menambah masalah baru dengan bantuan-bantuannya. *berdasarkan pengalaman pribadi :)

Bahkan ada kawan yang mengatakan bahwa, kata waiyyakanasta’in dalam alfatihah, salah satunya sudah diambil f*. Kepadamulah kami meminta pertolongan.  Hmm.. Kuat begitu mengikat. Duh, kawan sebegitukah dunia maya mengikatmu? Cukuplah dunia maya hanya dunia Maya**. :D

NB : Kutahu, kau semakin beranggapan bahwa aku anti f*. Tapi tidak begitu kawan, malahan aku akan memarahimu jika kemudian kau meninggalkannya, padahal masih banyak manfaat yang kau terima dari pada mudharat yang kau peroleh. Namun, kalau kemudian aku tahu, telah banyak ia menggerus dirimu, dan kau tetap tidak meninggalkannya, tentu juga aku akan marah, sebagai temanmu tentunya, kawan :D





Salam Ramadhan

20 08 2009

Salam Ramadhan

Salam Ramadhan

.

.

Kawan, Titik  Itu (.) adalah aku kawan.

Yang sedang menghulurkan tangan padamu dari kejauhan

Untuk meminta maaf atas segala salah dan khilafku

Dengan setulus hati dan sepenuh jiwa, kawan.

Nampakkah olehmu kawan?

Tidak?!

Wajarlah,

Karena aku meminta maaf padamu dari kejauhan, kawan.

Bukan tak mampu,

Bukan tak mau mendatangimu, kawan

Karena akupun takut, lukamu bertambah

Kalau kita berjumpa lagi kawan.

Kawan, kutahu

Delapan kali aku bertutur, Sembilan kali kau tersakiti

Sembilan kali kita bersua, Sepuluh kali kau berduka

Sepuluh kali aku tertawa, Sebelas kali air matamu tumpah

Maafkan aku kawan, atas segala salah dan khilafku.

Sekali lagi,

Bukan tak mau, bukan tak mampu

Untuk bisa mendatangimu.





Kapan Aku Marah??!!

18 08 2009

Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,

Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.

Karena marah adalah masalah cita rasa, kawan.

Karena marah juga masalah ekspresi, kawan.

Dan aku adalah cita rasa, punya ekspresi

Sepertimu juga, kawan.

Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,

Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.

Apakah kau laki-laki yang keras, sekeras batu

Pun kau wanita, kawan.

Kau takkan tahu kapan aku marah, kawan.

Karena kau hadir, kawan

Bukan untuk kumarahi.

Dan akupun tak ingin kau pergi, kawan

Karena kumarahi.

Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,

Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.

Karena kutahu, kawan

Sekeras-kerasnya laki-laki, tentu kau tetap punya rasa, kawan

Wanita apalagi.

Yang seumur-umur hidupnya, 12.000 jam adalah untuk menangis.

Taklah lagi perlu aku marah, kawan

Karena kutahu,hari-harimu adalah hari-hari air mata.

Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,

Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.

Karena kutahu, bijak adalah  mengendalikan marah, kawan.

Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,

Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.

Karena kutahu, seperti apa orang bijak marah, kawan

Tak perlu semua tahu, kalau aku marah, kawan.

Cukup kau saja,  kawan.

Dan kau pun tahu, aku tak bisa marah padamu, kawan

Lantas kau takkan pernah jumpai, kawan

Kapan aku marah??!!

Medan, Penghujung Sya’ban 1430,

Sambil mengingat2 pesan Rasulullah.Laa Taghdab, Walakal Jannah. Jangan marah, dan untukmu syurga.

NB : Manajemen marah yang bagus:  yang marah tidak pernah kelihatan memarahi, tapi yang dimarahi, merasa dimarahi.  Yang tidak dimarahi, tidak tahu kalau kita lagi memarahi. Inti dari marah : Pesan kita sampai.

Kalaulah pesan marah kita bisa sampai tanpa marah, ngapain harus marah? Ternyata, orang yang jarang marah lebih ditakuti “keberangannya” dari pada yang sering marah. Makanya, ngapain lah aku marah, kawan.. :)

Kata-kata yang sulit dicerna, tapi lebih sulit melaksanakannya dari pada sekedar mencerna kata-katanya.  Sama-sama kita belajar mempraktekkannya :D





Gempa, Geliat Malam dan Pagi

16 08 2009

gempa sumbar91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

92. (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

93. Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

94. Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

95. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

(QS, Al A’raf : 91-99)

Gempa hari ini, bukanlah gempa yang baru ada hari ini. Jauh  sebelum kita kenal getaran sempurna, jauh sebelum kita kenal impuls, momentum, dan frekuensi kritis, gempa sudah ada. Lantas, gempa hari ini , sekali lagi, tidaklah baru ada hari ini. Semuanya, sebagai representasi sejarah lalu, yang kembali disajikan, tentunya untuk kita nikMATI!

