Yaaaa, ikatlah ilmu dengan menuliskannya
Kadang semua inginku mengharu biru untuk menulis. Tumpukannya kadang benar-benar melewati tinggi jasad, minta untuk segera dituangkan. Tapi itulah ide, lewat ketika kita belum bisa menyambutnya dengan baik. Berlalu lalang diruang ingatan, menari-nari di bilik memori. Saat kita ingin menariknya yang sedang lalu lalang, kadang kita telat. Sekejap saja, sekedipan mata. Kemudian ia hilang, benar-benar hilang. Tanpa pernah ia memberi pesan kapan akan kembali. Dan akhirnya luput, tak pernah tertuang baikā¦
Pada hari lain, kadang kita mengkhususkan waktu untuk menulis. Yaa, seolah ide yang lalu lalang biasanya itu tahu betul, bahwa jika ia lewat kita akan mencegatnya. Mak aketakutanlah siide untk berlalu lalang, kadang ia terpaksa mengendap-ngendap dalam semak-semak pikiran. Bersembunyi, dan mengintipĀ untuk mencari tahu kapan kita lengah.
Kemudian Lengahlah kita, barulah ia kembali masuk keruang ingatan, menari-nari lagi, berdansa ria. Tapi hanya untuk satu hal saja, memanas-manasi kita.
Ah, sudahlah. Apapun ceritanya kita harus mengikatnya, Salah satunya dengan menuliskannya. Yaa.. Tuliskanlah. Seperti ini.

