Berdamai Dengan Kekurangan

18 03 2009

Kehidupan yang telah kita jalani, yang sedang kita jalani dan yang akan kita jalani, adalah sebuah aliran konstan antara pasang dan surut. Tidak ada yang berbeda, kecuali hanya masalah porsi yang kita terima. Baik merefleksikannya pada durasi,  ataupun pada keteraturan pola antara pasang dan surutnya itu. Seperti kita bangun adalah untuk tidur kembali, dan tidur untuk bangun kembali. Atau seperti datangnya siang adalah untuk menghadirkan malam, dan datangnya malam untuk menghadirkan siang kembali.

Ada  orang-orang yang memang Allah anugerahkan porsi surutnya, dalam timbangan kita melampaui batas dengan posisi pasang. Ada  juga yang merasa terbebani pada setiap lembaran-lembaran sejarahnya. Seolah-olah katanya entah kapan tuhan mau berdamai dengannya. Tentunya kurang bijak ketika kita hanya bisa menyalahkan tuhan. Karena Menyalahkan tuhan jelas tidak menjadi bagian dari solusi, bahkan bolehjadi akan menjadi bagian terbesar penyebab masalah.

Tidak ada salahnya saya rasa kita coba melist kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, semuanya. Dari yang kecil sampai pada yang besar. Saya yakin, diantara list yang telah ada, tidak banyak –bahkan tidak ada- kekurangan tersebut yang hanya milik pribadi kita. Bukankah yang lain juga mempunyai yang demikian? Kenapa kebanyakan kita lebih memilih meratapi dan menghukum diri dengan kekurangan yang ada. Sekarang mungkin perlu merevolusi diri atas kekurangan. Tidak ada jalan lain, kecuali Berdamai dengan kekurangan. Ya. Berdamailah dengan kekurangan.

Berdamai dengan kekurangan dalam arti kata bukan memposisikan kekurangan sebagai harga mati. Tapi memproyeksikannya pada posisi yang utuh, sebagai bahagian untuk memperbaiki diri. Ketimbang menghakimi diri sendiri, kiranya lebih berguna memikirkan “kekurangan-kekurangan” kita sebagai sebuah karakteristik batin yang utama yang ingin diberi perhatian.  Bukankah kita sudah sama-sama paham bahwa tidak ada yang bisa menghambat diri kita secara permanen kecuali diri kita itu sendiri bukan? Maka, sekali lagi mari berdamai dengan kekurangan.

Jujur, waktu yang kita alokasikan untuk meratapi kekurangan tidak sedikit. Mungkin lebih bijak kalau seandainya kita realokasikan pada bagian mensyukuri kelebihan yang ada. Sekarang cobalah list lagi untuk kelebihan kita yang orang lain tidak miliki. Saya rasa lebih mudah mencarinya dari pada kekurangan kita yang orang lain tidak miliki. Betulkah?

Terakhir , begitulah hidup ini. Senantiasa ada pergantian, langit tak selamanya mendung. Mendungpun tak selamanya hujan. Hujanpun tak selamanya badai. Badaipun tak selamanya membosankan. Ada badai yang enak untuk didengar. Badai pasti perlalu karyanya Chrisye. :)





Kalinco*

15 03 2009

Pernah dengar istilah kalinco? Istilah lama yang mungkin akan dipopulerkan lagi. Untuk apa? Tentu sebagai misi babaliak kasurau yang kita usung. ( :D afwan agak ngasal dikit). tapi cerita kalinco yang akan kita bahas memang ada sedikit hubungan dengan agenda besar tersebut.

Kalinco secara Terminologi

Kalinco, berasal dari bahasa padang. Sia-sia sepertinya kalau mencoba  untuk mencarinya dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Kalinco merupakan proses pencampuran antara dua unsur yang berbeda baik secara fisik ataupun pencampuran rasa dengan tujuan terciptanya rasa yang baru, lebih tepatya membuatnya seperti adonan. ( :D ) . Kalinco, sudah sangat jarang dipakai tentunya, makanya kita coba untuk memperkenalkan lagi istilah tersebut.

Nah, kalinco akan kita bahas sebagai pencampuran nilai-nilai kebaikan pada setiap bagian dari hidup kita, baik dalam dimensi tempat, waktu, ataupun dimensi-dimensi lainnya. ( 3 Dimensi Misalnya ). Kebaikan yang kita kenal, tidak harus memandang waktu, baik siang ataupun malam. Baik pagi ataupun petang.

Supaya nilai-nilai kebaikan terkalinco utuh dalam setiap tempat, setiap masa, dan disetiap dimensi-dimensi lainnya. :D

NB: Bahasa Indonesianya, terintegrasi

Bahasa Medannya, gomak

Bahasa barulak a yo? :)

Sedikit terkesan dipaksakan ya? Memang!!

Thanks u inspirasinya,