Lagikah, gempa kembali menjadi keseharian?

Semoga, menepi segera

Sesegera menepinya buih disongsong ombak..





Terakhir dari Rendra

6 08 2009

Entah kenapa, ketika kemaren begitu terinspirasi memajang puisi rendra, dalam pasang.

Sekarang, hanya karyanya lagi yang masih tertinggal.  Setelah beberapa hari menyusl Mbah Surip. Berikut, dapat kita lihat puisi terakhir dari Rendra, begitu Menginspirasi..

“Tuhan, aku cinta padamu…”

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatalAku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga





Dalam Pasang*

4 08 2009

Dan pasang apalagikah
Yang akan mengenyahkan kita
Kegaduhan apalagi
Sekarat dan terbakar sudah kita oleh
Tahun-tahun penuh pertikaian
Ketakutan, dan perang saudara
Terpelanting
Dari kebuntuan yang satu
Kekebuntuan yang lain
Tapi tetap saja kita membisu
Atau berserakan menunggu ketakpastian
Telah mereka Hancurkan rumah harapan kita
Telah mereka campakkan jendela keluh dan ratap kita
Hingga tak ada yang musti kuceritakan padamu lagi
Tentang laut itu disana
Yang naik dan menarik ketenteraman ketepi
Kecuali serpih matahari dalam genggaman kesia-sian ini
Yang bisa menghanguskan kota ini lagi

Raja raja
Dan kediaman mereka yang bertangan besi
Kecuali, segala bual
Dan pidato kumal yang berapi-api
Antara kepedihan
Bila kesengsaran dan lapar tak tertahankan lagi
Kita adalah penduduk negeri
Yang penuh kesempatan dan mimpi
Tapi tak pernah lagi punya kesempatan dan mimpi
Kita adalah penduduk negeri
Yang penuh dengan pemimpin
Tapi tak seorangpun
Kita temukan dapat memimpin kita

*) Karya WS Rendra

Untuk musikalisasi puisi, unduh disini aja.





Karena Sakit adalah Anugerah..

30 07 2009
Senyum

Senyum

Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau yang lebih kecil dari duri, melainkan ditetapkan atasnya satu derajat kebaikan, dan dihapuskan darinya satu kesalahan (HR. Muslim)

Adakah yang pada kesehariannya menjadikan jadwal berobat adalah sebuah rutinitas? Dan rumah sakit akhirnya sebagai salah satu sarana umum yang kemudian menjadikan kita akrab dengannya.   Tentunya karena penyakit yang mengharuskan kita untuk itu.

Senantiasa, semoga dalam sakit kita selalu terselip lafaz kesyukuran sepenuh rasa. Begitulah muslim yang baik tentunya, dalam sakit bersyukur, dalam sehat apalagi. Karena, sungguh Allah tidak pernah pada akhirnya jadikan sakit dan sehat adalah keabadian. Semuanya akan dipergilirkan. Hanya saja, semuanya hanya masalah frekuensi, segalanya tentang intensitas. Ada yang ditakdirkan sakitnya, berjodoh dengan ruhnya. Selagi ruhnya masih bertengger pada jasadnya, maka sakit menjadi bagian yang tak terpisahkan atasnya.

Dan ada juga, orang-orang yang pada akhirnya, sakit menjadi hal yang langka atas jasadnya.  Itulah salah satu anugerah terbesar, kesehatan. Namun, tentunya bukan berarti sakit adalah malapetaka. Karena, sakit sejujurnya juga anugerah, sama besarnya dengan anugerah sehat. Betapa banyak, ayat dalam AlQur’an menyandingkan bersabar dan bersyukur. Sebagai analogi atas sehat dan sakit kita tentunya. Yang sehat, bersyukur, yang sakit bersabar. Yang sehat dapat keutamaan dengan kesyukurannya, dan yang sakitpun dapat pahala dengan kesabaran.

Orang sakit, bukan selamanya pertanda Allah tidak mencintai. Justru disanalah Allah selipkan pesan cintaNya. Disakitnya, Allah curahkan pesan kasih sayangnya. Mungkin sakit sebagai media untuk mereduksi dosa-dosa kecil kita yang menumpuk. Atau, juga sebagai peringatan, atau sebagai teguran.Makanya, sakit juga pada akhirnya adalah anugerah. Anugerah yang juga tak terhitung harganya.

