Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,
Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.
Karena marah adalah masalah cita rasa, kawan.
Karena marah juga masalah ekspresi, kawan.
Dan aku adalah cita rasa, punya ekspresi
Sepertimu juga, kawan.
Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,
Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.
Apakah kau laki-laki yang keras, sekeras batu
Pun kau wanita, kawan.
Kau takkan tahu kapan aku marah, kawan.
Karena kau hadir, kawan
Bukan untuk kumarahi.
Dan akupun tak ingin kau pergi, kawan
Karena kumarahi.
Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,
Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.
Karena kutahu, kawan
Sekeras-kerasnya laki-laki, tentu kau tetap punya rasa, kawan
Wanita apalagi.
Yang seumur-umur hidupnya, 12.000 jam adalah untuk menangis.
Taklah lagi perlu aku marah, kawan
Karena kutahu,hari-harimu adalah hari-hari air mata.
Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,
Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.
Karena kutahu, bijak adalah mengendalikan marah, kawan.
Kalaulah engkau tidak pernah melihat aku marah,
Bukan berarti aku tak bisa marah, kawan.
Karena kutahu, seperti apa orang bijak marah, kawan
Tak perlu semua tahu, kalau aku marah, kawan.
Cukup kau saja, kawan.
Dan kau pun tahu, aku tak bisa marah padamu, kawan
Lantas kau takkan pernah jumpai, kawan
Kapan aku marah??!!
Medan, Penghujung Sya’ban 1430,
Sambil mengingat2 pesan Rasulullah.Laa Taghdab, Walakal Jannah. Jangan marah, dan untukmu syurga.
NB : Manajemen marah yang bagus: yang marah tidak pernah kelihatan memarahi, tapi yang dimarahi, merasa dimarahi. Yang tidak dimarahi, tidak tahu kalau kita lagi memarahi. Inti dari marah : Pesan kita sampai.
Kalaulah pesan marah kita bisa sampai tanpa marah, ngapain harus marah? Ternyata, orang yang jarang marah lebih ditakuti “keberangannya” dari pada yang sering marah. Makanya, ngapain lah aku marah, kawan..
Kata-kata yang sulit dicerna, tapi lebih sulit melaksanakannya dari pada sekedar mencerna kata-katanya. Sama-sama kita belajar mempraktekkannya
y da,,,,
malam ini *ht dapat satu pelajaran yg mgkn lbh b’arti dr plajaran2 uda lainnya,,,,
orang yg g p’nah marah n ktika mereka sesekali marah itu memang lebih menakutkan dbanding orang yg sering marah,,,,,(pengalaman p******)
hari2 w*nita a’ hari2 airmata,,,( mungkin,,,,)
tp bukan b’arti a’ wajar ktika wanita slalu menangis,,,
mereka pun ingin bangkit dan kluar dr airmatany,,
dan bwt manajemen marahnya,,
ketika pesan kita sampai,,,alangkah indahnya ketika ada kata maaf mengakhiri pesan itu n lembaran baru pun dbuka,,,
Nice Posting Bro..
Sip bgt puisinya..
Ku copy yah..
tengkyu
Yups….
setuju dengan pernyataan di atas -> bahwa orang yang sesekali marah memang akan menakutkan dibandingkan dg orang yang keseringan marah..
walaupun kata “menakutkan” bisa diganti dengan kata sagan u membuat org yang jarang marah menjadi marah
kalo memang pesan dapat tersampaikan tanpa marah…
alangkah indahnya dunia, alangkah damai suatu rumah tangga, alangkah bahagia kita bersahabat…..
walaupun manajemen marah yang bagus: yang marah tidak pernah kelihatan memarahi, tapi yang dimarahi, merasa dimarahi. Yang tidak dimarahi, tidak tahu kalau kita lagi memarahi
tetapi setidaknya wanita lebih peka perasaan nya dibandingkan pria
wanita lebih bisa membaca nonverbal language dibandingkan pria
(Pease, 1993)
ditambah kuliah di **i*o**** selam 4 taun -
jadi agak tau wak stek ma urang yang marah, sakik ati dak bisa melawan, n urang yang gondok, urang yang merajuk ^^
tapi diatas semua itu
sorry yow
P.S
Jarang2 SeMaSa bilang sorry ma..
tapi baa lo lai
@ Poetri Toenggal
Ada pelajaran berharga ya?
