Archive for the ‘Nyastra Dikit’ Category

Semoga kau jumpai purnama Sama dengan yang kutemukan Tanpa harus kau terawang Bahwa ini benar-benar purnama. Dan ini purnama kita Purnamaku dan purnamamu [] Bumi tak bertuan.

Besok tak usah kau pamit Hilang sajalah bak ditelan bumi Karena pamit hanya membuat cerita kita makin tak habis. Besok tak usah kau pamit Terbang sajalah bak asap Berawal tapi tak berujung Agar aku tak sadar telah kehilanganmu. Besok tak usah kau pamit Pergi sajalah dengan diam Agar aku tak mati  berharap Dapat menjamumu kembali. [...]

Kemudian aku tersentak. Pada pertanyaan awan. “Sampai kapan kau disini bersamaku?” Dan kurang jelas kupingku menerimanya Mungkin karena gemuruh, kilat dan sabetan kegaduhan langit. “Sampai kapan kau disini bersamaku?” ulang awan. Barulah jelas kuterima. Kaget, pastinya. Grogi, tentunya. Serobotan tuturmu mendarat didada ini. Ini bukan tanya, rasaku. Ia tak minta jawaban, bathinku. Hujan! “Sampai kapan [...]

Merpati itu telah jauh Tak lagi hinggap di ranting mati Dengar salamnya Maaf, kuharus pergi. Ranting ini makin kesepian Tanpa daun yang rimbun Ia hanya menunggu masa Kapan harus berjumpa dengan tanah. Ranting ini makin sepi Tanpa merpati Tanpa rindang Tanpa teduh…

Mutiara

Posted: October 5, 2011 in Carito Medan, catatan galau, Nyastra Dikit

Agar kau tahu. Agar kau paham. Setinggi-setinggi orang menyanjungnya diatas air. Masih saja ia dari dasar lautan. Agar kau tetap paham. Semahal-mahal mutiara. Tetap saja ia dari butiran pasir. Tiada mutiara yang hadir. Kecuali harus mengorbankan cangkang. Dan aku adalah cangkang. Tempat bersemedinya pasir. Tempat menjelmanya mutiara. Meraup pasir, merawat mutiara. Tapi tetap saja. Aku [...]

Dan mungkin hanya seinchi. Atau sehasta dan sedepa. Atau pada jarak yang tak terbilang. Biarlah kusemai. Semua rasa yang tak terdefenisi ini. Pada tenangnya telaga ini. Biarlah kutabur. Segenap rintihan asa tak bertuan ini. Pada luasnya hamparan telaga ini. Kau sebut ini danau? Aku lebih senang menyebutnya laut. Hanya saja, tuhan sengaja tak taburkan garam [...]

Hmm, ini bukan catatan “bahkan” yang pertama. Ada yang mendahuluinya… Begitulah, selalu ada yang membicarakan kita, bahkan pada dunia yang kita sudah lama meninggalkannya. Bahkan pada dunia yang mungkin saja kita tak akan tempati lagi. Pun semua orang disini, dinegeri ini. Semua baru begitu merasa kehilangan Mbah Surip ketika ia benar-benar telah hilang, semua begitu [...]

Lama tak menjumpai Blog ini… Dan inipun, kan kujumpai hanya dengan catatan pendek saja. Jalan cinta cadaver. Hee, sejak kapan cadaver mengenal cinta. Hanya sedikit hasil dari perenungan (main2). Tau kan cadaver ? itu lho, manusia yang awet (diawetkan :p). Horor.; Yang dipakai orang-orang medis untuk praktek, pengenalan, atau media pembelajaran. Kali saja ada defenisi [...]

Kereta Medan

Posted: September 28, 2010 in Carito Medan, Iseng doanK, Nyastra Dikit, Rihlah

[1] Ust. Fahmi disenggol kereta! Semua terkaget, dan sontak menanyakan sekarang kondisinya gimana. Yang pembawa berita memberikan penjelasan kalau cuma sedikit lecet2 saja. Tak usah dihiraukan katanya. Yang bertanya terheran2, dan semakin tak percaya dari mimiknya dan kemudian berkata, “begitulah orang-orang shaleh, selalu dilindungi Allah. Bahkan ketika diserempet keretapun hanya sedikit lecet2 saja”. Luar biasa! [...]

Rumah Kami…

Posted: September 16, 2010 in Carito Medan, Nyastra Dikit, Renungan

Kami adalah sebuah rumah Rumah luas dengan pintu terbuka Selalu setia menunggu tamu Dan kau,tamuku… Masuklah kerumah kami Yang setia menunggu dengan lima pintu. Masuklah, masuklah… Dan aku adalah keset Yang menyalami kakimu sebelum  masuk kerumah kami Lihatlah ke bawah sebelum kau tergoda kemilaunya Lampu-lampu hias rumah kami. Masuklah, masuklah… Duduklah diantara anjungan dan hidangan [...]