Dan orang sehat, bukan selamanya pertanda Allah menyayanginya. Hati-hatilah dengan sehat kita. Karena, lebih banyak orang gagal dengan ujian kenikmatan.  Orang yang jarang sakit, hati-hatilah, karena seperti guyonan sahabat, biasanya yang jarang sakit, apabila datang “bagian” dia, biasanya langsung parah. Hati-hatilah. :D

besyukur hanya padamu
limpahan nikmat dan rahamatMu
kau pancarkan nur iman
kau pancarkan nurislam
kadangakala manusia keliru
bersyukur bila hajat tercapai
resah dan merasa kecewa
yang diimpi tak terbukti
(Nasyid Suara Firdaus, Sinar Kesyukuran, 1995)
NB : Diiringi gemuruh dada yang stereo karena batuk. Terima Kasih y Allah, karena kami tahu, syukur tak sebatas lisan.




Berdamai Dengan Kekurangan

18 03 2009

Kehidupan yang telah kita jalani, yang sedang kita jalani dan yang akan kita jalani, adalah sebuah aliran konstan antara pasang dan surut. Tidak ada yang berbeda, kecuali hanya masalah porsi yang kita terima. Baik merefleksikannya pada durasi,  ataupun pada keteraturan pola antara pasang dan surutnya itu. Seperti kita bangun adalah untuk tidur kembali, dan tidur untuk bangun kembali. Atau seperti datangnya siang adalah untuk menghadirkan malam, dan datangnya malam untuk menghadirkan siang kembali.

Ada  orang-orang yang memang Allah anugerahkan porsi surutnya, dalam timbangan kita melampaui batas dengan posisi pasang. Ada  juga yang merasa terbebani pada setiap lembaran-lembaran sejarahnya. Seolah-olah katanya entah kapan tuhan mau berdamai dengannya. Tentunya kurang bijak ketika kita hanya bisa menyalahkan tuhan. Karena Menyalahkan tuhan jelas tidak menjadi bagian dari solusi, bahkan bolehjadi akan menjadi bagian terbesar penyebab masalah.

Tidak ada salahnya saya rasa kita coba melist kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, semuanya. Dari yang kecil sampai pada yang besar. Saya yakin, diantara list yang telah ada, tidak banyak –bahkan tidak ada- kekurangan tersebut yang hanya milik pribadi kita. Bukankah yang lain juga mempunyai yang demikian? Kenapa kebanyakan kita lebih memilih meratapi dan menghukum diri dengan kekurangan yang ada. Sekarang mungkin perlu merevolusi diri atas kekurangan. Tidak ada jalan lain, kecuali Berdamai dengan kekurangan. Ya. Berdamailah dengan kekurangan.

Berdamai dengan kekurangan dalam arti kata bukan memposisikan kekurangan sebagai harga mati. Tapi memproyeksikannya pada posisi yang utuh, sebagai bahagian untuk memperbaiki diri. Ketimbang menghakimi diri sendiri, kiranya lebih berguna memikirkan “kekurangan-kekurangan” kita sebagai sebuah karakteristik batin yang utama yang ingin diberi perhatian.  Bukankah kita sudah sama-sama paham bahwa tidak ada yang bisa menghambat diri kita secara permanen kecuali diri kita itu sendiri bukan? Maka, sekali lagi mari berdamai dengan kekurangan.

Jujur, waktu yang kita alokasikan untuk meratapi kekurangan tidak sedikit. Mungkin lebih bijak kalau seandainya kita realokasikan pada bagian mensyukuri kelebihan yang ada. Sekarang cobalah list lagi untuk kelebihan kita yang orang lain tidak miliki. Saya rasa lebih mudah mencarinya dari pada kekurangan kita yang orang lain tidak miliki. Betulkah?

Terakhir , begitulah hidup ini. Senantiasa ada pergantian, langit tak selamanya mendung. Mendungpun tak selamanya hujan. Hujanpun tak selamanya badai. Badaipun tak selamanya membosankan. Ada badai yang enak untuk didengar. Badai pasti perlalu karyanya Chrisye. :)





Menikmati Keterasingan..

28 07 2008

dek ulah rayu sidaun siriah

bapisah pinang jo tampuaknyo (tiar ramon, Usah Dirato’i)

Sesekali, nikmatilah keterasingan. Seperti terasingnya Kaab ibn Malik. Yakinlah, pengasingan tidak lama. Pasti kan datang sapaan akrab penuh persahabatan. Bahkan sapaan dari Rabb nan Agung. []