Mudah2an Boleh Pulang

1 11 2009

Semoga hari ini hari terakhir dapat jatah istirahatnya. Biar kembali bisa beraktivitas seperti biasa. Setelah empat hari berturut-turut mengalami penurunan trombosit, semoga hari ini bisa pulang. Kata dokternya, kalau trombosit udah cukup, langsung boleh pulang dah. Syarat boleh pulang cuma kalau trombosit udah cukup?? *haa??!

Sepertinya, ada satu syarat yang dokter lupa bilang. Kalau uang sudah cukup baru bisa pulang.. Hmm. Keduanya harus dicek kecukupannya.. Jadi syarat boleh pulang ada dua, kalau trombosit dan uang sudah cukup. Kalau dokter gak ingat masalah uangnya, itu karena tidak merasa dipusingkan dengannya. Beda jauh dengan pasien..

Malang Nasib si Pasien

Hmm.. Malangnya nasib si Pasien, trombositnya tidak selalu seiring dengan uangnya. “pas trombosit wak turun, pitih wak turun lo, pas lah naiak trombosit wak, eee, piti wak dak sato naiak do, tambah turun ka lai nyeh-lah nyo kupak sisaku-saku”

:D

Dahlia2, Siti Hajar,2 Nov 2009

“Nan manusuak jo manyeso diri, baurak baungkai cando janji-janji”






Lenggek Tujuah.. *)

15 10 2009
Padang, 2 Oktober 2009

Padang, 2 Oktober 2009

Photo ini saya ambil pada hari kedua pasca gempa, bertempat di mushalla Nurul Anwar (atau Anhar ya? Lupa2 inget, soalnyo bukan putra daerah). Ini hanya sesudut dari bagian mushalla, dan ada sekitar 6/7 “cok raun” (stop kontak) yang dipakai untuk mengecas hape. Seperti inilah kondisi pasca gempa. Rinci nya : krisis listrik secara mayoritas di Kota Padang, dan ini adalah sebuah gambar yang diabadikan pada waktu2 sholat, Bakda magrib. Dimana, semua menumpangkan hidup (listrik :D ) pada genset mushalla. Itupun diwaktu sholat, mengingat genset hanya dihidupkan jam2 sholat. Dan  itupun akhirnya dijatah untuk sepuluh menit saja (sepertinya).Mengecas hape antriannya bukan main–dengan maksud utama- berkabar dengan keluarga, dan kita semua bisa bayangkan seperti apa urgennya listrik hari itu?! Ditambah lagi dengan kelangkaan BBM untuk bahan bakar genset

Gambar tersebut, bisa sebenarnya lebih bertingkat lagi, dan lagi. Namun, daya genset mushallalah yang membatasi.  Untuk kita yang masih belum sempat –semoga tidak pernah–merasakan ini, maka bersyukurlah. Mungkin sebagai pengingat bagi kita, bijak dengan kelistrikan kita. Handphone kita, dan lainnya.O ya, tambahan, juga harus bijak dengan status kita (hh, kama pai e ko?). Jangan sampai teknologi memperbudak kita (moga nyambung :) ). Jujur, idealnya teknologi harus jadi budak kita, bukan sebaliknya.

Ironi, ditengah Duka

Begitu ramainya mushalla malam itu. Tapi yang disayangkan, semua datang tujuan utamanya hanya untuk bisa mengecas hape. Bukan suuzhan kawan, tapi melihat dari realita yang ada hari itu. Ketika waktu sholat isya masuk, kebanyakan pada hilang dan kemudian kembali lagi setelah isya. (laki2).

Parahnya lagi, perokok –ahlul hisap– tetap juga berjalan seperti apa adanya. Tak peduli dengan tulisan kecil dipojok mushalla, tentang berterima kasih pada yang tidak merokok. Pfuiih.. Kita orang macam apa? (melayu mode ON)..

Ditengah semuanya sibuk menghubungi keluarga, karib, kerabat (sambil ngecas hape) masih saja terdengar suara sumbang, seperti “yes,ado yang komen” atau “hmm, gampo ndak gampo, nan jaleh update status dulu”, atau “jiah, banyak e lai notifikasi e, mangomen status kami” dan ungkapan senada lainnya.. Saya tidak begitu paham entah status apa yang mereka bicarakan. ( :) ). Yang saya tahu, kita punya status yang sama, semuanya..

Teringat lagu Bang Ebiet G Ade.

Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Tidak ada salahnya kita renungkan, karena dia memang “Untuk kita Renungkan” bak kata Ebiet G Ade.

* = Lenggek Tujuah, (bahasa minang), bertingkat tujuh. Sebuah majas Hiperbola, menghidupkan cerita, supaya makin hidup..





Sedikit Berbagi Keindahan

8 10 2009
Kota Padang, h-1 gempa

Kota Padang, h-1 gempa

Berbagi keindahan, ditengah duka. Sedikit pelipur lara. Pengobat hati yang resah, penawar jiwa yang gundah. :)

Masih ada yang lain. Disini..