Hmm, hyperbola bgt kata2nya.
hari2 w*nita a’ hari2 airmata,,,( mungkin,,,,)
Berdasarkan survey lho..
Tuh, kan ada linknya. Ilmiah bahasa kitanya.
alangkah indahnya ketika ada kata maaf mengakhiri pesan itu n lembaran baru pun dbuka..
“MAAF YA SEMUANYA, LAGIAN MAU RAMADHAN JUGA NI. AKU TAHU BANYAK SALAH, JADI MAAFIN YAAAA….”
udah kan?
*pr2 gmana gt..
@ Penikmat Sastra
Makasih Kunjungannya mas.
Kopy aj, gpp kq.
@ SeMaSa
Hmm. S.**i nya langsung yang datang.
Teori Pease, kan menurut dya. Bisa benar, bisa salah.
Namanya juga Asumsi.
Kalau masalah kliah dimana dan beraa lama, tidak juga jadi pengaruh tentunya.
Jarang2 minta *aaf?
Harus dibiasakan itu..
Ma*fkan aku yang banyak salah juga ya..
Teori + Pengalaman -> hipotesis diterima
Tapi Memang Bisa Salah N bisa Benar
tapi supaya keliatan lebih iliah za… ^_^
hehehehehe
i know what do u mean…..
tapi DIMAAFKAN
Alhamdulillah dimaafkan..
Tetap saja, itu sebuah teori.
Teori tidak berdiri atas aturan baku, ada kemelesetan teori, itulah yang kita kenal dengan toleransi..
Tak ada teori yang baku, kcuali teori dari Pencipta Lnagit dan Bumi.
Y kan?
Yups…
Hmm,
Bana da,
Tp kalo yg dmarahi t kebal n gak sadar dmarahi,?
Wanita menangis 12 rbu jam??
Riset sia t da?
Agak2 lebay d. . .
Berarti harus diganti cara mengekspresikannya.
Mungkin kurang tepat.
Wanita menangis kan ada d linknya, kan bisa diklik, ilmiah, dari survey.
Bukan perkara l*bay nggak L*bay..
Contoh ekspresi marah yg tdk memarahi t ap da?
banyak na tanyo kawan mah,,,
#!%$^$#&^*%&(&%&%<?<$@
Hmm. Laa Taghdab, Walakal Jannah
Bukan Marah yang tidak memarahi, Tetapi marah, cuma yang dimarahi aja yg tw klw qt lg mrah.
marah itu boleh, asal tidak di ekspresikan.. siapa yg bs menghilangkan rasa marah? tentu tdk ada bukan?
“jangan marah, jangan marah, jangan marah”
setelah rasa marah reda, baru sampaikan unek2 dg cara yg baik berupa nasehat atau sejenisnya.
oy, rasonyo ado postingan blog da david ko yg dihapus lah… hmm,, tentang pribahasa “makin berisi, makin merunduk”
ba a kok di hapus da?
Like Thisssss…
Tulisannya masih ada kok.
Tuh masih setia nampang diatas
nda obeh,,
bilo berang??
suko hati awak/..
Hmm. Yo sih, suko hati awak. Kan masing2 pnyo jatah.
Ndak specialist f*ad lai tu.
Kan pahalo Tangguang surang2.
yo bana ndak tau fit??
yo lah,,ancak tu..
tanyo lah banyak2!!!
lah lamo ndak login ka wordpress,,,
kapan aku marah?
jika setiap senyuman orang disekitarku membuatku selalu bersyukur pada Rabb ku
Ngapain Aku marah, kalau setiap marah hanya meninggalkan luka.
Hehe,
Ft Byk tanyo dek byk nan ndak tau fd,
Gtu. . .