Pegangan Hidup, HAMKA (Sebuah telaah Dzikir Ma’tsurat)

12 08 2009

HAMKA Allahumma Inni a’udzubikaminal hamni wal hazan. Waa’udzubika minal ajzi wal kasal. Wa a ‘udzubika minal jubni wal bughl. Waa’udzubika min gholabatiddaini wa qahrirrijal..

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung padaMu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung padaMu dari dilingkupi hutang dan dominasi manusia.

Semoa kita akrab dengan doa tersebut. Doa yang senantiasa dilafalkan dalam dzikir Al-Matsurat tersebut, menjadi doa rutinitas yang dilafalkan Rasulullah. Lantas, sekarang kita akan mencoba mendengarkan bahasan dari Buya Hamka, mengenai bahasan tersebut.  Lengkap, dan dengan kekhasan sasta yang tinggi dari buya Hamka. Dengan bahasan yang sistematis, ada beberapa hal yang kita berlindung pada Allah tas hal tersebut:

1. Dari pada kesusahan, apabila orang telah susah, pikirannya akan tertumbuk. manusia tidak berjalan pada tempat yang datar saja. Mendatar, melereng, mendaki, menurun. Lantas apa yang disusahkan? Tak ada kusut yang tak selesai. Tak ada keruh yang tak jernih.

2. Dari pada duka cita, banyak hal yang menyebabkan dukacita. Kehilangan orang yang dicintai, barang yang dicari tak bertemu, dan lain lain. Kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap.

3. Dari pada lemah, lemah pikiran, tidak ada inisiatif, menyerah saja. Belum dihadapi suatu masalah, hati sudah mulai lemah.

4. Dari pada malas, angan angan banyak, tapi cita-cita mati. Angan-angan mau terbang, tapi sayap tidak punya. Ada pepatah orang tua-tua kita zaman penjajahan dulu kata Buya Hamka, ” mati belanda karena pangkat, mati cina karena kaya, mati keling karena makanan, mati melayu (Indonesia) karena angan-angan”

5. Dari pada sifat pengecut, yang menjadikan separoh dari kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah sangat bagus diungkapkan Buya Hamka disini. Semoga semakin menambah penasaran kita untuk kemudian mengunduh file audionya.

6. Dari pada sifat kikir, dikumpulkan harta banyak-banyak dengan maksud untuk menguasai harta. Akhirnya ia yang akan dikuasai oleh harta. Siang malam disibukkan harta, akhirnya faedahnya tidak didapat.

7. Dari pada hutang, maka Rasulullah pernah berkata, “iyyakum waddaina, Fainnahu hammum billaili, wamadzallatun finnahari”. Jagalah, sebisa mungkin tidak berhutang. Hutang itu, susah pada malam hari, Kalau siang hari badan terasa hina

8. Dari pada Dominasi manusia, tidak lagi punya kemerdekaan pribadi. personality yang dapat tegak, bak kata buya Hamka. Diri menjadi terjajah.

Dengan bahasan yang apik dan sebab musabab lahirnya do’a ini, Buya Hamka memberikan korelasi yang tepat diantara delapan hal diatas. Dengan rasionalisasi sempurna saya rasa. Sungguh, bahasa yang indah diungkapkan Buya Hamka, lengkap dengan kisah penuh hikmah. Tidaklah terlalu berlebihan, jika pada akhirnya gelar sastrawan, ulama, budayawan disandingkan pada Buya Hamka..

Silakan unduh file audionya, transfer dari pita kaset. Insya Allah, asli suara Buya Hamka (walaupun saya tidak pernah mendengar langsung suara Buya Hamka. hh :) ). Semoga, jauh lebih gamblang dan detail dari pada ringkasan yang saya buat. Unduh disini saja.





Belajar Dari Burung dan Cacing *

5 05 2009

Bila  kita  sedang  mengalami  kesulitan  hidup  karena  himpitan kebutuhan
materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita  lihat  burung  tiap  pagi  keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak  terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.  Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang
dan  bisa  membawa  makanan  buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup  buat  keluarganya,  sementara ia harus puasa. Bahkan seringkali ia pulang  tanpa  membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus berpuasa.

Meskipun  burung  lebih  sering  mengalami  kekurangan makanan karena tidak punya  kantor  yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia,  namun  yang  jelas  kita  tidak  pernah  melihat  ada burung yang berusaha  untuk  bunuh  diri.  Kita  tidak  pernah  melihat ada burung yang tiba-tiba  menukik  membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat  ada  burung  yang   tiba-tiba  menenggelamkan diri ke sungai.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.  Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.  Kita  lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

Tampaknya  burung  menyadari  benar  bahwa  demikianlah  hidup, suatu waktu berada  diatas  dan  dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan  di  lain  waktu  kekurangan.  Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang  marilah  kita  lihat  hewan  yang  lebih lemah dari burung, yaitu
cacing.  Kalau  kita  perhatikan,  binatang ini seolah-olah tidak mempunyai
sarana  yang  layak  untuk  survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai
kaki,  tangan,  tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.
Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia  mempunyai  perut  yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat  ,  dengan  segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi  untuk  mencari  rizki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang  kita  lihat  manusia.  Kalau  kita  bandingkan dengan burung atau
cacing,  maka  sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih
canggih.   Tetapi   kenapa  manusia  yang  dibekali  banyak  kelebihan  ini
seringkali  kalah  dari  burung  atau  cacing ? Mengapa manusia banyak yang
putus  asa  lalu  bunuh  diri  menghadapi kesulitan yang dihadapi ? Padahal
rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

*) Sebuah Catatan Tak Bertuan





Ada apa di Zulhijjah??

11 12 2007

Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.

 

DiZulhijjah, ada epik sejati Ibrahim dan Ismail

DiZulhijjah, ada ketulusan Cinta Siti Hajar

DiZulhijjah, ada ketulusan dan pengorbanan Ismail

DiZulhijjah, ada mutiara ketaatan Ibrahim

DiZulhijjah Qta, telah adakah epik sejati sesejatinya Ibrahim, ketulusan cinta setulusnya  cinta Siti Hajar, Mutiara ketaatan Ibrahim, atau ketulusan pengorbanan Ismail?? Semoga ada yang bisa kita petik dari Indahnya Syiroh Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail..

NB: Zulhijjah telah Terhitung