Sajak Hari Ini [2]

7 10 2009
Suatu saat,kan pasti terbelah

Suatu saat, pasti kan lebih terbelah..

Deru Ambulan, sebuah  sapaan keakraban

Tak ada lagi duka disana

Dalam sapaan keakraban..

Pintu rumah dalam tanah

Jendela dalam tanah

Duka dalam tanah

Suka pun dibawa dalam tanah..

NB: Silahkan unduh part2 disini.. Kampus Teknik Universitas Andalas dan daerah2 lainnya, Batang Tapakis, Padang Pariaman..





Sajak hari ini…

2 10 2009

hari ini, tak lagi hari-hari kemaren

hari ini, segalanya  satu

satu rona, hitam pekat

satu rasa, duka cita

satu kenangan, kesedihan

satu bentuk, puing-puing

pun tempat kembali,satu

bak dulu kukatakan

padamu, padanya, pun padaku…

[]

puing-puing, satu rupa

puing-puing, satu rupa

Satu rasa, duka cita

Satu rasa, duka cita

Indah, pada waktunya

Indah, pada waktunya

beberapa preview, setelah gempa. Tak sulit bagi Allah ‘memodifikasi’ nya. tak butuh waktu lama.

Kawan, beberapa visualisasi pasca gempa yang telah kubingkiskan. Unduh saja disini. Bukan hasil foto profesional, tapi hanya sekedar koleksi. Maaf kalau padanya tidak ada nilai estetikanya. Karena ia memang bukan untuk itu. []

NB: Lanjutan postingan insya Allah akan diteruskan.





H -8 Jam, Sebelum Gempa SumBar

2 10 2009

Sebelum gempa,sempat menikmati indahnya kota Padang dengan sahabat lama [sampai sekarang masih sahabat juga sih]. Dan sempat mengabadikan tempat, yang pascagempa tidak tahu bagaimana kondisinya, mengingat akses untuk kesana belum bisa.

Semoga tempat tersebut masih ada.. Amiin. Untuk kemudian, Allah berikan lagi kesempatan untuk kembali menikmati indahnya kota Padang bersama sahabat terbaik dari sana, suatu saat kelak.

sahabat terbaik,

sahabat terbaik

Pasca gempa, banyak bekas longsor disana. Wallahu a’alam, semoga tidak ada yang berubah darinya. Batu Busuk, rupamu tak seburuk namamu. Suatu saat, kami pasti merindukanmu..[]





Ied Mubarak… [ Sebuah Persembahan E Card ]

20 09 2009

Biarkan hari lebaran

Melerai hati yang lama resah

Demi sebuah persaudaraan

Rapatkan jurang yang menjadi pemisah

Berteduh dirimbunan Aidil Fithri

Mengutip Maghfirah dihalaman ilahi

Sesejuk embun dingin dipagi hari

Hanya setetes disyurga yang abadi…

NB : Kubingkiskan Kartu Lebaran untukmu, Kawan. Kuharap, kau bisa mengunduhnya. Jika berminat, Disini sudah kutitipkan.





Kandas Diawal

30 08 2009

Kandas diawal

Sekarang tinggal pengejaran

Dan menghitung rugi-rugi

Harus segera dikejar ketertinggalan

Karena dunia ini bisa luntur, Bos..





Salam Ramadhan

20 08 2009

Salam Ramadhan

Salam Ramadhan

.

.

Kawan, Titik  Itu (.) adalah aku kawan.

Yang sedang menghulurkan tangan padamu dari kejauhan

Untuk meminta maaf atas segala salah dan khilafku

Dengan setulus hati dan sepenuh jiwa, kawan.

Nampakkah olehmu kawan?

Tidak?!

Wajarlah,

Karena aku meminta maaf padamu dari kejauhan, kawan.

Bukan tak mampu,

Bukan tak mau mendatangimu, kawan

Karena akupun takut, lukamu bertambah

Kalau kita berjumpa lagi kawan.

Kawan, kutahu

Delapan kali aku bertutur, Sembilan kali kau tersakiti

Sembilan kali kita bersua, Sepuluh kali kau berduka

Sepuluh kali aku tertawa, Sebelas kali air matamu tumpah

Maafkan aku kawan, atas segala salah dan khilafku.

Sekali lagi,

Bukan tak mau, bukan tak mampu

Untuk bisa mendatangimu.





Gempa, Geliat Malam dan Pagi

16 08 2009

gempa sumbar91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

92. (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

93. Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

94. Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

95. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

(QS, Al A’raf : 91-99)

Gempa hari ini, bukanlah gempa yang baru ada hari ini. Jauh  sebelum kita kenal getaran sempurna, jauh sebelum kita kenal impuls, momentum, dan frekuensi kritis, gempa sudah ada. Lantas, gempa hari ini , sekali lagi, tidaklah baru ada hari ini. Semuanya, sebagai representasi sejarah lalu, yang kembali disajikan, tentunya untuk kita nikMATI!

Lagikah, gempa kembali menjadi keseharian?

Semoga, menepi segera

Sesegera menepinya buih disongsong ombak..